JAKARTA — Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menegaskan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa maupun menerima undangan untuk mengikuti kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda yang berlangsung di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10) kemarin. Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya video seorang perempuan yang mengenakan jas almamater dengan logo lama UBSI dalam kegiatan tersebut.
Wakil Rektor II Bidang Non Akademik UBSI, Adi Supriyatna mengatakan pihak rektorat maupun organisasi kemahasiswaan tidak pernah menerima informasi resmi mengenai undangan atau penugasan mahasiswa untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Baca Juga
Baznas Tambah 300 Beasiswa di Timteng, Mahasiswa Palestina Jadi Perhatian
Kedubes Ajak Mahasiswa Sampaikan Gagasan Hubungan RI-Korsel
Koalisi Mahasiswa Aksi di DPRD Jabar Resahkan Kondisi Bangsa
“Pihak UBSI, baik di tingkat Rektorat maupun Organisasi Kemahasiswaan, tidak pernah menerima undangan dan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada Kamis (29/10) tersebut,” ungkap Adi dalam keterangannya, Jumat (30/10).
Berdasarkan penelusuran awal, individu yang tampil dalam video tersebut tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif UBSI. Adi menjelaskan, pihak kampus juga memperoleh informasi dari kolom komentar media sosial bahwa jas almamater yang dikenakan merupakan atribut pinjaman.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menegaskan bahwa jas tersebut bukan almamater UBSI yang berlaku saat ini. Logo yang tertera merupakan identitas lama dari masa institusi masih berbentuk akademi dan sudah tidak digunakan sejak UBSI berstatus universitas pada tahun 2018. Selain logonya berbeda, warna jas tersebut juga tidak sesuai dengan almamater resmi yang digunakan saat ini.
“Kami menyayangkan penggunaan atribut yang identik dengan institusi kami oleh pihak yang bukan civitas academika UBSI. Saat ini tim kami masih menelusuri identitas yang bersangkutan, dan kami mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi,” jelas Adi.
Penelusuran Identitas Masih Berlangsung
Menanggapi nama panggilan Sari yang turut disebut dalam sejumlah pemberitaan, pihak kemahasiswaan UBSI tengah melakukan penelusuran lebih lanjut. Berdasarkan pemeriksaan awal terhadap data mahasiswa, nama tersebut tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif di UBSI.
Namun, untuk memastikan apakah yang bersangkutan pernah menjadi alumni UBSI, pihak kampus masih membutuhkan pencocokan data identitas yang lebih lengkap. Adi menegaskan bahwa penelusuran berdasarkan nama panggilan saja belum cukup untuk menarik kesimpulan mengenai status seseorang.
Oleh karena itu, UBSI meminta masyarakat agar tidak terburu-buru mengaitkan individu dalam video tersebut dengan mahasiswa atau alumni kampus sebelum proses verifikasi selesai.
Almamater Bukan Sekadar Atribut, tetapi Identitas dan Tanggung Jawab
Adi menjelaskan bahwa jas almamater dan logo lama tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah UBSI. Pihak kampus memahami apabila alumni masih menyimpan atribut tersebut sebagai kenang-kenangan dan bentuk kebanggaan terhadap almamater.
Meski demikian, atribut lama tersebut tidak lagi merepresentasikan identitas resmi UBSI sejak bertransformasi menjadi universitas pada 2018. Penggunaannya tidak semestinya dilakukan untuk mewakili atau mengatasnamakan institusi dalam kegiatan apa pun, terutama oleh pihak yang bukan bagian dari sivitas akademika.
“Almamater bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kehormatan dan tanggung jawab moral. Karena itu, kami mengimbau alumni maupun masyarakat untuk tidak meminjamkan atau menggunakan atribut tersebut di luar konteks yang semestinya,” tegas Adi.
Ia menambahkan, UBSI akan terus menyosialisasikan identitas visual yang berlaku agar masyarakat dapat membedakan atribut resmi universitas dengan identitas lama yang sudah tidak digunakan.
Komentar (0)