Inflasi AS dan Harga Minyak Jadi Penentu Nasib Rupiah hingga Akhir 2026

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah hingga akhir 2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan eksternal. Inflasi Amerika Serikat (AS), arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), serta tingginya harga minyak dunia menjadi tiga faktor utama yang perlu dicermati pasar dalam dua bulan terakhir tahun ini.

Ketiga faktor tersebut saling berkaitan. Harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong inflasi AS, sehingga memperkuat kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga pada Desember. Kondisi ini dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

 

Baca Juga :

Rupiah Dibuka Menguat, Tembus Level Rp18.105/USD

EBC Financial Group (EBC) menilai perkembangan data inflasi AS, khususnya Personal Consumption Expenditures (PCE), akan menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan The Fed menjelang akhir tahun.

Tekanan terhadap rupiah sendiri sudah terlihat. Pada perdagangan 28 Oktober 2026, rupiah ditutup di level Rp18.183 per dolar AS, menjadi penutupan terlemah sepanjang sejarah. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau JISDOR pada tanggal yang sama juga tercatat Rp18.183 per dolar AS.

Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari arah kebijakan moneter AS, tetapi juga dari kenaikan harga energi dunia.

“Sebagian besar tekanan terhadap rupiah berawal dari minyak, karena harga minyak yang lebih tinggi membuat Indonesia mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk impor bahan bakar dan mendorong kenaikan harga di AS. Kenaikan harga di AS memberi The Fed alasan untuk menaikkan suku bunga pada Desember, yang dapat menarik dana asing keluar dari pasar seperti Indonesia,” ujarnya.

Inflasi PCE AS Jadi Petunjuk Arah Suku Bunga The Fed

Salah satu perkembangan yang akan menjadi perhatian pasar adalah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode September pada 29 Oktober 2026. Indikator ini menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Jika inflasi PCE menunjukkan tekanan yang lebih kuat dari perkiraan, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkannya pada Desember dapat meningkat. Sebaliknya, inflasi yang melandai dapat memberikan ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan tanpa pengetatan tambahan.

Sebelumnya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Namun, keputusan tersebut tidak bulat karena dua anggota memilih kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase.

Kontrak berjangka suku bunga AS pada 27 Oktober menunjukkan peluang sekitar 83% kenaikan suku bunga pada Desember, meningkat dari sekitar 71% pada 23 Oktober.

Pasar juga akan mencermati data inflasi AS periode Oktober yang dijadwalkan rilis pada 10 November. Data tersebut menjadi salah satu informasi penting sebelum The Fed menggelar rapat kebijakan pada 8–9 Desember 2026.

Harga Minyak Dunia Berpotensi Menambah Tekanan terhadap Rupiah

Selain inflasi AS, perkembangan harga minyak dunia juga berpotensi menentukan arah rupiah hingga akhir tahun.

Harga minyak yang bertahan tinggi dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS Indonesia untuk membiayai impor energi. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar tekanan terhadap neraca perdagangan dan meningkatkan permintaan valuta asing di dalam negeri.

Pada 27 Oktober 2026, kontrak berjangka minyak Brent, yang menjadi salah satu acuan harga minyak global, ditutup di sekitar US$114 per barel.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperpanjang tekanan inflasi di AS. Data inflasi konsumen AS menunjukkan harga meningkat 3,7% secara tahunan hingga September, sementara komponen energi melonjak 20,4%. Adapun inflasi di luar pangan dan energi tercatat 2,6%.

Apabila harga energi terus meningkat, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan membuat The Fed memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi.

Bagi Indonesia, situasi tersebut menghadirkan tekanan ganda. Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi, sementara kebijakan moneter AS yang lebih ketat berpotensi memperkuat dolar AS dan mendorong arus modal keluar dari pasar domestik.

BI Menghadapi Tantangan Menjaga Stabilitas Rupiah

Kondisi eksternal tersebut juga menjadi tantangan bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dalam rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Namun, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% sebagai bagian dari upaya memperkuat daya tarik instrumen rupiah.

BI sebelumnya mengaitkan pelemahan rupiah dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, serta sentimen investor asing terhadap pasar saham Indonesia.

Rapat BI berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 17–18 November dan 15–16 Desember 2026. Kedua agenda tersebut akan menjadi momentum penting untuk melihat respons bank sentral terhadap perkembangan nilai tukar dan kebijakan The Fed.

Di sisi lain, arus keluar modal asing juga masih menjadi risiko. Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing melakukan jual bersih saham senilai Rp94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026.

Ketidakpastian terkait evaluasi status Indonesia dalam indeks MSCI juga berpotensi memengaruhi sentimen investor global terhadap aset domestik.

Dengan demikian, prospek rupiah hingga Desember akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan inflasi AS, keputusan suku bunga The Fed, dan harga minyak dunia.

Sana Ur Rehman menilai apabila harga minyak tetap tinggi dan inflasi AS tidak menunjukkan perlambatan, alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember akan semakin kuat. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah sekaligus mempersempit ruang gerak Bank Indonesia.

Sebaliknya, apabila harga minyak mulai turun dan inflasi AS mereda, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk stabil menjelang akhir 2026.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin Inflasi AS dan Harga Minyak Jadi Penentu Nasib Rupiah hingga Akhir 2026 Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/9K5yoAlK-inflasi-as-dan-harga-minyak-jadi-penentu-nasib-rupiah-hingga-akhir-2026

(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Anthropic Anggarkan Rp 49,85 M: Uang Keamanan CEO Dario Amodei
• 7 jam lalu
0
thumb
Dua Ganda Putri Indonesia Lolos ke Perempat Final Hylo Open 2026, Tiwi/Fadia dan Ana/Trias Menang Dua Gim Langsung
• 6 jam lalu
0
thumb
KPK Geledah Enam Perusahaan Terafiliasi PT Djarum
• 2 jam lalu
0
thumb
Andre Rosiade: Kualitas Air Bersih Padang Membaik, Berkat Dukungan Presiden Prabowo
• 22 jam lalu
0
thumb
Beeru Uji Laboratorium Sampel Stevia, Hasil Keluar 7 Hari Kerja
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.