Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mencapai sekitar 7.696 hektare (ha). Dari jumlah tersebut, sekitar 1.072 ha masih teridentifikasi belum padam berdasarkan pemantauan data satelit hingga Kamis (29/10).
Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
“Di Sumatera, perhatian utama masih pada Sumatera Selatan, khususnya beberapa lokasi di OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, serta pemantauan di Jambi dan kawasan Taman Nasional Way Kambas di Lampung,” kata Berton saat dihubungi kumparan, Jumat (30/10).
Sementara di Kalimantan, penanganan masih menjadi perhatian di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Upaya pemadaman dilakukan melalui operasi darat, dukungan udara, patroli, hingga pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.
“Di Kalimantan, Kalimantan Tengah masih menjadi salah satu wilayah prioritas, disusul Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur sesuai perkembangan kondisi lapangan,” ujarnya.
Berton merinci, berdasarkan pemantauan BNPB menggunakan data satelit hingga 29 Oktober 2026 pukul 17.00 WIB, total luas lahan terbakar mencapai sekitar 7.696 ha. Dari luasan tersebut, sekitar 1.072 ha masih teridentifikasi belum padam.
Selain data keseluruhan tersebut, BNPB juga mencatat perkembangan pemadaman di enam provinsi prioritas.
“Di enam provinsi prioritas, luas area terbakar yang menjadi dasar evaluasi operasi tercatat sekitar 5.750 hektare pada 27 Oktober. Hingga 29 Oktober, sekitar 4.373 hektare atau 76 persen dari luasan tersebut telah berhasil dipadamkan, sedangkan sekitar 703 hektare masih memerlukan penanganan,” ungkap Berton.
Di sisi lain, sejumlah wilayah telah menyelesaikan penanganan karhutla berdasarkan laporan pemantauan BNPB per 29 Oktober 2026. Wilayah tersebut meliputi Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Lampung, termasuk kawasan Taman Nasional Way Kambas.
“Namun, status tersebut perlu dipahami sesuai cakupan dan waktu pelaporan. Pemantauan tetap dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya titik api baru, terlebih hujan yang mulai turun belum menjamin seluruh potensi kebakaran telah berakhir,” tuturnya.
Berton menjelaskan, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah memang membantu pengendalian kebakaran. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat seluruh kebakaran padam.
“Hujan dan penurunan jumlah hotspot tidak otomatis berarti seluruh kebakaran telah selesai. Terutama pada lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan, pembasahan, dan pendinginan lanjutan,” kata Berton.
BNPB bersama pemerintah daerah dan instansi terkait akan terus melakukan patroli, pemadaman, serta pendinginan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul.
“Perkembangan ini menunjukkan adanya kemajuan dalam pemadaman. Namun, kami tidak ingin menyimpulkan bahwa ancaman karhutla telah berakhir. Kami masih memantau pertumbuhan api aktif baru dan mengantisipasi kemungkinan kondisi kering dalam beberapa minggu ke depan,” tutupnya.






Komentar (0)