BNPB: Banjir Landa Aceh-Sumut, Karhutla Masih Terjadi di Sumsel

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara dilanda banjir dalam beberapa hari terakhir. Di tengah bencana banjir tersebut, Sumatera Selatan masih menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, banjir di Aceh dan Sumatera Utara dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang meningkatkan debit sungai hingga meluap ke permukiman warga.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, dalam beberapa hari terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara dilanda banjir dalam beberapa hari terakhir. Banjir di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara akibat hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan peningkatan debit sungai dan meluapnya air ke permukiman warga,” kata Berton saat dihubungi kumparan, Jumat (30/10).

Di Provinsi Aceh, kata Berton, banjir terjadi di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Selatan. Di Gayo Lues, tepatnya Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, banjir pada 28 Oktober berdampak terhadap sekitar 400 kepala keluarga (KK) atau 1.824 jiwa. Sebanyak 400 rumah dilaporkan terdampak.

Sementara di Aceh Selatan, banjir melanda Gampong Lhok Raya dan Cot Bayu di Kecamatan Trumon Tengah serta Gampong Padang Harapan di Kecamatan Trumon. Data sementara mencatat sekitar 60 KK atau 232 jiwa terdampak, dengan 132 jiwa di antaranya mengungsi.

Adapun di Sumatera Utara, banjir dilaporkan terjadi di Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan, serta Kabupaten Serdang Bedagai.

Dampak terbesar tercatat di Kabupaten Deli Serdang dengan sekitar 7.615 KK atau 29.730 jiwa terdampak dan 596 jiwa mengungsi. Di Kota Medan, sebanyak 2.405 KK atau 7.930 jiwa terdampak, dengan sekitar 2.200 rumah terdampak.

“Di Kota Binjai, tercatat sekitar 1.014 kepala keluarga atau 3.885 jiwa terdampak dan sekitar 1.014 rumah terdampak. Adapun di Serdang Bedagai, pendataan awal mencatat 31 kepala keluarga dan 31 rumah terdampak, disertai kerusakan pada satu jembatan dan satu akses jalan,” jelas Berton.

Berton menjelaskan, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berlangsung cukup lama menjadi faktor utama pemicu banjir. Namun, kondisi daerah aliran sungai (DAS), kapasitas sungai dan drainase, serta kondisi tanggul juga memengaruhi luasnya dampak banjir.

Di Kabupaten Deli Serdang, misalnya, meluapnya Sungai Sei Putih dan Sei Belawan disertai jebolnya tanggul turut menyebabkan banjir. Sementara di Kota Binjai, peningkatan debit Sungai Bingai dan Sungai Mencirim memicu genangan di sejumlah wilayah.

“Namun, kita perlu melihat persoalan ini secara menyeluruh. Hujan merupakan pemicu langsung, sedangkan kondisi DAS, kapasitas sungai dan drainase, kondisi tanggul, serta karakteristik geografis dapat memengaruhi seberapa besar banjir terjadi dan seberapa luas dampaknya,” kata Berton.

Sumsel Masih Alami Karhutla

Di sisi lain, penanganan karhutla di Sumatera masih berlangsung, terutama di Sumatera Selatan. Sejumlah lokasi yang menjadi perhatian BNPB berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Pemantauan juga dilakukan di Jambi dan kawasan Taman Nasional Way Kambas di Lampung.

“Di Sumatera, perhatian utama masih pada Sumatera Selatan, khususnya beberapa lokasi di OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, serta pemantauan di Jambi dan kawasan Taman Nasional Way Kambas di Lampung,” ungkapnya.

Berton mengatakan, hujan mulai membantu pengendalian kebakaran di sejumlah wilayah. Meski begitu, kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan seluruh kebakaran telah padam. Terlebih, pada lahan gambut, bara api masih berpotensi bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali menyala ketika kondisi mengering.

“Kami belum bisa menyatakan seluruh wilayah Sumatera terbebas dari karhutla. Meskipun hujan sudah mulai turun di sejumlah wilayah, pemantauan terhadap titik api baru dan potensi kebakaran aktif tetap kami lakukan bersama BPBD, pemerintah daerah, dan instansi terkait,” tuturnya.

Berdasarkan pemantauan BNPB dengan data satelit hingga 29 Oktober 2026 pukul 17.00 WIB, tercatat sekitar 7.696 hektare lahan terbakar secara keseluruhan di Indonesia. Dari luasan tersebut, sekitar 1.072 hektare masih teridentifikasi belum padam.

Sementara itu, pada enam provinsi prioritas, luas area terbakar yang menjadi dasar evaluasi operasi tercatat sekitar 5.750 hektare pada 27 Oktober. Hingga 29 Oktober, sekitar 4.373 hektare atau 76 persen telah berhasil dipadamkan, sedangkan sekitar 703 hektare masih memerlukan penanganan.

“Perkembangan ini menunjukkan adanya kemajuan dalam pemadaman. Namun, kami tidak ingin menyimpulkan bahwa ancaman karhutla telah berakhir. Kami masih memantau pertumbuhan api aktif baru dan mengantisipasi kemungkinan kondisi kering dalam beberapa minggu ke depan,” kata Berton.

BNPB bersama pemerintah daerah dan instansi terkait akan terus melakukan patroli, pemadaman, serta pendinginan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hashim Ungkap Pemerintah Berencana Beri Rekening Bank Gratis untuk Warga Usia 17 Tahun ke Atas, Bansos Langsung Ditransfer
• 12 jam lalu
0
thumb
Jabar siapkan beasiswa ITB dan asuransi warga cegah pinjol
• 17 jam lalu
0
thumb
Serangan Drone Rusia Hantam Stasiun Kereta di Ukraina, 13 Orang Tewas
• 4 jam lalu
0
thumb
Ning Lia: Gen Z Harus Jadi Penggerak, Bukan Sekadar Pemilih dalam Demokrasi
• 2 jam lalu
0
thumb
Wall Street Ditutup Melemah, Investor Cermati Belanja AI dan Data Inflasi AS
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.