34 Persen Manajer Keuangan di Indonesia Sudah Gunakan AI Agent

medcom.id
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pengelolaan keuangan perusahaan semakin berkembang di Indonesia. Bahkan, tingkat penggunaan AI agent oleh manajer keuangan korporasi di Tanah Air tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata Asia Pasifik.

Berdasarkan survei HSBC bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026, sebanyak 34% manajer keuangan di Indonesia telah memanfaatkan AI agent untuk mengotomatisasi proses transaksi treasury. Angka tersebut melampaui rata-rata Asia Pasifik yang tercatat sebesar 17%.
 

Baca Juga :

Manajer Investasi Bidik Gen Z Mengenal Reksa Dana


Tingginya adopsi teknologi tersebut sejalan dengan optimisme pelaku usaha terhadap peran AI dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Sebanyak 84% responden di Indonesia memperkirakan teknologi AI akan memberikan manfaat besar bagi fungsi treasury dalam tiga tahun ke depan.

Optimisme tersebut juga lebih tinggi dibandingkan tingkat regional. Rata-rata responden Asia Pasifik yang memiliki pandangan serupa mencapai 72%. Sementara itu, perusahaan di Indonesia yang sama sekali belum mengadopsi AI untuk fungsi treasury hanya sebesar 7%, lebih rendah dari rata-rata kawasan sebesar 19%.

Head of Global Payments Solutions, Asia ex Greater China HSBC, Manoj Dugar, mengatakan pemanfaatan AI kini telah memasuki tahap implementasi setelah sebelumnya lebih banyak menjadi bahan eksplorasi perusahaan.

Menurut dia, perusahaan perlu memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, terutama dalam aspek pengelolaan data, tata kelola, dan sistem pengendalian. Fondasi tersebut diperlukan agar penerapan AI dapat diperluas dan menghasilkan manfaat secara lebih cepat.

“Pembicaraan mengenai AI telah bergeser dari sekadar rasa ingin tahu menjadi kapabilitas. Pembeda utamanya kini terletak pada implementasi, yaitu membenahi fondasi seperti data, tata kelola, dan kontrol, sehingga AI dapat diterapkan dalam skala lebih besar dan memberikan dampak dengan cepat,” ujar Manoj.

Adopsi teknologi tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pengelolaan transaksi keuangan di tengah fluktuasi nilai tukar dan suku bunga menjadi salah satu prioritas utama korporasi di Indonesia maupun negara-negara Asia Pasifik dalam 12 bulan mendatang.

Meski tingkat adopsinya relatif tinggi, perusahaan di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala untuk memperluas penggunaan AI. Tantangan terbesar berasal dari integrasi teknologi baru dengan sistem yang sudah digunakan perusahaan.

Survei HSBC mencatat sebanyak 80% responden Indonesia mengidentifikasi integrasi sistem sebagai hambatan utama. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 70%.

Selain persoalan integrasi, keterbatasan tenaga ahli dan risiko implementasi masing-masing menjadi perhatian 40% responden di Indonesia. Sementara itu, faktor biaya disebut oleh 33% responden dan kualitas data menjadi kendala bagi 27% perusahaan.

Tantangan serupa juga terlihat dalam upaya membangun sistem pengelolaan keuangan secara real time. Sebanyak 48% manajer keuangan di Indonesia menilai proses memperoleh persetujuan anggaran untuk penerapan sistem baru menjadi salah satu hambatan terbesar.

Risiko keamanan serta kesulitan meyakinkan para pemangku kepentingan mengenai manfaat perubahan teknologi juga menjadi persoalan. Kedua faktor tersebut masing-masing disebut oleh 37% responden di Indonesia.

Di tingkat regional, integrasi dengan sistem yang sudah ada juga menjadi tantangan paling dominan dalam adopsi AI. Selain itu, keterbatasan tenaga ahli menjadi perhatian 47% responden Asia Pasifik, sedangkan biaya implementasi disebut oleh 44% responden. Persoalan kualitas data turut menjadi hambatan bagi 35% perusahaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan. Perusahaan juga perlu memastikan data yang tersedia berkualitas, memiliki konteks yang memadai, serta melalui proses validasi oleh manusia.

Dengan demikian, AI lebih tepat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan, bukan menggantikan sepenuhnya peran manusia dalam menentukan kebijakan keuangan perusahaan.

Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, mengatakan perusahaan di Indonesia kini mulai beralih dari tahap mempertimbangkan manfaat AI menuju upaya mempercepat penerapannya dalam kegiatan operasional.

Dia menilai perbankan juga akan memiliki peran yang semakin luas dalam mendukung transformasi tersebut. Bank tidak hanya menyediakan layanan transaksi keuangan, tetapi juga menjadi mitra strategis perusahaan dalam membangun sistem pengelolaan treasury yang lebih cerdas atau intelligent treasury management.

“Perusahaan di Indonesia tidak lagi bertanya apakah AI penting, melainkan fokus pada akselerasi adopsi AI. Bank akan semakin berperan sebagai mitra strategis dalam ekosistem manajemen keuangan perusahaan yang cerdas (intelligent treasury management), tidak lagi hanya menjadi penyedia layanan perbankan,” ujar Anne.

Di sisi lain, percepatan transaksi keuangan secara real time turut meningkatkan perhatian perusahaan terhadap ancaman keamanan digital. Dalam survei tersebut, transaksi pembayaran atau payment dinilai sebagai aktivitas treasury yang paling rentan terhadap risiko serangan siber, baik di Indonesia maupun di 10 dari 11 pasar Asia Pasifik yang diteliti HSBC.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, perusahaan di Indonesia mulai memprioritaskan penguatan teknologi keamanan transaksi. Sebanyak 77% responden menilai investasi teknologi perlu ditingkatkan guna melindungi aktivitas pembayaran perusahaan.

Angka tersebut jauh melampaui rata-rata Asia Pasifik sebesar 57% dan menempatkan Indonesia pada posisi ketiga tertinggi di kawasan. Hal ini memperlihatkan bahwa di tengah percepatan digitalisasi treasury, perusahaan tidak hanya mengejar efisiensi dan kecepatan transaksi, tetapi juga perlu memperkuat perlindungan terhadap risiko siber.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin 34 Persen Manajer Keuangan di Indonesia Sudah Gunakan AI Agent Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/lKY3pvXb-34-persen-manajer-keuangan-di-indonesia-sudah-gunakan-ai-agent

(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Potensi Outflow Rp60 Triliun dari 9 Saham MSCI BBCA-BRPT Cs jika Indonesia Downgrade
• 6 jam lalu
0
thumb
Sumber Air di Way Kambas Mengering, 5 Harimau Terekam Kamera Minum dari Baskom
• 2 jam lalu
0
thumb
Pramono soal Rapelan Gaji PJLP Jakarta: Mudah-mudahan Hari Ini Sudah Bisa Dibayarkan
• 5 jam lalu
0
thumb
Jelang Duel Kontra Persita, Marcos Reina Doktrin Pemain Persik Agar Tampil Tenang dan Klinis
• 4 jam lalu
0
thumb
Petugas Kehutanan Tewas Tertimpa Pohon saat Padamkan Karhutla di Toraja Utara | KOMPAS PETANG
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.