Kolaborasi regional negara-negara ASEAN berkomitmen mengurangi emisi metana di industri minyak dan gas bumi (migas). Langkah ini bisa sekaligus meningkatkan pasokan gas bumi.
Programme Manager dan Senior Officer ASEAN Regional Programs di AKCMM (The ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation), Jihyun Kang, mengatakan tata kelola metana membutuhkan koordinasi lintas sektor dan lembaga.
Kang menjelaskan, setiap negara memiliki prioritas, kapasitas, dan tantangan berbeda dalam menekan emisi metana. Karena itu, kerja sama ASEAN diarahkan pada pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas, dukungan investasi, pemanfaatan teknologi, pelibatan sektor swasta, serta penguatan sistem data emisi.
“Koordinasi sangat penting karena tata kelola metana tidak ditangani oleh satu kementerian atau lembaga saja,” ujar Kang dalam gelaran 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Council Meeting 2026, dikutip Jumat (30/10).
Menurut dia, keterlibatan industri menjadi kunci agar strategi regional dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata. Pemerintah dapat membangun arah kebijakan dan jaringan kerja sama, tetapi pelaksanaan mitigasi juga membutuhkan investasi serta tindakan langsung dari perusahaan.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa perusahaan ingin mendorong pertukaran pengetahuan, teknologi, serta kolaborasi program pengurangan emisi yang konkret antarnegara anggota ASEAN maupun mitra global lewat perhelatan tersebut.
"Hal ini sejalan dengan Dual Growth Strategy Pertamina, di mana kami berkomitmen menjaga dan meningkatkan produksi energi fosil demi ketahanan energi nasional, sembari secara paralel mengakselerasi bisnis hijau dan aksi dekarbonisasi untuk menekan emisi metana secara agresif,” jelas Baron.
Komitmen dekarbonisasi dibuktikan Pertamina melalui kinerja sepanjang semester I 2026, capaian dekarbonisasi perseroan menembus 118 persen dari target tahunan. Keberhasilan ini dicapai melalui beberapa program utama seperti bioethanol, biofuel, dan efisiensi energi.
Reduksi Metana Bisa Tambah Produksi GasLegal Advisor and Regulatory Analyst International Energy Agency (IEA), Sadhika Gulati, menilai pengurangan emisi metana juga memberikan manfaat ekonomi bagi industri migas. Selain menekan emisi, upaya tersebut dapat membantu mengoptimalkan gas yang sebelumnya terlepas akibat kebocoran atau dibakar melalui praktik flaring.
“Sebagian besar pengurangan emisi metana dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bersih tambahan bagi operator,” kata Sadhika.
IEA memperkirakan lebih dari 35 juta ton metana secara global, atau sekitar 30 persen emisi metana dari sektor bahan bakar fosil pada 2025, berpotensi dikurangi tanpa biaya bersih tambahan.
Di kawasan ASEAN, potensi pengurangan tanpa biaya bersih tambahan tersebut mencapai sekitar 60 persen dari emisi metana sektor minyak dan gas.
Sadhika menambahkan, mitigasi metana di sektor minyak dan gas global berpotensi menyediakan hampir 100 miliar meter kubik gas per tahun. Sementara itu, penghapusan praktik flaring yang bukan untuk kondisi darurat berpotensi membuka tambahan pasokan hampir 100 miliar meter kubik per tahun.
Potensi ini, menurut dia, memperlihatkan bahwa pengurangan emisi dapat berjalan seiring dengan upaya memperkuat ketahanan energi.
ASCOPE Council Meeting merupakan pertemuan tingkat tinggi tahunan konsorsium perusahaan migas nasional anggota ASEAN. Forum council meeting ke-51 ini diselenggarakan oleh Pertamina selaku host dan ASCOPE Secretary In Charge (ASIC).






Komentar (0)