Hashim Wanti-wanti Rupiah Bisa Jeblok ke 22.000 per US$, Ini Kata BI

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti merespons pernyataan Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Hashim Djojohadikusumo yang menyebut nilai tukar rupiah berpotensi merosot hingga 22.000 per dolar AS. Destry memastikan bank sentral terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke, dibandingkan dengan peer group kita,” kata Destry kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/10). 

Selain bergantung dari supply dan demand, pergerakan rupiah juga disebutnya bergantung pada persepsi. Ia mencontohkan kebijakan global yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, salah satunya keputusan bank sentral AS, The Fed. 

“Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi Di global, Amerika gak naikkan suku bunga The Fed, Dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita,” katanya. 

Di sisi lain, Destry menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas agar  terciptanya iklim ekonomi yang kondusif.  “Untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” kata dia. 

Hashim sebelumnya memperingatkan risiko pelemahan rupiah hingga ke level 22.000 per dolar AS imbas gejolak MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Hashim mendorong pemerintah segera menyelesaikannya untuk menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan.

Menurut dia, penurunan kepercayaan investor berpotensi mendorong arus keluar modal asing dan menekan nilai tukar rupiah. Jika investor asing menarik dananya dari pasar modal Indonesia, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. 

“Rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa jadi 20-21 ribu. Ada yang bilang 22 ribu,” ujar Hashim dalam Rapimnas Kadin, di Jakarta, Kamis (29/10). 

Hashim juga mengingatkan pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran pinjaman luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian apabila terjadi bersamaan dengan keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.

"Saya pernah diskusi sama Pak Rosan (CEO BPI Danantara), kalau itu terjadi rupiah bisa 21.000-22.000 per dolar AS, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," kata Hashim. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bahlil: Gara-gara Minyak, Terjadi Ketegangan Dimana-mana, Ini Bahaya
• 16 jam lalu
0
thumb
Anwar Abbas Bela Eks Menag Yaqut di Sidang, Ungkap Manfaat Pembagian Kuota Haji Tambahan
• 12 jam lalu
0
thumb
Silmy Karim Didakwa Terima Gratifikasi Rp33,94 Miliar, Sebagian Berbentuk Saham
• 7 jam lalu
0
thumb
4 Calon Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Menuju Piala Asia 2027, Ada Wonderkid Arsenal dan Striker 15 Gol!
• 11 jam lalu
0
thumb
Dukung Kapolri, SSDM Polri Perkuat Kompetensi Calon Direktur dan Kapolres
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.