Rupiah Dekati Level Rp18.200, Apa Dampaknya bagi Pengeluaran Rumah Tangga?

kompas.tv
4 jam lalu
Cover Berita
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (Sumber: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.184 per dolar AS berpotensi membawa konsekuensi bagi pengeluaran masyarakat. 

Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi ini berisiko semakin membebani daya beli rumah tangga.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,15 persen menjadi Rp18.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10/2026), dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.156 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, ketegangan geopolitik turut mempertahankan harga minyak dunia pada level tinggi.

"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas 115 dolar AS per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2026), seperti dikutip dari Antara. 

Baca Juga: Kemenhaj Rilis Jemaah Berhak Lunas Haji Reguler 1448 H/2027 M, Ini Daftar Namanya

Pelemahan Rupiah Pengaruhi Biaya Hidup Masyarakat 

Lantas, bagaimana pelemahan rupiah dapat memengaruhi harga barang dan biaya hidup masyarakat?

1. Harga Barang Impor Berpotensi Naik

Dampak paling langsung dari pelemahan rupiah adalah meningkatnya biaya pembelian barang dari luar negeri yang menggunakan dolar AS.

Sebagai gambaran, barang impor seharga 100 dolar AS membutuhkan biaya Rp1.815.600 ketika kurs berada di level Rp18.156 per dolar AS.

Namun, ketika rupiah melemah menjadi Rp18.184 per dolar AS, biaya pembelian barang yang sama meningkat menjadi Rp1.818.400.

Selisihnya mencapai Rp2.800 hanya dari perubahan kurs tersebut, belum termasuk ongkos pengiriman, pajak, dan biaya lainnya.

Produk elektronik, komponen komputer, telepon seluler, hingga peralatan rumah tangga yang berasal dari luar negeri termasuk barang yang berpotensi terdampak.

Baca Juga: Rupiah Dekati Rp18.200 per Dolar AS, Menko Airlangga Yakin Tak Tembus Rp19.000

2. Harga Pangan Bisa Ikut Tertekan

Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor bahan pangan, terutama komoditas yang pasokannya masih bergantung pada pasar internasional.

Sejumlah komoditas seperti gandum dan kedelai memiliki keterkaitan dengan harga global dan pergerakan nilai tukar.

Kenaikan biaya impor gandum, misalnya, dapat menambah tekanan biaya produksi tepung terigu, mi, dan roti. Sementara itu, kedelai impor menjadi salah satu bahan baku penting bagi industri tahu dan tempe.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Bantah Tak Punya Uang Bayar Klaim Rumah Sakit

3. Harga BBM dan Biaya Transportasi

Sektor energi menjadi salah satu bidang yang sensitif terhadap pelemahan rupiah, terutama ketika harga minyak dunia juga meningkat.

Pembelian minyak mentah dan produk bahan bakar minyak (BBM) dari pasar internasional membutuhkan pembayaran dalam valuta asing.

Ketika dolar AS menguat, biaya impor energi dalam rupiah berpotensi meningkat, terlebih jika harga minyak dunia berada pada level tinggi.

Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap biaya pengadaan BBM, subsidi energi, dan kompensasi pemerintah.

Meski demikian, kenaikan biaya impor tidak otomatis membuat harga BBM bersubsidi meningkat karena penetapan harganya merupakan kebijakan pemerintah.

Adapun harga BBM nonsubsidi dapat dipengaruhi perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar, serta kebijakan penetapan harga masing-masing badan usaha.

Apabila biaya energi dan transportasi meningkat, dampaknya dapat meluas ke ongkos distribusi barang dan biaya logistik.

Baca Juga: Kelakar SBY: Kalau Pak Prabowo Batuk Hati-Hati, Nilai Tukar Rupiah & Saham Bisa Jatuh

4. Biaya Produksi Industri Meningkat

Pelemahan rupiah juga berpotensi menambah beban perusahaan yang menggunakan bahan baku, mesin, maupun komponen impor.

Perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang dengan harga dolar AS yang sama.

Kenaikan biaya produksi tersebut dapat memengaruhi harga jual barang apabila tidak mampu diserap oleh perusahaan.

Dalam kondisi tertentu, perusahaan dapat memilih mengurangi margin keuntungan, meningkatkan efisiensi, atau menyesuaikan harga produknya.

Dampaknya terhadap konsumen bergantung pada besarnya komponen impor, persaingan pasar, serta kemampuan perusahaan menahan kenaikan biaya.

Baca Juga: Prabowo Perintahkan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Bahlil: Anggaran Pasti Bertambah

5. Daya Beli Masyarakat Berisiko Tertekan

Apabila kenaikan biaya impor dan produksi diteruskan menjadi harga jual yang lebih tinggi, masyarakat berpotensi menghadapi peningkatan pengeluaran rumah tangga.

Kondisi ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi yang dipicu kenaikan harga barang dan bahan baku impor.

Bagi rumah tangga dengan pendapatan tetap, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dapat mengurangi kemampuan membeli barang dan jasa lainnya.

Badan Pusat Statistik mencatat, inflasi harga impor Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat 25,45 persen secara tahunan, terdiri dari kelompok migas 37,97 persen dan nonmigas 23,10 persen.

Baca Juga: Pap Smear untuk Deteksi Dini Kanker Rahim Ditanggung BPJS, Ini Syarat dan Alurnya

Pemerintah Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19.000

Di tengah tekanan nilai tukar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis rupiah tidak akan melemah hingga menembus Rp19.000 per dolar AS.

Airlangga menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil sehingga pemerintah tetap yakin terhadap ketahanan ekonomi nasional.

"Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimis (rupiah tidak tembus Rp19.000 per dolar AS). Nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi," ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas.tv, Antara

Tag
  • nilai tukar rupiah
  • rupiah 18200
  • pelemahan rupiah
  • daya beli masyarakat
  • pengeluaran rumah tangga
  • dampak pelemahan rupiah
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tak Mau Marc Marquez Perlebar Jarak di Klasemen, Aprilia Siapkan Strategi Khusus buat Jorge Martin di MotoGP Malaysia 2026
• 5 jam lalu
0
thumb
Polling: Apakah Kamu Pernah Mengganti Gula dengan Stevia?
• 7 jam lalu
0
thumb
Desak Gibran Mundur, Kelompok Ini Kirim Surat ke Rumah Jokowi di Solo
• 14 jam lalu
0
thumb
Arti Mimpi Gerhana Bisa Jadi Tanda Kehilangan Sesuatu dalam Hidup? Simak Penjelasannya di Sini!
• 1 jam lalu
0
thumb
Lafalan Suci untuk Korupsi
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.