UB Gelar Konferensi Internasional, Delegasi dari 9 Negara Bahas Pendidikan Inklusif

beritajatim.com
1 jam lalu
Cover Berita

**UB Dampingi 329 Mahasiswa Difabel Aktif, Perkuat Komitmen Pendidikan Inklusif di Forum Internasional**

Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) mengadakan konferensi internasional bertajuk Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World. Acara ini terlaksana berkat kolaborasi dengan Consortium of Inclusive Teacher Education and Development (CITED).

Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., merasa bangga atas keterlibatan kampus dalam forum dialog berskala global ini. Ia berharap kerja sama lintas negara tersebut melahirkan terobosan aplikatif yang bisa diadopsi ke dalam regulasi institusi di Indonesia, sekaligus memperkokoh jejaring akademik antarpelopor riset.

“Tema pertemuan kali ini menyuarakan arti penting kesetaraan hak belajar yang sesungguhnya. Inklusi tidak cukup sekadar membuka pintu masuk pendidikan, melainkan harus menghadirkan ruang yang memanusiakan tiap individu,” ujar Prof. Imam dalam acara yang berlangsung di Gedung Rektorat UB, Rabu (28/10/2026).

Lingkungan akademik wajib memastikan setiap orang dihormati dan didukung. Prof. Imam juga menegaskan bahwa setiap orang memperoleh ruang kontribusi yang setara tanpa terhalang latar belakang fisik maupun sosial. Ia menggarisbawahi bahwa perwujudan ekosistem ramah difabel menuntut konsistensi serta sinergi banyak pihak, bukan gerakan sporadis. “Melalui kesempatan ini, kita dapat menguatkan aksi bersama untuk menciptakan pendidikan yang inklusif,” ujar Prof. Imam.

Senada dengan hal itu, Ketua Kelompok Pengarah CITED, Prof. Umesh Sharma, membeberkan bahwa konsorsium ini berakar dari keresahan bersama saat berdiskusi di Fiji pada 2018 silam mengenai kelemahan gerakan yang bersifat sektoral.

“Kami adalah grup akademisi, guru, peneliti, dan para penggiat hak disabilitas dari berbagai negara yang memiliki semangat dalam mengembangkan strategi dan sumber daya untuk para guru mewujudkan pendidikan inklusif bagi semua peserta didik,” ungkap Prof. Umesh.

Di lingkungan internal, UB terus mengimplementasikan transformasi. Prof. Imam memaparkan bahwa kesetaraan gender telah tercermin jelas di lingkungan birokrasi kampus. Saat ini, sebanyak 52,2 persen dosen, 36,6 persen tenaga kependidikan, serta 58 persen populasi mahasiswa aktif UB merupakan perempuan.

“Di samping itu, kami menyediakan enam skema afirmasi bagi wilayah 3T maupun kelompok rentan, mencakup program ADik Papua, ADEM Papua, ADEM Repatriasi Anak Pekerja Migran, ADik 3T, kuota mahasiswa internasional, hingga jalur khusus penyandang disabilitas,” ujar Prof. Imam.

Hingga kini, UB tercatat mendampingi 329 mahasiswa difabel aktif serta telah meluluskan 185 alumni disabilitas yang tersebar di 74 program studi. Layanan ini berada di bawah koordinasi Subdirektorat Layanan bagi Penyandang Disabilitas dan Pendidikan Inklusif.

“Hal tersebut diperkuat melalui integrasi informasi dan sistem manajemen pembelajaran melalui sistem satu pintu lewat ea.ub.braindevs.com,” kata Prof. Imam menambahkan.

Sebagai informasi, konferensi ini diikuti delegasi dari sembilan negara, meliputi Indonesia, Australia, Bangladesh, Filipina, Italia, Inggris, Finlandia, Pakistan, dan Malaysia. Total 52 pendaftar berpartisipasi, mencakup 43 sesi pemaparan ilmiah (20 luring dan 23 daring) serta sembilan peserta umum. (dan/kun)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Soal Wacana BPJS Kesehatan Diganti Klinik Kopdes, Guntur Romli: KDMP Sudah Seperti ‘Vampir’
• 17 jam lalu
0
thumb
Banteng Jawa, Harapan dari Kelahiran di Pangandaran dan Potensi Masa Depan Peternakan
• 2 jam lalu
0
thumb
Film Hamka: Awal Mula Vol. 3 Hadirkan Pesan Moral untuk Generasi Muda
• 18 jam lalu
0
thumb
RFEF Tunda 24 Laga Copa del Rey Usai Kecelakaan Kereta di Spanyol
• 17 jam lalu
0
thumb
MBG Prasmanan Bakal Diterapkan di 10 Ribu Dapur hingga Akhir Tahun
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.