Naik Tiga Kali Lipat, PTBA Catat Laba Rp 4,41 Triliun pada Triwulan III 2026

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengumumkan kinerja keuangan konsolidasian untuk periode sembilan bulan pertama yang berakhir pada tanggal 30 September 2026 (9M26) ke BEI/OJK.

“Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin. Ke depan, perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ungkap Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan.

Kinerja Operasional

Dalam Ton kecuali dinyatakan lain dalam Stripping Ratio

Kinerja Keuangan

(Dalam Juta Rupiah kecuali dinyatakan lain dalam Laba per Saham)

*Termasuk fasilitas pinjaman back-to-back yang dijamin dengan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Perseroan.

Laporan Keuangan PT Bukit Asam 9M20261. Pendapatan Usaha dan Harga Jual Rata-rata

PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 35,20 triliun hingga September 2026, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 18% secara tahunan, sejalan dengan penguatan harga batu bara global yang tercermin dari kenaikan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing sebesar 25% dan 26% secara tahunan.

Penguatan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi komposisi penjualan, pasar domestik berkontribusi sebesar 52% terhadap total volume penjualan, sementara pasar ekspor menyumbang 48%. Adapun lima negara tujuan ekspor terbesar Perseroan meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.

2. Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional

Beban pokok pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp 27,94 triliun, meningkat sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh peningkatan harga bahan bakar sebesar 36% secara tahunan, yang berdampak pada biaya operasional penambangan dan pengangkutan batu bara.

Namun demikian, dampak kenaikan biaya bahan bakar dapat diimbangi oleh penurunan stripping ratio dari 5,98x menjadi 5,59x, serta penurunan volume produksi dan angkutan batu bara masing-masing sebesar 4% dan 10% secara tahunan. Kondisi tersebut turut mendukung pengendalian beban pokok pendapatan Perseroan sepanjang periode berjalan.

Sementara itu, beban operasional meningkat sebesar Rp 266,77 miliar atau 13% secara tahunan, sejalan dengan perkembangan aktivitas operasional sepanjang periode berjalan.

3. Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama

Penghasilan keuangan Perseroan meningkat 16% secara tahunan menjadi Rp 183,50 miliar, terutama didukung oleh peningkatan penempatan deposito berjangka, termasuk dalam rangka pengelolaan likuiditas dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Di sisi lain, biaya keuangan menurun 45% secara tahunan menjadi Rp136,52 miliar, sejalan dengan berkurangnya beban bunga setelah penyelesaian fasilitas kredit modal kerja perseroan pada akhir tahun 2025 yang lalu.

Selain itu, bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama meningkat 75% secara tahunan menjadi Rp 581,31 miliar.

Didukung oleh pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban pokok pendapatan, perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,41 triliun.

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian1. Total Aset

Hingga 30 September 2026, total aset Perseroan mencapai Rp 51,55 triliun, meningkat 17% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp43,92 triliun.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan deposito berjangka, piutang usaha sejalan dengan penguatan harga jual batu bara, serta kenaikan pajak dibayar di muka terkait restitusi pajak pertambahan nilai (PPN).

2. Total Liabilitas dan Ekuitas

Total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp 24,31 triliun pada 30 September 2026, meningkat 14% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp 21,30 triliun. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban operasional serta penambahan pinjaman bank untuk mendukung pengembangan Proyek Tanjung Enim–Kramasan.

Sementara itu, total ekuitas Perseroan meningkat 20% menjadi Rp 27,24 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp22,62 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan saldo laba seiring dengan pencapaian laba bersih perseroan sepanjang periode berjalan.

Laporan Arus Kas Konsolidasian1. Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp 4,20 triliun menjadi Rp 4,44 triliun atau naik 9% YoY. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan profitabilitas serta penurunan pembayaran pada pemasok dan pembayaran bunga.

2. Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat naik dari periode sebelumnya Rp 2,21 triliun menjadi Rp 3,50 triliun sampai dengan 30 September 2026. Kenaikan penggunaan kas untuk aktivitas investasi tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya penempatan deposito berjangka atas Devisa Hasil Ekspor (DHE).

3. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat turun dari periode sebelumnya Rp 2,17 triliun menjadi Rp 0,70 triliun sampai dengan 30 September 2026. Penurunan penggunaan kas bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, serta peningkatan penerimaan pinjaman jangka panjang untuk mendukung pembiayaan Proyek Tanjung Enim–Kramasan.

“Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan,” jelas Corporate Secretary Division Head, Eko Prayitno.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rupiah Menguat ke Rp18.141 per Dolar AS Dipengaruhi Putusan The Fed Tahan Suka Bunga
• 16 jam lalu
0
thumb
Pemprov DKI Normalisasi Kali Mampang untuk Kurangi Risiko Banjir
• 14 jam lalu
0
thumb
Disperin Kalsel Petakan Hambatan Investasi dan Dorong Hilirisasi Industri untuk Perkuat Ekonomi Bumi Antasari
• 14 jam lalu
0
thumb
Menko PMK: Masa depan Indonesia ditentukan keberhasilan pemuda
• 3 jam lalu
0
thumb
Jembatan Padduppa–Timoro Jadi Aspirasi Prioritas Warga di Reses Ketua DPRD Wajo
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.