Kejar Lifting dan Tekan Impor, Bahlil Minta KKKS segera Eksekusi Blok yang Sudah Kantongi PoD

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Arahan tersebut juga berlaku bagi Pertamina. Menurut Bahlil, status sebagai perusahaan milik negara bukan alasan untuk bekerja lambat.

Kejar Lifting dan Tekan Impor, Bahlil Minta KKKS segera Eksekusi Blok yang Sudah Kantongi PoD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Indonesia masih mengimpor sekitar 700-750 ribu barel minyak per hari. Untuk menekan angka itu, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang sudah memegang konsesi dan mengantongi persetujuan rencana pengembangan (plan of development/PoD) segera mengeksekusi proyeknya. Jika tidak mampu, konsesi diminta dikembalikan kepada negara.

"Kalau tidak mampu, serahkan konsesi itu kepada negara. Nanti kita akan menawarkan kepada siapa yang bisa mengerjakan," kata Bahlil dalam FOREK Hulu Migas 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, dikutip Kamis (29/10/2026).

Baca Juga:
Bahlil Ungkap Dugaan Perusahaan Asing Lakukan Penambangan di Kebun Sawit

Arahan tersebut juga berlaku bagi Pertamina. Menurut Bahlil, status sebagai perusahaan milik negara bukan alasan untuk bekerja lambat. Jika tidak sanggup, Pertamina diminta berbagi pengelolaan dengan perusahaan lain.

"Sekalipun Pertamina punya negara, saya tidak meminta untuk kalian kerjanya lambat. Harus cepat," ujarnya.

Baca Juga:
Soal RUU Migas,Bahlil: BUK Punya Kewenangan Besar hingga Insentif Pajak untuk Eksplorasi

Desakan ini berangkat dari selisih besar antara konsumsi dan produksi minyak nasional. Bahlil menyebut konsumsi mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi baru sekitar 600-650 ribu barel per hari. Program biodiesel B50 menutup sekitar 250-300 ribu barel, sehingga sisa kebutuhan yang diimpor masih sekitar 700-750 ribu barel per hari.

"Pekerjaan yang masih berat sekali bagi kami adalah bagaimana meningkatkan lifting," kata Bahlil.

Baca Juga:
Bahlil Sebut Minyak Mentah Lebih Dicari Daripada Emas Imbas Ketegangan Geopolitik

Ia menilai saat ini momentum yang tepat untuk bergerak. Harga minyak dunia sedang naik dan permintaan global menguat. Di sisi lain, kondisi geopolitik yang tidak menentu membuat setiap negara memproteksi kebutuhan energinya masing-masing, dan perebutan minyak berpotensi memicu ketegangan di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.

Upaya peningkatan produksi juga menghadapi tantangan. Sebagian besar sumur minyak Indonesia sudah tua dan lifting nasional terus turun dalam 10 tahun terakhir. Untuk itu, Bahlil meminta KKKS berinovasi dengan rekayasa teknologi untuk mengoptimalkan produksi, seperti yang dilakukan Exxon di Cepu, Jawa Timur.

Bahlil menyebut arahannya sebagai anjuran, bukan ancaman, agar pelaku usaha bergerak cepat. Ia optimistis, jika seluruh pemegang konsesi bekerja serius dan cepat, target Presiden Prabowo Subianto dapat tercapai pada 2029-2030. Percepatan eksekusi proyek tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan swasembada energi.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pengecekan NIK Penerima BSU Oktober-Desember 2026 di Mana? Jangan Salah Link
• 6 jam lalu
0
thumb
Mahasiswa Trisakti Gelar Demo 29 Oktober 202 di Istana, Bawa Tiga Tuntutan
• 7 jam lalu
0
thumb
Astra (ASII) Kantongi Laba Rp21,6 Triliun hingga September, Bisnis Otomotif dan Keuangan Tumbuh
• 23 jam lalu
0
thumb
Rekaman Video Call Ruben Onsu Dijadikan Bukti di Gugatan Hak Asuh, Sarwendah Beberkan Penilaian Hakim
• 10 jam lalu
0
thumb
Pelajar di Lumajang Tabrak Polwan saat Hindari Operasi Patuh Semeru 2026, Berdalih Masalah pada Rem
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.