HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat penting bagi generasi muda untuk memperkuat persatuan dan menghentikan konflik antarkelompok yang masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kota Makassar.
Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar, Andi Makmur Burhanuddin, mengajak anak muda mengubah energi, solidaritas, dan keberanian menjadi kekuatan positif untuk membangun kota. Menurutnya, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diperingati melalui seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan masing-masing.
Ia menilai, generasi muda Makassar memiliki potensi besar untuk menjadi motor perubahan. Karena itu, potensi tersebut perlu diarahkan pada kegiatan produktif, seperti berkarya, berprestasi, membantu sesama, serta menjaga keamanan dan keharmonisan masyarakat.
“Momentum Sumpah Pemuda ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kekuatan anak muda terletak pada kemampuan membangun persatuan. Kita tentu bangga melihat generasi muda yang memiliki solidaritas tinggi dan keberanian dalam memperjuangkan sesuatu. Tetapi, keberanian itu harus diarahkan ke hal-hal positif, seperti berkarya, berprestasi, membantu sesama, dan memberikan kontribusi bagi lingkungannya,” ujar Andi Makmur.
Menurut legislator PKB tersebut, konflik antarkelompok tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan ataupun tindakan setelah bentrokan terjadi. Diperlukan upaya pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan aparat keamanan.
Ia mengingatkan, pertikaian yang bermula dari persoalan kecil dapat berkembang menjadi konflik berkepanjangan ketika emosi dan gengsi kelompok lebih diutamakan daripada keselamatan bersama. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar.
“Jangan sampai anak-anak muda kita kehilangan masa depan hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi. Tidak ada kebanggaan dari sebuah pertikaian jika akhirnya menimbulkan korban, merugikan keluarga, atau membuat seseorang harus berhadapan dengan persoalan hukum. Kita ingin anak muda Makassar dikenal karena prestasi dan karyanya, bukan karena konflik yang terus berulang,” tegasnya.
Utamakan Pencegahan dan PembinaanAndi Makmur berpandangan, penanganan konflik kepemudaan perlu dilakukan secara seimbang. Tindakan kekerasan tetap harus diproses sesuai ketentuan hukum, tetapi langkah pencegahan dan pembinaan juga tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, komunikasi antarkelompok perlu diperkuat agar potensi perselisihan dapat diketahui sejak awal. Tokoh masyarakat dan pemuda setempat juga diharapkan berperan aktif meredam persoalan sebelum berkembang menjadi bentrokan.
“Kalau kita hanya bergerak setelah terjadi bentrokan, berarti kita selalu berada pada tahap penanganan, bukan pencegahan. Karena itu, perlu ada komunikasi yang baik di tingkat lingkungan, peran aktif tokoh masyarakat, serta keterlibatan anak muda sendiri untuk meredam persoalan sebelum membesar. Mereka harus diberi ruang untuk ikut menyelesaikan masalah, bukan hanya menjadi objek dari kebijakan yang dibuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, generasi muda yang pernah terlibat konflik juga perlu mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri melalui pembinaan dan pendampingan. Namun, kesempatan tersebut tetap harus berjalan seiring dengan tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.
Dengan pendekatan tersebut, upaya menciptakan keamanan di lingkungan masyarakat diharapkan tidak hanya berfokus pada penghentian bentrokan, tetapi juga pemulihan hubungan sosial agar konflik serupa tidak terus berulang.
Pemkot Diminta Perluas Ruang KreativitasSelain memperkuat pencegahan, Andi Makmur mendorong Pemerintah Kota Makassar memperluas ruang aktivitas dan pengembangan potensi anak muda. Fasilitas olahraga, kegiatan seni dan budaya, pelatihan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, serta ruang kreativitas dinilai dapat menjadi alternatif positif untuk menyalurkan energi generasi muda.
Menurutnya, membangun generasi muda tidak cukup hanya dengan meminta mereka menjauhi tindakan negatif. Pemerintah juga perlu menghadirkan kesempatan agar anak muda dapat mengembangkan kemampuan, memperoleh keterampilan, membuka usaha, dan terlibat dalam pembangunan kota.
“Anak muda membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan dan membuktikan bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Pemerintah perlu menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan mereka, mulai dari olahraga, seni, pelatihan kerja, sampai pendampingan usaha. Jangan hanya meminta mereka menjauhi kegiatan negatif, tetapi kita juga harus memberikan pilihan dan kesempatan agar mereka bisa berkembang,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kebanggaan terhadap kelompok atau lingkungan masing-masing bukanlah persoalan selama diwujudkan melalui prestasi dan kontribusi positif. Identitas komunitas seharusnya menjadi modal untuk membangun solidaritas, bukan alasan untuk memusuhi kelompok lain.
Andi Makmur juga mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu berarti membalas tantangan. Kemampuan mengendalikan emosi, menolak ajakan melakukan kekerasan, menghentikan provokasi, dan mengajak teman menyelesaikan persoalan secara damai merupakan bentuk kedewasaan yang perlu ditanamkan.
“Menurut saya, orang yang berani menghentikan pertikaian justru menunjukkan kedewasaan dan kepemimpinan. Tidak semua tantangan harus dijawab dengan perlawanan, dan tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan. Kadang-kadang, keberanian terbesar adalah ketika kita mampu mengendalikan emosi, mengajak teman untuk berdamai, dan mencegah sesuatu yang bisa merugikan banyak orang,” tuturnya.
Persatuan Harus Diwujudkan dalam TindakanAndi Makmur berharap peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum memperkuat komitmen bersama untuk membangun Makassar yang aman, harmonis, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Menurutnya, semangat persatuan yang lahir dari ikrar pemuda pada 28 Oktober 1928 harus terus relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Perbedaan latar belakang maupun identitas kelompok tidak seharusnya menjadi pemicu permusuhan.
“Makassar membutuhkan anak muda yang berani mengambil tanggung jawab, bukan sekadar mempertahankan gengsi kelompok. Kita ingin melihat mereka berlomba menciptakan karya, mengembangkan usaha, meraih prestasi, dan membantu masyarakat. Kalau energi, solidaritas, dan keberanian itu diarahkan untuk hal-hal yang produktif, saya yakin anak muda bisa menjadi kekuatan besar dalam pembangunan kota ini,” pungkasnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat memberi ruang kepada generasi muda untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat aktif dalam pembangunan. Dengan dukungan keluarga, lingkungan, pemerintah, dan aparat keamanan, anak muda diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi untuk mencegah konflik dan memperkuat persaudaraan.
“Pada akhirnya, masa depan Makassar juga berada di tangan anak-anak muda kita. Mari kita beri mereka kesempatan, dengarkan aspirasi mereka, dan libatkan dalam pembangunan. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Saatnya kita membuktikan bahwa generasi muda Makassar mampu menjaga persaudaraan, menghentikan kekerasan, dan membawa kota ini menuju masa depan yang lebih baik,” tutupnya.






Komentar (0)