Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026) pagi, di tengah volatilitas pasar tinggi setelah menguat tipis kemarin.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026) pagi, di tengah volatilitas pasar tinggi setelah menguat tipis sehari sebelumnya.
Tekanan ini menunjukkan sentimen investor masih rentan di tengah ketidakpastian pasar terkait ancaman MSCI untuk menurunkan status Indonesia menjadi Standalone Market.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 1,88 persen ke level 5.193,06 pada pukul 09.54 WIB.
Nilai transaksi tercatat sebesar Rp3,14 triliun dengan volume perdagangan mencapai 8,14 miliar saham.
Sebanyak 512 saham melemah, 156 saham menguat, dan 295 saham lainnya tidak berubah.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan emiten konglomerasi kembali menekan pergerakan indeks pada awal perdagangan.
Di pasar valuta asing, rupiah yang masih berada di atas Rp18.110 per USD turut menjadi risiko bagi pasar domestik, terutama di tengah ketidakpastian arus modal asing.
Meski demikian, investor asing mulai mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp257 miliar di pasar reguler pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Angka tersebut menjadi pembelian bersih pertama setelah periode tekanan jual sebelumnya.
Dari sisi eksternal, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4,00 persen, sesuai ekspektasi pasar.
Keputusan tersebut diambil setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Namun, inflasi AS yang masih tinggi serta sikap dua pejabat The Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga lebih lanjut menunjukkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter masih terbuka.
Kondisi tersebut perlu dicermati karena berpotensi menopang dolar AS sekaligus membatasi aliran modal ke pasar negara berkembang.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada publikasi laporan keuangan emiten untuk kuartal III-2026.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai tren IHSG masih bearish karena indeks berada di bawah moving average 20 hari (MA20) di level 5.731 dan moving average 200 hari (MA200) di level 6.899.
Indikator MACD juga masih berada di zona negatif, meski penyusutan histogram mengindikasikan tekanan bearish mulai mereda.
Mirae Asset Sekuritas turut menilai pemulihan IHSG masih rapuh. “Pemulihan membutuhkan perbaikan arus asing yang konsisten dan meredanya tekanan terhadap Rupiah,” tulis Mirae.
Di tengah gejolak pasar, reformasi struktural menjadi salah satu perhatian pelaku pasar.
Phintraco Sekuritas mencatat BEI mempertegas tiga prioritas strategis pasar modal untuk 2027, yakni meningkatkan transparansi, memperkuat likuiditas, dan mengoptimalkan efektivitas pengawasan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memulihkan kepercayaan investor di tengah tuntutan pembenahan tata kelola pasar modal.
BEI juga menurunkan target penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) menjadi 15 perusahaan pada 2026, dari target awal 50 perusahaan. Untuk 2027, bursa menargetkan 25 IPO saham.
Menurut Phintraco Sekuritas, di tengah melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia, kualitas perusahaan yang melantai di bursa perlu lebih diutamakan daripada kuantitas IPO.
Selain itu, BEI membuka peluang IPO setelah proses demutualisasi bursa rampung.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (28/10), BEI mengambil langkah awal dengan mengubah anggaran dasar agar kepemilikan saham bursa tidak lagi terbatas pada anggota bursa.
Bagi investor, demutualisasi berpotensi membuka peluang investasi baru, mempercepat inovasi, serta mendorong peningkatan transparansi dan tata kelola.
Namun, proses tersebut juga menyimpan risiko, antara lain konflik kepentingan, dominasi entitas besar, dan penyesuaian biaya transaksi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.






Komentar (0)