Trump Belum Putuskan Damai dengan Iran, Padahal Biaya Perang Sudah Tembus Rp 854 T

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menegaskan bahwa perang Iran bisa berakhir kapan pun ia menginginkannya. Ia juga bersikeras Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

“Seseorang bertanya kepada saya sebelumnya, ‘Kapan perang di Iran akan berakhir?’ Saya menjawab, ‘Kapan pun saya ingin perang itu berakhir,’” kata Trump dalam kampanye di Lubbock, Texas, dikutip dari CNBC, Kamis (29/10).

Menurut dia, perang bisa berakhir sangat cepat, tetapi harus diakhiri “dengan benar”. Trump mengatakan segera memutuskan apakah membuat kesepakatan dengan Iran atau “menghancurkannya sampai tuntas”.

Popularitas Tertekan

Pernyataan itu muncul saat popularitas Trump mendekati rekor terendah akibat kenaikan biaya energi dan beban hidup, menjelang pemilu sela AS pada 3 November. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Senin (26/10) menunjukkan approval rating terhadap Trump berada di kisaran 32 persen.

Kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, mengatakan perang ini telah membebani keluarga Amerika rata-rata USD 2.000 atau sekitar Rp 36,4 juta (kurs Rp 18.183/dolar AS).

Rinciannya, USD 1.100 dari kenaikan biaya energi, USD 540 dari biaya suku bunga yang naik, dan USD 360 dari peningkatan belanja militer.

Biaya Perang Tembus USD 47 Miliar

Berdasarkan perkiraan Komando Pusat AS pada 16 Oktober, seperti dilaporkan The Hill, biaya perang Iran telah membengkak menjadi USD 47 miliar atau sekitar Rp 854,6 triliun, sekitar USD 3 miliar lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Sebagian besar di antaranya sekitar USD 29 miliar, berasal dari penggantian amunisi. Konflik ini disebut mengakibatkan “kekurangan” persediaan amunisi AS, meski pada 3 September Trump mengklaim AS memiliki amunisi “hampir tidak terbatas”.

Angka itu belum termasuk kerusakan akibat serangan Iran. Laporan inspektur jenderal utama kepada Kongres memperkirakan kerusakan mencapai USD 184 juta atau sekitar Rp 3,35 triliun, mencakup fasilitas AS di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Walau demikian, konflik belum menunjukkan tanda mereda. Awal bulan ini AS mengevakuasi diplomatnya dari Arab Saudi. The New York Times melaporkan militer AS dan Israel justru telah menyusun rencana terperinci untuk serangan singkat tetapi intensif terhadap Iran setelah pemilu sela.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Semarakkan 1 Tahun Sekolah Rakyat, Giring Janji Ciptakan Lagu Khusus
• 18 jam lalu
0
thumb
Timnas Indonesia vs Yordania Terancam Batal, Ini Alasan PSSI
• 9 jam lalu
0
thumb
Tito Siapkan Dana Rp 1 T untuk Daerah yang Paling Dukung Program MBG
• 23 jam lalu
0
thumb
Menko Bahlil Luruskan Kabar Impor 30 Juta Barel Minyak UEA: Semua Masih Penjajakan
• 16 jam lalu
0
thumb
ASCOPE ke-51 Sepakati Penguatan Arsitektur Energi ASEAN
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.