Mendikdasmen: Tidak Antibahasa Asing, tetapi Bahasa Indonesia Pertama Digunakan

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti maraknya penggunaan bahasa asing di ruang publik, termasuk di lingkungan pemerintahan dan fasilitas pelayanan masyarakat.

Dia menilai bahasa Indonesia justru kerap terpinggirkan di negeri sendiri, sementara penggunaan istilah asing semakin dianggap sebagai sesuatu yang lebih membanggakan.

BACA JUGA: Mendikdasmen Mu’ti Pastikan tidak Ada PHK Guru Non-ASN Gagal Lulus Seleksi CPNS

Salah satu contoh yang disorot adalah penggunaan bahasa Inggris di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Menurutnya, bandara yang menjadi salah satu pintu gerbang utama Indonesia tersebut semestinya menjadi tempat strategis untuk memperkenalkan dan memperkuat kedudukan bahasa Indonesia kepada masyarakat internasional.

BACA JUGA: Mendikdasmen Bocorkan Kado Hari Guru Nasional untuk PPPK & Honorer

"Saya sering kali setiap kali ke bandara, terutama Bandara Internasional Soekarno-Hatta, lebih banyak saya temukan tulisan dalam bahasa Inggris daripada tulisan dalam bahasa Indonesia. Padahal itu adalah pintu gerbang Indonesia," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti pada Puncak Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026, Rabu (28/10).

Abdul Mu'ti menyayangkan kondisi tersebut karena ruang publik seharusnya menjadi sarana untuk menunjukkan identitas dan kedaulatan bahasa nasional.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Soal Alih Status PPPK Paruh Waktu & PPPK, Mendikdasmen Beri Kabar Baik

Menurutnya, kecenderungan mengutamakan istilah asing tidak hanya terjadi di fasilitas umum, tetapi juga dalam berbagai pertemuan yang diselenggarakan lembaga pemerintahan maupun lembaga negara.

Padahal, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas dan martabat bangsa.

"Tentu kita tidak antibahasa asing, karena dengan Trigatra itu kita juga menguasai bahasa asing, tetapi mengarusutamakan bahasa Indonesia mengandung pengertian bahwa bahasa Indonesia-lah yang pertama yang kita gunakan," tegasnya.

Selain dominasi bahasa asing, Mendikdasmen juga menyoroti perubahan kebiasaan berbahasa di kalangan generasi muda.

Menurutnya, perkembangan komunikasi digital telah melahirkan berbagai istilah dan singkatan yang terkadang sulit dipahami oleh generasi sebelumnya.

Dia bahkan mengaku kerap mengalami kesenjangan bahasa ketika berkomunikasi melalui aplikasi pesan dengan anak-anak maupun mahasiswanya.

"Saya sering kali tidak paham dengan singkatan-singkatan. Apalagi kemudian singkatan-singkatan baru yang memang di sini sepertinya ada kesenjangan antargenerasi," bebernya.

Meski memahami bahwa komunikasi sehari-hari tidak harus selalu menggunakan bahasa baku, dia mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan bahasa Indonesia di tengah perubahan gaya komunikasi masyarakat.

Persoalan lain yang mendapat perhatian adalah menurunnya kesantunan berbahasa, khususnya di ruang digital.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menilai penggunaan kata-kata kasar, sumpah serapah, hingga ujaran bernada kebencian menjadi tantangan serius dalam membangun budaya komunikasi yang mencerminkan karakter bangsa.

Dia mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan kepribadian, kehormatan, dan peradaban.

"Kehormatan diri kita itu tergantung dari lisan, dari bagaimana kita berbahasa, dari bagaimana kita berbicara, dari bagaimana kita memilih kata-kata," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu'ti juga menekankan pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.

Berdasarkan data Badan Bahasa yang disampaikannya, Indonesia memiliki 729 bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah, dengan keragaman bahasa terbanyak berada di Papua.

Namun, kekayaan tersebut menghadapi tantangan karena sebagian bahasa daerah mulai terancam punah, antara lain akibat terbatasnya tradisi tulis dan ketiadaan sistem aksara pada sejumlah bahasa.

Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah tidak cukup dilakukan melalui penggunaan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga perlu diperkuat melalui pendidikan, dokumentasi, dan pengembangan tradisi tulis.

"Pemerintah memberikan ruang bagi pengajaran bahasa daerah melalui muatan lokal dalam kurikulum pendidikan," tegasnya.

Penggunaan bahasa daerah dalam pembelajaran, terutama pada tahun-tahun awal pendidikan, juga dinilai dapat membantu anak memahami bahasa Indonesia dan mempelajari bahasa asing.

Dia sekaligus mengingatkan agar generasi muda tidak memandang penggunaan bahasa daerah sebagai sesuatu yang kuno atau menunjukkan keterbelakangan.

Pada kesempatan sama, Mendikdasmen menyampaikan dukungannya terhadap usulan pembebasan biaya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi guru.

Dia mengaku telah membicarakan usulan tersebut dengan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen dan berharap kebijakan itu dapat direalisasikan sebagai bentuk dukungan bagi para pendidik.

"Yang pertama untuk UKBI bagi guru yang bebas biaya, saya sudah bicara dengan Bu Sesjen, insyaallah akan kita penuhi," ucapnya.

Di tingkat internasional, pemerintah juga terus mendorong peningkatan peran bahasa Indonesia agar semakin dikenal dan digunakan masyarakat dunia.

Abdul Mu'ti menyebut penggunaan bahasa Indonesia dalam forum UNESCO sebagai salah satu capaian penting.

Penguatan posisi bahasa Indonesia juga ditandai dengan berkembangnya pengajaran bahasa Indonesia di sejumlah perguruan tinggi luar negeri, termasuk Universitas Al-Azhar di Mesir dan University of Tasmania di Australia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari cita-cita besar menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2045.

"Kita terus bergerak, kita terus melaksanakan berbagai ikhtiar dan usaha agar bahasa Indonesia, sebagaimana Bu Himmah tadi sampaikan, bisa menjadi bahasa dunia, termasuk pada tahun 2045 kita targetkan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa," ujarnya.

Abdul Mu'ti menegaskan bahwa peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 yang mengusung tema "Bahasa Indonesia Bermartabat, Indonesia Berdaulat" harus menjadi momentum memperkuat kedaulatan bahasa nasional.

Dia mengajak seluruh elemen masyarakat mengamalkan prinsip Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Menurutnya, upaya menjaga martabat bahasa tidak boleh berhenti pada seremoni dan festival kebahasaan, tetapi harus diwujudkan melalui kebiasaan berbahasa yang baik, santun, dan mencerminkan jati diri bangsa.

"Oleh karena itulah maka di momentum Peringatan Bulan Bahasa yang puncaknya kita rayakan pada hari ini, saya mengajak semua pihak untuk bersama-sama kita menjadikan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negeri kita sendiri," tutupnya.(esy/jpnn)


Redaktur : Dedi Yondra
Reporter : Mesyia Muhammad


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
1.000 Polantas Disiagakan Atur Lalin saat Demo di Jakarta
• 13 jam lalu
0
thumb
MTDL Raup Laba Rp443 Miliar hingga September Ditopang Penjualan Smartphone
• 9 jam lalu
0
thumb
Mengulik Arti Mimpi Ditangkap Polisi Menurut Psikologis, Ternyata Berkaitan Erat dengan Perasaan Tertekan!
• 7 jam lalu
0
thumb
Momen Massa Demo Dibubarkan Berujung Ricuh di Imam Bonjol
• 6 jam lalu
0
thumb
Tito Beri Tenggat Sepekan Daerah yang Belum Bentuk Satgas MBG, Bakal Kirim Surat Cinta
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.