Dewan Pers Dorong Kesiapan Industri Media Menghadapi New Normal Bisnis di Era AI

suarasurabaya.net
9 jam lalu
Cover Berita

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar pada dunia media, baik global dan nasional.

Di satu sisi, AI meningkatkan produktivitas serta efisiensi dalam memproduksi dan mendistribusikan konten berita. Sementara di sisi lain, fenomena AI menimbulkan tantangan lain bagi keberlanjutan bisnis media dan monetisasi karya jurnalistik.

Dahlan Dahi Ketua Komisi Digital and Sustainability Dewan Pers mengungkapkan, jurnalisme memiliki dua fungsi utama yang sangat krusial, yakni melakukan verifikasi informasi dan meminta pertanggungjawaban dari pejabat publik.

“Kalau jurnalisme hancur, demokrasi hancur, dan bangsanya juga ikut hancur. Itulah mengapa ancaman terhadap media dan jurnalis pada dasarnya adalah ancaman terhadap demokrasi,” katanya, dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026, yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Rabu (28/10/2026), di Shangri-La Hotel Surabaya.

Menurut Dahlan, teknologi memang membuat produksi dan distribusi berita menjadi jauh lebih cepat serta murah. Tapi, persoalan utamanya terletak pada bagaimana menangkap nilai (value) ekonomi dari konten yang diciptakan.

Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia, dengan proyeksi periklanan digital mencapai sekitar Rp71,5 triliun pada tahun 2024 dan terus bertumbuh.

“Tapi, di tengah pertumbuhan pasar digital yang masif, platform-platform teknologi justru menguasai sekitar 80 persen pasar, sementara sisanya diperebutkan oleh lebih dari 50 ribu publisher atau media massa (penerbit),” tambahnya.

Kondisi ini, menurut Dahlan, diperparah dengan hilangnya hambatan masuk (entry barrier) di industri media.

Karena saat ini, siapa pun dapat dengan mudah membuat platform media sendiri, yang berujung pada kondisi over-supply konten. Akibatnya, nilai per tayang (view) dan per pembaca (pageview) terus merosot karena suplai konten jauh melampaui permintaan pembaca.

Dahlan melanjutkan, saat ini era model bisnis lama seperti paywall maupun periklanan programatik (programmatic advertising) sudah selesai. Pendapatan dari model tersebut bahkan tercatat terus merosot.

Kehadiran teknologi AI generatif seperti ChatGPT, Google AI Overviews, dan AI Word sejak tahun 2023 yang kian mengubah kebiasaan pengguna. Pengguna cenderung mencari jawaban langsung melalui chatbot AI tanpa harus mengunjungi situs web media berita.

“Era paywall sudah selesai, era periklanan programatik yang lahir dari bisnis paywall juga sudah selesai. Kita harus menyebut ini sebagai new normal,” tegas Dahlan.

Dalam menghadapi situasi ini, Dewan Pers mendorong agar pekerjaan jurnalistik tidak lagi dijadikan sebagai “bahan baku gratis” bagi platform digital, dengan cara menegakkan hak cipta karya jurnalistik harus berjalan beriringan dengan penegakan undang-undang anti-monopoli.

“Sehingga, ke depan bukan sekadar memperjuangkan hak cipta semata, tetapi juga membangun ekosistem digital yang sehat dengan melawan monopoli dan memastikan platform tidak memperlakukan media secara sepihak,” tutupnya.(kir/rid)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Naik Rp20.000, Jadi Rp2,57 Juta
• 18 jam lalu
0
thumb
Atlet Pencak Silat Asal Semarang Meninggal usai Tanding di Porprov Jateng
• 13 jam lalu
0
thumb
Link Streaming Liverpool vs Chelsea Carabao Cup: Preview Pertandingan dan Reuni Xabi Alonso
• 6 jam lalu
0
thumb
Selamat! Politikus Muda Keturunan Indonesia Alvin Tedjo Terpilih Jadi Wali Kota di Kanada
• 16 jam lalu
0
thumb
KPK Periksa 4 Saksi soal Dugaan Imbalan Swasta di Kasus BNPB
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.