Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menegaskan Indonesia harus tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi dunia.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh menjadi perpanjangan tangan kepentingan negara mana pun, tetapi tetap membuka ruang kerja sama dengan negara lain.
Hal itu disampaikan Dasco dalam pidato peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/10). Dalam kesempatan itu, Dasco didampingi Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa dan Cucun Ahmad Syamsurijal.
“Indonesia harus tetap teguh pada politik luar negeri bebas aktif. Kita tidak menjadi perpanjangan tangan kepentingan negara mana pun, tetapi tidak pula menutup pintu kerja sama,” kata Dasco.
Dasco menilai ketidakpastian global menuntut Indonesia menjaga kedaulatan sekaligus mempertahankan hubungan baik dengan negara lain. Ia menyoroti ketegangan di Timur Tengah yang berdampak tidak hanya pada kawasan konflik, tetapi juga pada harga energi, biaya pengangkutan, rantai pasok, hingga inflasi yang dirasakan masyarakat Indonesia.
“Persaingan kekuatan besar, perebutan teknologi, serta perubahan arah perdagangan dunia mempersempit ruang bagi negara yang tidak siap,” ujarnya.
Selain itu, Dasco menyoroti dinamika keamanan di Asia Tenggara, mulai dari situasi Laut Cina Selatan, keamanan pelayaran, kejahatan lintas batas, hingga ancaman siber yang menguji ketahanan ASEAN.
Menurutnya, ancaman terhadap Indonesia tidak hanya berupa konflik bersenjata. Perang proksi, disinformasi, dan tekanan ekonomi juga berpotensi menggerus persatuan serta mengganggu kepentingan nasional.
Karena itu, Dasco menegaskan Indonesia harus menjaga kedaulatan tanpa mengabaikan upaya menciptakan perdamaian. Dalam bidang pertahanan, ia menekankan pentingnya pendekatan defensif aktif untuk mengantisipasi ancaman tanpa memicu permusuhan.
“Dan dalam pertahanan, sikap defensif aktif berarti waspada, mampu mencegah ancaman, dan berinisiatif secara terukur tanpa mencari permusuhan,” ucapnya.
“Kita harus tegar dan tegas menjaga kedaulatan, sekaligus arif menjaga perdamaian,” sambung Dasco.
Dasco juga mendorong penguatan kerja sama antarparlemen di kawasan ASEAN untuk menangani persoalan lintas negara. Menurutnya, kerja sama itu perlu mencakup pencegahan bencana, keamanan siber, ketahanan pangan dan energi, serta penyelesaian berbagai persoalan regional.
Ia menilai hubungan antarnegara tetangga harus dibangun melalui sikap saling menghormati, komunikasi terbuka, dan upaya mencari solusi bersama.
“Kita tidak dapat memilih tetangga, tetapi kita dapat memilih cara bertetangga: saling menghormati, berbicara terus terang, dan mencari jalan keluar bersama,” kata Dasco.
Dasco mengatakan semangat persatuan yang diwariskan melalui Sumpah Pemuda harus menjadi landasan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global. Ia mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, menjaga persatuan sekaligus mendukung Indonesia agar tetap berdaulat dan mampu menentukan arah kebijakannya sendiri.
“Kita pun tidak dapat mengendalikan seluruh guncangan dunia; yang dapat kita tentukan adalah watak Indonesia saat menghadapinya: berani tanpa gegabah, terbuka tanpa tunduk, bersatu tanpa kehilangan nalar kritis,” tutupnya.






Komentar (0)