Sudaryono soal Dugaan Keracunan MBG di Bogor: Saya Sedih dan Menyesal, Kami Zero Tolerance

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku sedih dan menyesalkan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Bogor. Ia menegaskan BGN menerapkan prinsip zero tolerance terhadap kasus keracunan makanan.

“Terkait kasus kejadian menonjol ya di Bogor dan ada yang sebelum-sebelumnya juga ada, saya jujur saja juga sedih dan juga menyesal dengan adanya itu,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kemendagri, Jakarta, Rabu (28/10).

Sudaryono mengatakan selama tiga bulan memimpin BGN, salah satu fokus utamanya adalah memastikan tidak ada toleransi terhadap kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG.

“Kami sejauh 3 bulan ini memimpin BGN fokus kami yang paling utama adalah sebenarnya memang zero toleransi terhadap keracunan makanan,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai langkah yang dilakukan BGN bersama Kemendagri dan pemerintah daerah, mulai dari pembentukan satgas hingga pemeriksaan kelayakan dapur, merupakan bagian dari upaya menjamin keamanan pangan.

“Dan semua, termasuk yang kita kerjakan hari ini koordinasi dengan Pak Mendagri dan kepala daerah termasuk satgas, kelayakan dapur dan lain sebagainya ini adalah upaya kita memastikan keamanan pangan,” kata Sudaryono.

Sudaryono mengungkap saat dirinya mulai menjabat, terdapat sekitar 27 ribu dapur MBG. Sebagian di antaranya kemudian ditutup karena tidak memenuhi standar.

“Karena saya datang sebagai kepala BGN bersama dengan waka saya, 3 bulan yang lalu itu SLHS sudah ada 27.000 dapur. Itupun sudah banyak yang sudah kita tutup,” ujarnya.

Ia menyebut sebanyak 1.999 dapur telah ditutup karena tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Yang enggak ada SLHS-nya ada 1.999 sudah kita tutup. Bayangkan tidak ada standar higienis dan laiknya ya kita tutup,” kata Sudaryono.

Sudaryono bahkan menyebut ada dapur yang lokasinya berdekatan dengan kandang babi dan kemudian ditutup permanen.

“Ada yang sebelah kandang babi tutup permanen. Jadi cukup banyak juga yang sudah kita tutup ya,” ujarnya.

Ia mengatakan jumlah dapur MBG sebelumnya hampir mencapai 28 ribu, sementara yang aktif saat ini sekitar 26.385 dapur.

“Sebetulnya kan ada lebih banyak 27.000 hampir hampir 28.000 begitu, kemudian sekarang ini yang aktif adalah sekitar 26.385. Dan ini kita masih sisir lagi,” kata Sudaryono.

Sudaryono juga mengungkap adanya temuan terkait dugaan pemalsuan SLHS. Salah satunya melibatkan oknum pegawai pemerintah daerah.

“Karena ada beberapa temuan ya, misalnya kepolisian menemukan seseorang pegawai Pemda, Pak Menteri, itu dia menjanjikan SLHS-nya palsu,” ujarnya.

Karena itu, BGN akan melakukan pengecekan untuk memastikan keaslian setiap SLHS yang digunakan dapur MBG.

“Jadi tadi salah satu materinya adalah SLHS-nya mesti dicek asli apa palsu. Kalau palsu, maka saya ancamannya adalah dapurnya saya tutup permanen,” kata Sudaryono.

Ia menilai pemalsuan dokumen tersebut dapat mengandung unsur kesengajaan maupun kelalaian yang disengaja.

“Memang nakal, ada unsur kesengajaan, mens rea, kelalaian yang disengaja,” ujarnya.

Namun, Sudaryono membedakan kasus ketika pengelola dapur telah mengurus dokumen dengan benar tetapi justru ditipu oleh oknum pemerintah daerah.

“Tapi kan ada juga misalnya dia mengajukan dengan benar tapi ditipu sama oknum pemerintah daerah misalnya, nah itu yang oknumnya harus dihukum, itu pidana, pemalsuan dokumen,” katanya.

Kondisi Korban di Bogor

Terkait kasus di Bogor, Sudaryono mengatakan tim BGN telah diterjunkan ke lokasi. Ia juga telah berkoordinasi dengan bupati dan kapolres setempat.

“Jadi sejauh yang kami terima, sudah ada tim yang pergi ke sana kita cek semua saya sudah koordinasi dengan bupati dan kapolresnya juga masuk Pak dan timnya sudah koordinasi dengan saya yang di Bogor,” kata Sudaryono.

Menurut laporan yang diterimanya, jumlah warga yang sempat mendapatkan pelayanan kesehatan sekitar 40 orang. Angka itu kemudian menurun secara bertahap.

“Awalnya yang berobat ke pelayanan kesehatan sekitar 40, kemudian turun jadi 27, kemudian turun jadi 14,” ujarnya.

Sudaryono mengatakan sekitar sembilan orang masih menjalani rawat inap, sementara sisanya dalam tahap observasi.

“Kalau enggak salah ada 14 ya Bu ya terakhir, yang dirawat di inap mungkin sekitar sembilanan gitu sisanya observasi,” pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
AIA Dampingi Mensos di Makassar, Perkuat Digitalisasi Bansos Agar Tepat Sasaran
• 22 jam lalu
0
thumb
Mojtaba Khamanei Ungkap Persyaratan Berakhirnya Perang usai Pertemuan dengan Negara Pakta Makkah
• 12 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Beri Stimulus Nataru, Harga Tiket Pesawat Diproyeksi Turun 11-12 Persen
• 3 jam lalu
0
thumb
Mau Ikut Ajang Lari Seperti Jakarta Running Festival? Ini Hal yang Perlu Disiapkan Selain Stamina
• 14 jam lalu
0
thumb
Davide Tardozzi Menakar Peta Persaingan Gelar Juara MotoGP 2026
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.