Dolar AS Tembus Rp18.175, Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Masa

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali mengakhiri perdagangan di zona merah pada Rabu (28/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.175/US$. Posisi tersebut menjadi rekor baru penutupan terlemah rupiah sepanjang masa, melewati rekor sebelumnya di Rp18.170/US$ pada 8 Juni 2026.

Tekanan yang terjadi pada rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan, ketika dibuka melemah 0,04% ke level Rp18.152/US$. Pelemahan kemudian melebar hingga rupiah berakhir 23 poin lebih rendah dibandingkan posisi pembukaan.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,14% ke posisi 102,461.

Penguatan dolar AS kembali mempersempit ruang gerak rupiah menjelang pengumuman keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB.

Pasar memperkirakan peluang sebesar 91% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%-4,00%. Dengan tingginya peluang tersebut, perhatian investor lebih tertuju pada petunjuk kebijakan berikutnya, terutama kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember.

Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh akan dicermati untuk menilai seberapa besar kekhawatiran bank sentral terhadap inflasi. Sinyal kebijakan yang lebih ketat berpotensi menopang dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.

Adapun, Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya harga minyak, memburuknya sentimen investor asing setelah pengumuman MSCI, serta kembali meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Baca: Pelemahan Rupiah Berlanjut, Bank Ini Sudah Jual Dolar Rp18.400

Kombinasi tersebut menambah tantangan bagi rupiah. Harga minyak yang tinggi juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan membebani kepercayaan konsumen.

Meski demikian, Surya memperkirakan BI tetap melakukan intervensi untuk membatasi pelemahan rupiah.

"Masih di range 18.000-18.200 menurut saya karena BI akan intervensi. BI akan defend rupiah. Mungkin intensify di spot," ujar Surya kepada CNBC Indonesia.

Sementara itu, Equity Analyst Mega Capital Sekuritas Revo Gilang Firdaus memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.889-Rp18.280/US$ sepanjang pekan ini. Untuk satu bulan ke depan, kisarannya diperkirakan berada di Rp17.724-Rp18.499/US$.

"Proyeksi tersebut mengindikasikan volatilitas rupiah masih tinggi," kata Revo kepada CNBC Indonesia.

Menurutnya, ketidakpastian terkait MSCI yang berlarut-larut berpotensi memicu tambahan arus modal keluar. Kondisi tersebut dapat membuat tekanan terhadap rupiah bertahan di tengah dolar AS yang masih relatif kuat.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pelaku Pasar Tanggapi Volatilitas Rupiah - Reshuffle Kabinet

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jelang Aksi Demo! Polri Imbau Masyarakat Sampaikan Aspirasi Secara Damai dan Waspada Hoaks
• 7 jam lalu
0
thumb
Tak Ada Pemenang Mutlak di Exit Poll, Mungkinkah Partai Anti Netanyahu Gandeng Partai Arab?
• 9 jam lalu
0
thumb
Menteri PPPA: Kerja Kami Memang Tak Terlihat, karena Mengubah Perspektif Orang Lain
• 21 jam lalu
0
thumb
Ketika Cinta Dini Dibalas Pembunuhan Keji Dwi Martono
• 11 jam lalu
0
thumb
Ekonom Sebut Koperasi Merah Putih Bisa Tekan Biaya Standar Mutu MBG dan Buka Peluang Pasar bagi Petani Kecil
• 42 menit lalu
0
Berhasil disimpan.