Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat telah menemukan 44.636 kasus tuberkulosis (TBC). Namun, jumlah tersebut baru mencapai sekitar 65 persen dari target penemuan kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
“Sampai dengan saat ini, DKI Jakarta telah menemukan kasus TBC sebesar 44.636. Kementerian Kesehatan menugaskan kami menemukan lebih dari itu, sehingga capaiannya hari ini baru sekitar 65% dari target kasus yang harus ditemukan,” kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati dalam acara Hospital Leadership for TB Elimination: Jakarta Menuju Eliminasi TBC 2030 di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (28/10).
Sementara Dinkes DKI Jakarta juga mencatat tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Jakarta saat ini mencapai 76 persen.
“Artinya, masih ada sekian persen dari penderita TBC belum menyelesaikan pengobatannya secara tuntas,” ucap Ani.
Ani menerangkan, salah satu aspek penting dalam penanganan TBC ialah memutus rantai penularan TBC. Dia mencontohkan, secara teori, satu orang penderita TBC dapat menularkan kepada 10 hingga 15 orang apabila tidak dilakukan penanganan.
Karena itu, Dinkes DKI Jakarta juga melakukan investigasi kontak penularan TBC dan mencatat angka 68 persen.
“Ini belum sesuai target, meskipun ini sudah merupakan lonjakan capaian yang luar biasa,” tutur Ani.
Namun, dia mengatakan capaian investigasi kontak tersebut meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya yang berada di kisaran 20 persen.
“DKI Jakarta ini biasanya investigasi kontaknya ada di angka 20-an persen, tapi dengan dukungan Kementerian Kesehatan melalui program tracing TBC terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG), kami bisa mempercepat penemuan kasus dan penyelesaian investigasi kontak,” ujarnya.
Meski demikian, Ani turut menyoroti peran rumah sakit dalam penanganan TBC di Jakarta. Sebab, sekitar 64 persen kasus TBC di ibu kota ditemukan di rumah sakit.
“Ada 64% kasus TBC justru ditemukan di rumah sakit. Hal ini menegaskan betapa besarnya peranan rumah sakit dan kontribusi rumah sakit dalam penemuan kasus TBC,” kata Ani.
Namun, tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC di rumah sakit baru mencapai 71 persen. Adapun investigasi kontak di rumah sakit baru mencapai 40 persen, sedangkan pemberian terapi pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru mencapai 6 persen.
“Ini kemudian yang menyebabkan masih besarnya potensi penularan penyakit TBC di masyarakat,” ungkap Ani.
Ani pun menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama untuk mempercepat penanganan TBC dan memutus rantai penularan.
“Pertemuan pada hari ini diharapkan dapat menemukan solusi untuk percepatan penuntasan TBC dan menguatkan komitmen para pimpinan rumah sakit di DKI Jakarta untuk upaya eliminasi TBC,” terang Ani.
“Karena setiap pasien TBC yang kita temukan adalah peluang untuk menyelamatkan satu siklus kehidupan sekaligus memutus mata rantai penularan,” sambungnya.
Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut mendukung target eliminasi TBC di Jakarta pada 2030.
Ia mengaku senang melihat adanya peningkatan penanganan TBC, tetapi sekaligus prihatin karena masih banyak hal yang perlu diperbaiki.
“Gembiranya ada perbaikan, peningkatan yang ada, tetapi sedihnya bahwa kok di Jakarta masih begitu-begitu gitu,” kata Pramono di kesempatan yang sama.
Ia berharap upaya penemuan kasus TBC di Jakarta terus ditingkatkan sehingga target eliminasi pada 2030 dapat tercapai.
“Saya men-support, memberikan dukungan sepenuhnya apa yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan juga tentunya Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk melakukan eliminasi di Jakarta ini untuk TBC di tahun 2030,” tegasnya.
Ia pun berharap upaya itu dapat terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.
“Karena salah satu kelemahan kita yang harus kita akui, begitu ganti pemimpin, kebijakannya berubah. Maka, saya berharap dalam hal yang berkaitan dengan eliminasi TBC ini jangan berubah. Di tahun 2030 betul-betul bisa tercapai,” lanjutnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja fasilitas kesehatan, Pramono secara spontan menjanjikan hadiah berupa iPhone 18 untuk dua rumah sakit dengan kinerja terbaik dalam penanganan TBC.
“Saya kasih hadiah karena baru keluar iPhone 18, kepada dua. Yang pertama, rumah sakit yang memberikan kinerja untuk TBC terbaik. Yang kedua untuk RSUD,” ucap Pramono yang disambut riuh audiens.
Pramono kemudian menyebut Rumah Sakit Suyoto sebagai penerima hadiah untuk kategori rumah sakit dan RSUD Pasar Minggu untuk kategori rumah sakit umum daerah.
Ia menegaskan hadiah tersebut berasal dari uang pribadinya. Pramono berkelakar, hadiah itu belum dibeli dan nantinya akan dititipkan melalui Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati.






Komentar (0)