Hampir seabad terakhir, lukisan Starry Night atau Malam Berbintang karya pelukis Belanda, Vincent van Gogh (1853–1890), menjadi salah satu karya paling terkenal dalam sejarah seni modern. Teknik melukis yang ekspresif, kisah pilu di balik penciptaannya, serta simbol-simbol yang dihadirkan menjadikan lukisan ini dikagumi dunia.
Malam Berbintang menggambarkan suasana desa khas Eropa di kaki bukit, dengan menara gereja dan pepohonan yang menjulang. Namun, daya tarik utamanya terletak pada bentangan langit biru bertabur bintang yang selama ini memantik beragam penafsiran dan perdebatan.
Bulan sabit berukuran besar, planet Venus yang berkilau putih di atas perbukitan, serta bintang-bintang berupa bulatan kuning menghiasi langit. Benda-benda langit itu dikelilingi lingkaran konsentris yang mempertegas pancaran cahayanya. Sementara itu, sapuan awan bergelombang dan berpusar dengan teknik impasto atau penggunaan cat tebal menghadirkan kesan ekspresif dan dinamis.
Sebelum Museum Seni Modern (MoMA) New York, Amerika Serikat membawa lukisan itu dari seorang kolektor pribadi ke negeri Paman Sam pada 1941, lukisan Malam Berbintang sama sekali tidak terkenal. Setelah MoMA mengadakan pameran keliling dan menjadikan lukisan itu sebagai koleksi tetap museum sampai saat ini, Malam Berbintang pun menjadi ikon global seni Barat.
Lukisan cat minyak di atas kanvas itu, seperti dikutip dari publikasi Sorotan MoMA: 375 Karya Museum Seni Modern, New York (2019), dibuat saat van Gogh menjalani perawatan selama 12 bulan di Rumah Sakit Jiwa Saint-Paul-de-Mausole di dekat kota Saint-Rémy-de-Provence, Perancis selatan. Karya itu dibuat di sela-sela masa produktif van Gogh di antara masa-masa putus asa yang dalam. Akhirnya, Malam Berbintang menjadi salah satu karya terakhir sang maestro sebelum ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Jika lokasi pembuatan lukisan populer itu bisa dipastikan dan tidak ada pertentangan di dalamnya, maka kapan lukisan itu dibuat masih menjadi perdebatan sejumlah ilmuwan selama beberapa dekade terakhir.
Lukisan Malam Berbintang karya Vincent van Gogh menjadi ikon global seni Barat.
Sebagian kalangan menilai lukisan itu hanya didasarkan atas imajinasi atua khayalan van Gogh semata. Namun sebagian yang lain memandang Malam Berbintang juga dibuat berdasarkan hasil pengamatan yang terbatas, dari jendela rumah sakit tempatnya dirawat, sekaligus menunjukkan ekspresifnya emosi van Gogh.
Selama ini, sejarawan seni mencatat lukisan itu dibuat pada Juni 1889, di tengah musim panas yang hangat. Catatan Museum van Gogh di Amsterdam, Belanda pun menunjukkan hal serupa. Konsensus tradisional ini, seperti dikutip The Guardian, Kamis (22/10/2026), didasarkan pada surat yang ditulis van Gogh untuk saudara laki-lakinya, Theo, pada 18 Juni 1889 yang menceritakan usaha van Gogh untuk mempelajari bintang-bintang di langit.
Museum van Gogh juga menyebutkan bahwa Malam Berbintang dibuat berdasarkan gulungan kanvas yang diterima van Gogh pada awal Juni. Berikutnya, dalam surat untuk Theo pada 2 Juli, van Gogh mengirimkan gambaran dari lukisan tersebut. Setelah itu, sekitar 22 Juli, kondisi kesehatan mental van Gogh menurun drastis yang membuatnya tidak bisa melukis lebih dari sebulan. Dengan demikian, lukisan itu dibuat di sekitar bulan Juni 1889.
Meski demikian, sebagian kalangan tetap meyakini bahwa Malam Berbintang dibuat dengan inspirasi pemandangan langit yang nyata, bukan rekaan van Gogh. Karena itu, sejumlah astronom berusaha mencari waktu pasti, kapan langit memberikan pemandangan seperti yang dilukis van Gogh.
Upaya mencari jawaban pasti soal kapan sebenarnya lukisan Malam Berbintang itu dibuat, khususnya secara astronomis, setidaknya sudah berlangsung lebih dari empat dekade. Tahun 1984, seperti ditulis Space.com, Jumat (23/10/2026), sejarawan seni Albert Boime dan astronomi George Abell, keduanya dari Universitas California Los Angeles, AS mulai menganalisis kapan kira-kira waktu tepat lukisan itu dibuat. Beberapa tahun berikutnya, astronom dari Universitas Harvard, AS, Charles Whitney juga melakukan riset yang sama. Namun hingga akhir, tidak pernah ada konsensus pasti di antara pecinta seni dan astronom terkait pertanyaan dasar tersebut.
Studi terbaru tim yang dipimpin Elijah Jeong-hyun Kim dari Sekolah Riset Antariksa, Universitas Kyung Hee, Korea Selatan yang diunggap di jurnal Scientific Reports, 22 Oktober 2026, menyimpulkan bahwa Malam Berbintang dibuat van Gogh pada 22 Juli 1889, mundur lebih sebulan dibanding waktu pembuatan lukisan yang diyakini sejarawan seni selama ini, yaitu Juni 1889.
Malam Berbintang dibuat van Gogh pada 22 Juli 1889, mundur lebih sebulan dibanding waktu pembuatan lukisan yang diyakini sejarawan seni selama ini, yaitu Juni 1889.
“Setelah melihat lukisan Malam Berbintang, astronom observasional maupun astronom amatir pasti sama-sama ingin memecahkan teka-teki yang muncul. Demikian pula saya. Namun, saya melakukannya dengan sedikit lebih aktif,” kata Kim.
Simpulan bahwa Malam Berbintang dibuat pada 22 Juli 1889 itu didasarkan pada sejumlah analisis sejarah, menelusuri lokasi van Gogh melukis, hingga beberapa metode atau teknik tertentu untuk mencari bintang-bintang di langit yang posisinya mirip dengan yang digambarkan sang maestro. Hal yang pasti, berdasar surat van Gogh kepada Theo, pemandangan langit di Malam Berbintang terjadi saat fajar, sebelum Matahari menyingsing.
“Dari berbagai rasi bintang yang dicek, gugus bintang Hyades memiliki bentuk paling sesuai dengan yang di lukisan,” ujar Kim. Hyades adalah gugus bintang terbuka, bukan rasi, dan berjarak sekitar 153 tahun cahaya. Gugus bintang ini terdiri atas ratusan bintang dan terletak di arah konstelasi Taurus, di bagian kepala Taurus, dan di dekat bintang Aldebaran yang merupakan bintang terterang di rasi tersebut.
Baca juga: Pentingnya Imajinasi dalam Sains
Kemiripan tak hanya terjadi pada bentuk gugus bintang Hyades, pada 22 Juli 1889 menjelang fajar, Bulan juga dalam fase sabit. Jika diamati dari Saint-Rémy-de-Provence, posisi Bulan sabit ada di kanan dan lebih tinggi dibanding posisi Venus.
Walau demikian, studi Kim dan rekan itu sepertinya tidak cukup meredakan perdebatan sebagian kalangan tentang kapan lukisan Malam Berbintang dibuat. Bukan hanya sejarawan seni yang meragukannya, tetapi sebagian astronom pun tetap skeptis.
Menyikapi temuan tentang waktu pembuatan Malam Berbintang yang mundur sebulan dibanding yang diyakini selama ini, pihak Museum van Gogh di Amsterdam mengatakan, “Van Gogh tidak terlalu memperhatikan kemiripan yang persis. Karena itu, posisi benda-benda langit yang digambarkan tidak dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menentukan tanggal pembuatan karya tersebut.”
Van Gogh tidak terlalu memperhatikan kemiripan yang persis. Karena itu, posisi benda-benda langit yang digambarkan tidak dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menentukan tanggal pembuatan karya tersebut.
Sementara itu, profesor emeritus fisika dan astronomi Universitas Negeri Texas AS Donald Olson, juga tidak yakin sepenuhnya dengan hasil penelitian tersebut karena posisi Venus dan gugusan bintang Hyades dalam lukisan tersebut tidak sesuai dengan posisi yang dihitung.
“Asumsi penulis tentang bidang pandang sempit yang penting guna menunjukkan gugus bintang Hyades yang memenuhi sebagian besar kanvas, tidak konsisten dengan bidang pandang yang jauh lebih luas yang diperlukan untuk mencakup bukit-bukit dan tebing-tebing bundar dalam lukisan tersebut,” katanya.
Kontroversi waktu van Gogh membuat lukisan tersebut sepertinya tidak akan pernah menemukan ujung. Seni akan selalu kaya dengan imajinasi, namun sah-sah saja karya seni disusun berdasarkan fakta ilmiah yang ada. Fakta ilmiah menyediakan struktur, hukum, dan kebenaran obyektif, sedangkan imajinasi mengolah fakta menjadi bermakna, memiliki emosi, dan memberikan pengalaman estetis. Namun, batas di antara fakta ilmiah dan imajinasi itulah yang sulit ditentukan.
Malam Berbintang, seperti ditulis di MoMA, dibuat van Gogh berdasarkan pengamatan langsung, imajinasi, kenangan, dan emosinya. Dalam suratnya kepada Theo, van Gogh menceritakan pengalamannya melihat langit. “Pagi ini, aku melihat pemandangan perdesaaan dari jendela jauh sebelum Matahari terbit, hanya dengan bintang pagi, yang tampak sangat besar.”
Menatap langit bukan hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi juga menjadi sumber ketenangan bagi jiwanya selama mengalami penderitaan emosional. Kehadiran menara lonceng gereja dalam lukisan itu diyakini merupakan kenangan van Gogh atas kampung halamannya di Belanda mengingat model menara gereja seperti itu tidak umum di Perancis.
Selain itu, keberadaan pucuk pohon cemara yang dominan di lukisan, seperti nyala api yang menjulang dari sisi bawah ke atas lukisan, diyakini memberi makna simbolis. Pohon cemara dianggap sebagai pengubung antara bumi dan langit, jembatan antara kehidupan dan kematian, serta pohon pemakaman dan duka cita.
Jika karya seni tunduk sepenuhnya pada akurasi ilmiah, maka karya itu hanya akan menjadi ilustrasi ilmiah. Sebaliknya, seni juga harus mendorong permainan interpretasi karena itu memberi kesenangan dari apa yang kita lihat dan renungkan.
“Namun pandangan terhadap bintang-bintang selalu membuatku bermimpi. Mengapa, kataku pada diri sendiri, bintik-bintik cahayaa di kubah langit kurang bisa kita lihat (di Belanda) daripada bintik-bintik hitam di peta Perancis? Sama seperti saat kita naik kereta api ke Tarascon atau Rouen (dua kota di Perancis), kematian membawa kita pergi ke bintang,” tulis van Gogh di suratnya.
Ketidakjelasan batas antara fakta ilmiah dan imajinasi itulah yang membuat interpretasi astronomi terhadap karya seni akan senantiasa menimbulkan ambiguitas visual. Meski demikian, Rogan Brown dalam American Scientist, Maret-April 2017, menilai ambiguitas visual itu penting. Jika karya seni tunduk sepenuhnya pada akurasi ilmiah, maka karya itu hanya akan menjadi ilustrasi ilmiah. Sebaliknya, seni juga harus mendorong permainan interpretasi karena itu memberi kesenangan dari apa yang kita lihat dan renungkan. Meski sering dianggap bertentangan, fakta yang mengandalkan logika dan imajinasi yang menekankan pada kebebasan sama-sama lahir dari rasa ingin tahu manusia dan dibutuhkan oleh seni.
Jadi, perdebatan kapan waktu pasti Malam Berbintang dibuat oleh van Gogh mungkin tidak akan pernah menemui jawaban pasti karena lukisan bukan ilustrasi ilmiah dan kaya akan imajinasi.






Komentar (0)