Jalan yang Berbeda, Tujuan yang Sama

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

Hari ini, 28 Oktober 2026, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98. Bagi saya, peringatan ini terasa dekat dengan perjalanan tiga anak kami yang saat ini masih berada dalam fase pemuda. Besok, Kamis, 29 Oktober 2026, kami akan kembali mengantar putri bungsu kami, Neisya Reehanna ke Bandara Internasional Yogyakarta. Pada akhir Agustus 2025, kami mengantarnya berangkat ke Australia untuk mengikuti International Science Fair, ASMS-ISF 2025. Kali ini tujuannya lebih jauh, yaitu Kyoto, Jepang, untuk mengikuti Japan Super Science Fair (JSSF) 2026 yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 4 November 2026.

JSSF diselenggarakan oleh Ritsumeikan High School di Kyoto sebagai bagian dari program Super Science High School yang dimulai pemerintah Jepang sejak 2002. Selama lima hari, siswa dari berbagai negara mempresentasikan penelitian, mengikuti sesi poster dan lokakarya berbasis pemecahan masalah, sekaligus bertukar budaya.

Neisya bersama dua rekannya akan mempresentasikan penelitian berjudul “Enhancing the Operational Longevity of Butterfly Pea Flower (Clitoria ternatea L.) Dye-Based DSSCs via Bilimbi (Averrhoa bilimbi L.) Interfacial Passivation”. Dalam bahasa sehari-hari, penelitian ini menjawab persoalan yang sangat nyata, yaitu bagaimana membuat sel surya berbasis pewarna alami lebih awet.

Hasil penelitian yang dilakukan mereka tentu masih dalam tahap awal, namun yang menarik dicermati adalah justru perjalanan penelitian yang telah mereka lakukan. Eksplorasi awal dengan kulit manggis ternyata tidak menghasilkan pola serapan yang diharapkan, sehingga tim harus berganti bahan dan memulai kembali penelitiannya. Pelajaran yang pernah dituliskan di kolom Lentera ini kembali terlihat, yaitu penemuan sering lahir dari rencana yang harus diubah.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Pola yang sama saya temui di ruang bimbingan dan seminar hasil penelitian di Universitas Amikom Yogyakarta. Penelitian yang baik berangkat dari persoalan nyata, diuji dengan metode yang jelas, dilaporkan secara jujur termasuk keterbatasannya, dan ditutup dengan rekomendasi untuk langkah berikutnya. Sebuah prinsip yang berlaku, mulai dari siswa SMA di laboratorium sampai dengan bagi mahasiswa Doktoral yang menyusun disertasi.

Jika dilihat dari jauh, perjalanan Neisya hanyalah satu dari tiga jalan berbeda yang ditempuh anak-anak kami. Anak sulung kami, Naufal Rasendriya menekuni bidang Hubungan Internasional. Najwa Rashika memilih Teknik Dirgantara dan kini melanjutkan studi Magister di ITB. Neisya, si bungsu, condong ke kimia dan bercita-cita kuliah di bidang Farmasi. Menariknya, tidak satu pun dari ketiganya mengikuti jalur Ilmu Komputer yang kami tekuni.

Hari ini, dari berbagai berita kita juga menyaksikan pemuda memilih berbagai cara untuk menyampaikan kepedulian. Sebagian turun ke jalan menyuarakan aspirasi, sebagian berkarya di ruang-ruang akademik, laboratorium, dan forum ilmiah, bahkan sebagian lainnya membawa nama Indonesia ke forum internasional. Bentuknya berbeda, tetapi semuanya menunjukkan bahwa pemuda tidak pernah benar-benar diam terhadap zamannya.

Perbedaan jalan seperti ini mengingatkan pada peristiwa tahun 28 Oktober 1928, di penghujung Kongres Pemuda II, para pemuda dan pelajar dari berbagai organisasi kedaerahan mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Mereka datang dari latar yang berbeda-beda, tetapi menemukan satu cita-cita bersama.

Perbedaan jalan tidak harus memecah, dan keunikan masing-masing justru dapat bermuara pada tujuan yang sama. Kami terus belajar bahwa setiap pribadi memiliki keunikannya sendiri, dan tugas orang tua bukanlah menentukan jalan. Tugas kami adalah mendorong, mendukung, dan memfasilitasi.

Mendorong berarti memberi keberanian untuk mencoba, termasuk ketika hasilnya belum pasti. Mendukung berarti hadir ketika proses tidak berjalan semulus rencana, misalnya ketika sebuah eksperimen harus diulang dari awal. Memfasilitasi berarti membukakan pintu, entah berupa waktu, akses, atau sekadar mengantar ke bandara.

Prinsip yang sama berlaku di kampus. Mahasiswa yang duduk di ruang kuliah Universitas Amikom Yogyakarta datang dengan keunikan masing-masing. Ada yang tajam dalam logika pemrograman, ada yang kuat dalam desain, ada yang piawai menganalisis data, ada yang pandai berkomunikasi dan memimpin, dan ada pula yang baru menemukan minatnya di semester-semester akhir.

Dosen dan pembimbing yang baik tidak menyeragamkan mereka. Tugas kami adalah melihat potensi masing-masing, lalu mendorong, mendukung, dan memfasilitasinya. Dalam bimbingan tesis dan disertasi, hal ini terasa nyata. Topik yang sesuai dengan keunikan mahasiswa akan membuatnya bertahan lebih lama menempuh jalan yang panjang dibandingkan topik yang dipilih karena kesukaan pembimbingnya.

Sebagai Direktur LPPM, saya melihat peran memfasilitasi itu juga melekat pada lembaga. Hibah penelitian, forum ilmiah, pendampingan publikasi, dan jejaring kolaborasi adalah cara kampus membukakan pintu. Namun pintu hanya akan berarti jika ada yang bersedia melangkah masuk dengan rasa ingin tahunya sendiri.

Mahasiswa kita adalah pemuda hari ini. Jika pemuda 1928 memperjuangkan bahasa persatuan agar bangsa ini bisa berbicara dengan satu suara, tantangan pemuda hari ini berbeda, yaitu berbicara dalam bahasa ilmu pengetahuan agar suara Indonesia terdengar di forum-forum dunia.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.’ Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra’: 84)

Semoga Neisya dan teman-temannya lancar dalam perjalanan dan presentasinya. Semoga pula setiap anak, juga setiap mahasiswa, menemukan jalan terbaiknya bersama orang tua dan pendidik yang mau mendorong, mendukung, dan memfasilitasi. Selamat Hari Sumpah Pemuda. Wallāhu a’lam.

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tayangkan film terbarunya di Tokyo, Garin Nugroho: "Free Palestine!"
• 8 jam lalu
0
thumb
Dony Oskaria-Andre Rosiade Tinjau Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik, Solusi Atasi Masalah di Sumbar
• 22 jam lalu
0
thumb
Asuransi Astra Buka Lowongan Management Trainee, Ini Kualifikasi dan Cara Daftarnya
• 7 jam lalu
0
thumb
Peneliti: UNCAC Tak Wajibkan UU Perampasan Aset Adopsi Illicit Enrichment dan NCB
• 7 jam lalu
0
thumb
Ada unjuk rasa, Dishub DKI lakukan rekayasa lalin di beberapa titik
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.