Dividen Saham Bisa Jadi Penghasilan Pasif, Cari Tahu Tips dan Simulasinya

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Ada dua sumber keuntungan yang bisa diperoleh investor dari saham. Yang pertama berasal dari kenaikan harga saham (capital gain), sedangkan yang lainnya didapat dari pembagian dividen.

Bagi investor yang ingin membangun pendapatan pasif, dividen dapat menjadi salah satu sumber penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidup. Lalu bagaimana tips agar itu bisa terwujud?

Perencana keuangan Melvin Mumpuni mengatakan, untuk bisa hidup dari dividen, investor perlu melakukan beberapa hal. Mulai dari menghitung modal yang dibutuhkan, memahami potensi hasil investasi, serta mempertimbangkan risiko yang menyertainya.

“Banyak calon klien yang saya temui ingin hidup dari dividen dan hampir semuanya melakukan kesalahan yang sama, yaitu langsung sibuk mencari saham dengan dividen paling tinggi tanpa pernah menghitung apakah jumlahnya cukup untuk membiayai hidup mereka,” ujar Melvin dalam video di kanal YouTube Finansialku.com bertajuk Cape Kerja, Mau Hidup dari Dividen Saham Butuh Modal Berapa?, dikutip pada Rabu (28/10).

Menurut Melvin, investor sebaiknya menghitung kebutuhan pendapatan terlebih dulu sebelum memilih saham dan menyusun strategi investasi dividen.

Cara Menghitung Modal untuk Mendapatkan Penghasilan Pasif dari Dividen

Melvin menjelaskan, konsep hidup dari dividen pada dasarnya mirip dengan memiliki bisnis. Pemilik bisnis berhak atas keuntungan setelah perusahaan membayar seluruh biaya operasional. Sementara itu, pemegang saham mendapat bagian keuntungan perusahaan ketika emiten membagikan dividen.

Bedanya, investor saham tidak perlu menjalankan operasional bisnis secara langsung. Sebab, perusahaan dikelola oleh jajaran direksi dan manajemen.

Untuk menghitung modal yang dibutuhkan, investor dapat menggunakan target pendapatan tahunan dan asumsi dividend yield, yaitu rasio dividen terhadap harga saham.

Dia mencontohkan, jika investor menargetkan pendapatan dividen Rp 100 juta per tahun dengan asumsi dividend yield 10%, modal yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 1 miliar. Perhitungan sederhananya adalah Rp 100 juta dibagi 10%.

Namun, kebutuhan modal bisa berbeda apabila investor turut memperhitungkan inflasi. Dalam simulasi Melvin, jika dividend yield diasumsikan 10% dan inflasi 5% per tahun, modal yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 2 miliar. Perhitungannya menggunakan selisih kedua persentase tersebut (10%-5%=5%), sehingga menjadi Rp 100 juta dibagi 5%.

Kendati demikian, simulasi itu merupakan penyederhanaan perhitungan. Dalam praktiknya, hasil investasi, pertumbuhan dividen, perubahan harga saham dan inflasi dapat berubah dari tahun ke tahun.

Memahami Dividend Yield dan Yield on Cost

Menurut Melvin, investor tidak cukup hanya melihat dividend yield yang tercantum dalam aplikasi saham. Investor jangka panjang juga perlu memahami yield on cost, yaitu rasio dividen yang diterima terhadap harga beli saham awal.

Dia memberikan ilustrasi, seseorang membeli saham perusahaan pengembang pada 2020 dengan harga Rp 310 per lembar. Dengan modal sekitar Rp 300 juta, investor tersebut memperoleh sekitar 967.000 lembar saham.

Dividen yang diterima investor itu berfluktuasi setiap tahun. Pada 2021, nilainya sekitar Rp 14 juta, kemudian meningkat menjadi Rp 97 juta pada 2022. Lalu, dividen yang diterima turun menjadi Rp 39 juta pada 2023, dan naik menjadi Rp 73 juta pada 2024. Pada 2025, dividen yang diterima mencapai sekitar Rp 106 juta dan bertahan pada kisaran yang sama pada 2026.

Dengan begitu, akumulasi dividen selama enam tahun yang didapat investor itu mencapai sekitar Rp 435 juta, melampaui modal awal sekitar Rp 300 juta. Perhitungan ini belum memperhitungkan pajak, biaya transaksi dan perubahan nilai investasi.

Bagi investor yang baru membeli saham tersebut pada 2026 dengan harga Rp 1.064 per lembar, dividen Rp 110 per lembar setara dengan dividend yield sekitar 10%. Namun, bagi investor yang membeli saham pada harga Rp 310 per lembar, dividen yang sama menghasilkan yield on cost sekitar 35%.

Perbedaan itu menunjukkan harga beli saham juga menentukan besarnya hasil dividen dibandingkan modal awal. Meskipun begitu, dividen masa lalu tidak menjamin besaran dividen pada masa mendatang.

Memulai Investasi Dividen secara Bertahap

Melvin menuturkan, investor tidak harus menunggu memiliki modal miliaran rupiah untuk mulai membangun portofolio dividen. Investor dapat memulai dengan modal yang ada, kemudian menambah kepemilikan saham secara bertahap.

Dia mengatakan, hal yang tidak kalah penting adalah memiliki rencana investasi atau roadmap yang jelas. Tanpa perencanaan, investor berisiko terus mengubah strategi, mulai dari mengejar saham dividen, beralih ke saham yang sedang naik hingga mengikuti tren investasi lainnya.

Perubahan strategi yang terlalu sering dapat membuat target pendapatan pasif sulit tercapai.

Menurut Melvin, membangun penghasilan dari dividen membutuhkan waktu dan konsistensi. Investor perlu mempertahankan strategi jangka panjang sembari mengevaluasi kinerja bisnis dan kemampuan perusahaan membagikan dividen.

Simulasi Keuntungan Dividen Saham Bank Selama 10 Tahun

Selain menghitung kebutuhan modal untuk hidup dari dividen, Melvin juga membahas potensi pendapatan dividen dari saham perbankan. Hal dia paparkan dalam video YouTube bertajuk Saya Hitung Keuntungan Dividen Bank 10 Tahun.

Dia mengingatkan investor untuk melihat saham bank sebagai kepemilikan atas suatu bisnis. Bukan sekadar instrumen untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga saham.

Bank memperoleh pendapatan antara lain dari selisih bunga kredit dan bunga simpanan atau net interest margin (NIM). Selain itu, bank menghasilkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income, serta pendapatan dari aktivitas pengelolaan surat berharga dan valuta asing.

Setiap bank memiliki karakteristik bisnis dan sumber pendapatan yang berbeda. Karena itu, kemampuan menghasilkan laba dan membagikan dividen juga tidak selalu sama.

Melvin mencontohkan investasi saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Jika investor membeli saham BMRI 10 tahun lalu pada harga Rp 2.775 per saham, modal Rp 277,5 juta akan menghasilkan kepemilikan sebanyak 100.000 lembar saham atau 1.000 lot.

Berdasarkan simulasi yang disampaikan Melvin, akumulasi dividen selama periode 2017–2026 mencapai Rp 277,398 juta sebelum pajak. Nilai tersebut hampir menyamai modal awal Rp 277,5 juta, belum termasuk potensi keuntungan dari kenaikan harga saham.

Melvin juga membandingkan rata-rata dividend yield historis sejumlah saham perbankan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan simulasi yang dipaparkannya, PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR) memiliki rata-rata yield sekitar 8,97%, sedangkan PT Bank Jatim Tbk (BJTM) sekitar 8,74%.

Sementara itu, rata-rata yield PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai 6,27%, BMRI sebesar 5,62%, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sekitar 3,07%.

Dalam tiga tahun terakhir, rata-rata yield BBRI dan BMRI masing-masing meningkat menjadi sekitar 8,32% dan 6,82%.

Melvin juga menyoroti konsistensi pembagian dividen. Menurut data yang dipaparkannya, BBRI, BMRI, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan BBCA memiliki rekam jejak pembagian dividen tahunan selama 18 tahun berturut-turut.

Kendati demikian, dividend yield yang tinggi tidak otomatis menunjukkan saham yang lebih menarik. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi bisnis, harga saham dan keberlanjutan pembagian dividen.

Menghitung Harga Saham Berdasarkan Dividen Historis

Untuk memperkirakan kewajaran harga saham bank, Melvin menggunakan pendekatan sederhana dengan mengalikan rata-rata dividen historis dengan kelipatan atau multiplier tertentu, seperti 10 kali, 15 kali, dan 20 kali.

Dalam simulasi saham BJTM, rata-rata dividen selama lima tahun mencapai Rp 55,29 per lembar. Dengan pendekatan tersebut, perkiraan harga sahamnya menjadi Rp 553 pada kelipatan 10 kali, Rp 829 pada kelipatan 15 kali, dan Rp 1.106 pada kelipatan 20 kali.

Jika menggunakan harga saham Rp 520, investor membutuhkan waktu sekitar 9,4 tahun untuk mengembalikan modal pembelian melalui dividen dengan asumsi dividen tetap sebesar Rp 55,29 per lembar setiap tahun.

Sementara itu, rata-rata dividen BBRI selama lima tahun mencapai Rp 328,52 per lembar. Perkiraan harga sahamnya menjadi Rp 3.285 pada kelipatan 10 kali, Rp 4.928 pada kelipatan 15 kali dan Rp 6.570 pada kelipatan 20 kali.

Dengan asumsi harga saham Rp 3.240 dan dividen tetap Rp 328,52 per lembar setiap tahun, periode pengembalian modal melalui dividen mencapai sekitar 9,9 tahun.

Melvin mengingatkan, periode pengembalian modal atau payback period bukan satu-satunya ukuran dalam memilih saham. “Payback period yang lebih cepat bukan satu-satunya tolok ukur, karena investor tidak hanya membeli dividen hari ini melainkan membeli hak atas keuntungan bisnis bank di masa depan,” ujarnya.

3 Risiko Investasi Saham Dividen

Di balik potensi pendapatan pasif, Melvin mengingatkan strategi investasi dividen juga memiliki sejumlah risiko. Dalam video YouTube bertajuk 3 Risiko Passive Income Saham Dividen yang Jarang Dibahas, ia menjelaskan tiga hal yang perlu diperhatikan investor.

Pertama, pertumbuhan perusahaan yang terbatas. Perusahaan yang rutin membagikan dividen umumnya telah memasuki fase bisnis yang lebih matang atau mature. Pada fase ini, pertumbuhan perusahaan dapat melambat dibandingkan ketika bisnis masih berkembang pesat.

Manajemen perusahaan yang sudah matang mungkin memilih membagikan sebagian besar laba kepada pemegang saham daripada menginvestasikannya kembali untuk ekspansi.

Bagi investor, kondisi tersebut dapat memberikan pendapatan dividen yang menarik. Namun, investor juga perlu mempertimbangkan potensi pertumbuhan harga saham dan keuntungan total atau total return dalam jangka panjang.

Kedua, rasio pembagian dividen yang terlalu tinggi. Laba bersih perusahaan dapat digunakan untuk membiayai belanja modal atau capital expenditure (capex), biaya operasional atau operational expenditure (opex), serta dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Melvin mencontohkan BJBR yang dalam paparannya memiliki dividend payout ratio (DPR) sekitar 77,81%.

DPR merupakan rasio laba bersih yang dibagikan sebagai dividen. Dengan rasio tersebut, sekitar 22,19% laba tersisa untuk kebutuhan lain, termasuk penguatan modal dan pengembangan bisnis, sesuai kebutuhan perusahaan.

Jika porsi laba yang dibagikan terlalu besar, perusahaan berpotensi memiliki ruang lebih terbatas untuk mengembangkan teknologi, memperluas layanan, dan meningkatkan daya saing.

Sebaliknya, perusahaan yang menahan sebagian laba untuk investasi kembali atau reinvestment berpeluang memperkuat bisnisnya. Namun, keputusan tersebut tetap harus dinilai berdasarkan efektivitas penggunaan modal dan prospek pertumbuhan perusahaan.

Ketiga, terjebak pada perusahaan siklikal. Risiko lain muncul ketika investor mengejar dividen besar dari perusahaan siklikal atau cyclical companies, terutama emiten yang bisnisnya bergantung pada harga komoditas.

Melvin mencontohkan sejumlah emiten batu bara, seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Perusahaan-perusahaan tersebut dapat membukukan laba dan membagikan dividen besar ketika harga komoditas meningkat. Namun, ketika harga komoditas turun, pendapatan dan laba perusahaan berpotensi menyusut sehingga dividen yang dibagikan ikut berkurang.

Akibatnya, pendapatan pasif investor dari saham-saham tersebut tidak selalu stabil dari tahun ke tahun.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dua Kali Mangkir, KPK Pertimbangkan Pemanggilan Ulang Nusron Wahid
• 18 jam lalu
0
thumb
Dipanggil Prabowo, BRIN Bakal Percepat Riset Vaksin Malaria
• 20 jam lalu
0
thumb
Bamsoet Soroti Konflik Papua, Dorong Ketegasan hingga Pemerataan Pembangunan
• 10 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Tambah Transfer ke Daerah jadi Rp 720 T, Salah Satunya karena Bencana
• 17 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Naik 1 Persen di Tengah Penantian Keputusan The Fed
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.