Jakarta, VIVA – Microsoft menghadapi desakan untuk mengubah cara kerja organisasinya agar mampu bersaing dengan OpenAI dan Anthropic. Mantan manajer produk Microsoft, Merill Fernando, menilai perusahaan teknologi raksasa itu perlu mengurangi jumlah karyawan dan lebih mengandalkan agen kecerdasan buatan atau AI agents.
Pernyataan tersebut muncul ketika Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan yang memenuhi syarat di India, Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada.
Namun, Microsoft belum menyatakan bahwa program tersebut bertujuan mempercepat adopsi AI atau berkaitan dengan kritik Fernando.
Dalam unggahannya di platform X, Fernando menilai skala bisnis, infrastruktur, dan basis pelanggan Microsoft belum cukup untuk mempertahankan daya saing apabila perusahaan tidak mampu bergerak cepat. "Microsoft membutuhkan lebih sedikit orang," tulis Fernando, seraya menambahkan bahwa perusahaan perlu lebih mengandalkan pekerjaan berbasis agen AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan tugas dan alur kerja bertahap dengan tingkat pengawasan manusia yang berbeda-beda, sebagaimana dikutip dari The Economic Times, Rabu (28/10/2026).
"Saat ini OpenAI dan Anthropic meluncurkan produk dengan kecepatan yang tidak bisa ditandingi Microsoft," katanya. "Microsoft harus berubah untuk bertahan hidup."
Fernando mengatakan, pengalamannya bekerja di Microsoft memperlihatkan bagaimana struktur organisasi yang rumit dapat menghambat penerapan teknologi, bahkan ketika manfaatnya sudah jelas. "Saya pernah berada di dalam perusahaan. Saya melihat bagaimana berbagai hal dibuat. Banyak organisasi kecil. Lapisan demi lapisan. Sekat-sekat di mana-mana," tulisnya.
Ia mencontohkan fitur keamanan bernama managed identities yang dikembangkan tim Microsoft Entra pada 2017. Fitur ini memungkinkan aplikasi dan layanan melakukan autentikasi tanpa menanamkan rahasia konvensional secara langsung dalam kode.
Menurut Fernando, tim pengembang kesulitan meyakinkan unit lain di Microsoft untuk mengadopsi fitur tersebut. Setiap tim memiliki prioritas dan pengambil keputusan masing-masing sehingga penerapannya berjalan lambat.
Fernando mengklaim adopsi fitur tersebut baru meningkat setelah Microsoft mengalami insiden keamanan dan meluncurkan Secure Future Initiative (SFI), sebuah upaya perusahaan untuk memperkuat keamanan.
"Microsoft harus diretas terlebih dahulu, dan Secure Future Initiative diluncurkan setelah itu, sebelum berbagai hal benar-benar bergerak. Saat ini hampir setiap aplikasi dan layanan Microsoft mendukung managed identity. Enam tahun, dan sebuah insiden keamanan besar, untuk sampai ke sana."






Komentar (0)