Riset Oxford: 12 Protein Darah Ungkap Risiko Kanker Prostat Lebih dari 15 Tahun Lebih Awal

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA -- Para ilmuwan Universitas Oxford, Inggris, menemukan sejumlah protein dalam darah yang berkaitan dengan risiko seseorang terkena kanker prostat lebih dari 15 tahun sebelum penyakit tersebut didiagnosis. Penemuan ini membuka kemungkinan pengembangan metode penilaian risiko kanker prostat jauh lebih dini, terutama untuk membedakan pria yang berpotensi mengalami kanker agresif dengan mereka yang memiliki risiko lebih rendah.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal medis European Urology pada 22 Oktober 2026 melalui penelitian berjudul Circulating Immune and Cancer Driver Gene Biomarkers Precede Prostate Cancer Diagnosis by over 10 yr. Penelitian yang dipimpin tim Oxford Population Health itu mengungkap bahwa perbedaan kadar protein tertentu sudah dapat ditemukan dalam sampel darah yang diambil bertahun-tahun sebelum seorang pria dinyatakan mengidap kanker prostat.

Baca Juga
  • Mojtaba Khamanei Ungkap Persyaratan Berakhirnya Perang usai Pertemuan dengan Negara Pakta Makkah
  • Partai Palestina Raih Lonjakan Kursi, Netanyahu Terancam Kehilangan Kekuasaan

Dalam keterangan resmi Universitas Oxford yang diterbitkan pada Kamis (22/10/2026), para peneliti menjelaskan bahwa sebanyak 12 protein berkaitan dengan diagnosis kanker prostat yang terjadi lebih dari 15 tahun setelah pengambilan darah. Sementara itu, tujuh protein lainnya ditemukan memiliki hubungan dengan risiko kanker prostat agresif, yakni jenis kanker yang berpotensi berkembang cepat, menyebar, atau mengancam keselamatan pasien.

Namun, penemuan tersebut tidak berarti kanker prostat kini dapat didiagnosis secara akurat 15 tahun sebelum munculnya penyakit. Penelitian ini menemukan hubungan antara karakteristik biologis dalam darah dan diagnosis kanker pada masa mendatang, bukan membuktikan bahwa tumor sudah terbentuk ketika sampel darah pertama kali diambil.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Laporan Euronews pada Selasa (27/10/2026) menyebut penelitian tersebut menawarkan perspektif baru dalam upaya memahami bagaimana risiko kanker prostat berkembang jauh sebelum seseorang menunjukkan tanda-tanda klinis. Jika hasilnya kelak dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan, temuan ini berpotensi membantu dokter menentukan siapa yang membutuhkan pemeriksaan lebih intensif dan siapa yang dapat menghindari prosedur medis yang tidak diperlukan.

Penelitian ini dinilai penting karena kanker prostat tidak selalu berkembang dengan pola yang sama. Sebagian tumor tumbuh sangat lambat dan mungkin tidak pernah mengancam kesehatan penderitanya, sedangkan sebagian lainnya bersifat agresif sehingga dapat menyebar ke organ lain dan menyebabkan kematian.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker prostat. Dokter tidak hanya harus menemukan keberadaan penyakit, tetapi juga berusaha menentukan kanker mana yang perlu segera ditangani dan mana yang dapat dipantau secara hati-hati tanpa pengobatan agresif.

Bagaimana Peneliti Menemukan Petunjuk 15 Tahun Sebelumnya?

Penelitian Oxford menggunakan data European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC), sebuah proyek penelitian kesehatan jangka panjang yang melibatkan peserta dari berbagai negara Eropa. Para peneliti menganalisis sampel plasma darah dari 982 pria yang kemudian didiagnosis menderita kanker prostat dan membandingkannya dengan kelompok acak beranggotakan 1.573 pria dari populasi penelitian yang sama.

Kedua kelompok tersebut memiliki sebagian anggota yang sama karena 79 pria dalam kelompok acak juga termasuk mereka yang belakangan didiagnosis kanker prostat. Dengan demikian, kedua angka tersebut menggambarkan kelompok analisis penelitian dan tidak seluruhnya merupakan peserta yang berbeda.

Para ilmuwan mengukur lebih dari 6.000 jenis protein dalam sampel darah menggunakan teknologi analisis proteomik berkapasitas tinggi. Peserta kemudian ditelusuri melalui data kesehatan dalam periode pengamatan yang memiliki median sekitar 16,5 tahun, sehingga peneliti dapat membandingkan karakteristik protein dengan kejadian kanker yang muncul bertahun-tahun kemudian.

Dari 982 kasus kanker prostat yang diteliti, sebanyak 290 dikategorikan sebagai kanker agresif. Kategori tersebut mencakup tumor dengan tingkat keganasan tinggi, kanker stadium lanjut, kadar prostate-specific antigen atau PSA yang sangat tinggi ketika diagnosis ditegakkan, maupun kasus yang berakhir dengan kematian akibat kanker prostat.

Analisis menemukan bahwa 12 protein dalam darah memiliki hubungan statistik dengan kanker prostat yang baru didiagnosis lebih dari 15 tahun setelah sampel diambil. Temuan tersebut menjadi petunjuk bahwa kondisi biologis tertentu dapat berkaitan dengan risiko penyakit dalam jangka panjang, jauh sebelum kanker teridentifikasi melalui pemeriksaan klinis.

Salah satu protein yang menarik perhatian peneliti adalah GZMK atau granzyme K, yang dihasilkan oleh sel-sel kekebalan tubuh. Protein ini terlibat dalam aktivitas sistem imun ketika mengenali dan merespons sel abnormal, termasuk proses yang berpotensi berhubungan dengan pengawasan terhadap perkembangan sel kanker.

Penelitian menemukan bahwa kadar GZMK yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kanker prostat yang lebih rendah pada kelompok yang baru didiagnosis lebih dari 15 tahun kemudian. Hubungan serupa juga ditemukan pada protein ANXA2, meskipun para ilmuwan belum dapat memastikan apakah kedua protein itu memiliki peran perlindungan langsung atau sekadar mencerminkan proses biologis lainnya.

Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai peran sistem kekebalan tubuh dalam perkembangan kanker prostat. Para peneliti menduga respons imun mungkin sudah berkaitan dengan risiko penyakit jauh sebelum kanker terdiagnosis, tetapi penelitian ini belum membuktikan bahwa meningkatkan kadar protein tertentu dapat mencegah kanker.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pertamina Patra Niaga dorong bank sampah di Cilacap kumpulkan jelantah
• 22 jam lalu
0
thumb
Hasil Torino Vs Como: Nico Paz Pimpin I Lariani Comeback Kilat
• 3 jam lalu
0
thumb
Lokasi Demo BEM UI, Hindari Jalan Ini
• 3 jam lalu
0
thumb
Pelaku Pembunuhan Bobotoh Persib Ditangkap, Umuh Muchtar Apresiasi Polresta Bogor
• 19 jam lalu
0
thumb
Dua Bus Pariwisata Jadi Sasaran Pelemparan Batu di Tol Sumo pada Jumat Dini Hari
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.