Menperin Apresiasi Toyota Indonesia Produksi Mobil Berbahan Bakar Etanol

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan apresiasi terhadap komitmen Toyota Indonesia atas pengembangan teknologi kendaraan ramah lingkungan berbasis energi terbarukan. Salah satunya adalah pemanfaatan bahan bakar etanol.

Langkah manufaktur asal Jepang ini dinilai sejalan dengan peta jalan transisi energi nasional. Komitmen tersebut dibuktikan lewat kesiapan lini produksi kendaraan Toyota yang sudah mampu mengadopsi bahan bakar bioetanol hingga kadar 20 persen (E20).

Menteri Perindustrian (Menperin) Republik Indonesia, Sarmuji mengutarakan bahwa pencapaian teknis Toyota tersebut bahkan telah melampaui tenggat target tahap awal yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Tadi kita sampaikan kerja sama Indonesia-Jepang itu sudah advanced dan Toyota kita berikan apresiasi karena sudah memproduksi mobil yang kompatibel dengan E20. Padahal kita baru menargetkan E10, tetapi Toyota sudah mendahului bisa membuat mobil yang kompatibel sampai E20," ujar Sarmuji di kantor Kemenperin Jakarta, Selasa (27/10).

Pengembangan teknologi kendaraan yang dapat menggunakan bahan bakar lebih fleksibel (Flex-Fuel) berbasis E20 diprediksi membawa dampak positif yang luas bagi ekosistem industri manufaktur dalam negeri.

Sarmuji juga menambahkan bahwa peningkatan porsi bioetanol pada sektor transportasi secara langsung akan menggairahkan rantai pasok agribisnis lokal.

"Tentu ini punya pengaruh yang cukup besar karena target pemerintah untuk E10 itu tujuannya salah satunya adalah menumbuhkan industri dalam negeri, khususnya berbasis bioetanol," katanya.

Toyota banyak kembangkan kendaraan Flexy-Fuel, sudah diproduksi di Indonesia

Istilah flexy fuel sendiri adalah salah satu bentuk alternatif dari Toyota pada produk-produknya yang mampu menenggak bahan bakar fosil dengan campuran bioetanol yang memiliki kadar tinggi. Sehingga komposisi minyak bumi dalam BBM tersebut mampu ditekan.

Indonesia, menurut Ahli Proses Konversi Biomassa Institut Teknologi Bandung (ITB) Ronny Purwadi bisa menghasilkan bioetanol dari berbagai sumber daya alam. Mulai dari bahan yang mengandung gula dari nira tebu, batang sorgum, atau batang sawit.

Bisa juga dari bahan lain yang mengandung pati seperti singkong, jagung, sagu, dan sorgum. Pada inovasi berikutnya, bioetanol bisa dihasilkan dari tandan kosong sawit, bagase tebu, tongkol jagung, serbuk gergaji, dan jerami padi.

Toyota pertama kali memperkenalkan konsep flexy fuel vehicle (FFV) di ajang pameran otomotif GIIAS 2024 Juli lalu, adapun teknologinya sendiri sudah dikembangkan pabrikan lebih dari satu dekade lalu. Salah satu model yang sudah masuk kategori FFV adalah Fortuner.

Bahkan model hibrida jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV) seperti Kijang Innova Zenix HEV sudah kompatibel dengan bahan bakar tersebut. Menariknya, kemampuan tersebut tanpa melakukan ubahan spesifikasi teknisnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kejar Lifting Minyak 612.500 BPH 2027, Begini Strategi SKK Migas
• 14 jam lalu
0
thumb
Warga Syok Dwi Bagus Bunuh Istri Siri dan Anak: Kemarin Habis Haji
• 20 jam lalu
0
thumb
Pemkot Surabaya Tutup Penampungan ART Diduga Tak Berizin
• 18 jam lalu
0
thumb
Demo Mahasiswa Hari Ini di Jakarta, Andi Memastikan Tidak Mengerahkan Massa
• 2 jam lalu
0
thumb
Ribuan Mahasiswa Gelar Unjuk Rasa di DPR hingga HI, Polda Metro Imbau Jaga Ketertiban
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.