KUPU Sutera (Karya Usaha Petani Unggul) yang dikembangkan pasangan ini berbeda dengan pengembangan sutera konvensional. KUPU Sutera menggunakan serat sutera samia yang merupakan inovasi fesyen berbasis serat alami ramah lingkungan. Sutera samia memanfaatkan kepompong ulat sutera (kokon) agar bisa diolah setelah ngengat keluar sehingga tidak harus membunuh kepompong.
“Selama ini, kita tahu sutera itu selalu mengkilap. Sedangkan yang kita kembangkan adalah sutera yang tidak mengkilap tetapi kelembutannya sama serta tidak membuat alergi,” jelas Luh Gde saat diwawancara kumparan di INACRAFT October Vol. 5 2026, Jumat (9/10).
Selain menghasilkan serat alami yang mudah terurai, produksi KUPU Sutera juga menggunakan pewarna alami dan menggandeng perajin lokal di sekitar basis produksinya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Dari serat dan benang, KUPU Sutera mengolahnya menjadi berbagai produk fesyen seperti kain, tas, hingga sepatu. Serat sutra samia yang dihasilkan KUPU Sutera juga digunakan untuk dekorasi rumah seperti taplak dan sarung bantal.
Selain menggunakan serat sutera alami, KUPU Sutera juga konsisten mengembangkan bahan baku berbasis alam yang ramah lingkungan. Dalam pembuatan sepatu, misalnya, KUPU Sutera menggunakan sol yang mudah terurai.
“Kita menggunakan sol biodegradable yang bisa terurai dalam beberapa waktu. Pewarnanya juga menggunakan pewarna alam,” sebut Luh Gede.
Tidak hanya produk fesyen yang ramah lingkungan, KUPU Sutera juga memaksimalkan pemanfaatan berbagai bagian dari proses budidaya dan pengolahan ulat sutera. Selain diolah menjadi serat untuk pembuatan benang dan kain, kotoran ulat sutera dimanfaatkan sebagai bahan kompos tanaman.
Luh Gede juga menjelaskan pupa (ulat sutera yang akan menjadi ngengat) menjadi bahan pakan ternak dan mengatasi stunting. Dalam tahap riset, rebusan kepompong juga sedang dikembangkan sebagai bahan baku dengan nama Serinsin untuk bahan baku kosmetik dan kesehatan.
Riset ini dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Semenjak mengembangkan bisnisnya dari 2016, pemberdayaan petani dan perajin lokal menjadi salah satu fokus bisnis KUPU Sutera. Kini, KUPU Sutera telah bermitra dengan sekitar 30 petani sutera samia yang juga memasok bahan produksi KUPU Sutera.
Luh Gde Indrawati juga menyebut, KUPU Sutera menggandeng berbagai desainer dan pengrajin lokal seperti pengrajin batik dan kulit untuk pengembangan produk menjadi sepatu, scarf, kain dan berbagai produk lainnya. Dengan begitu, KUPU Sutera tidak hanya memperluas variasi produk tetapi juga mengembangkan pasokan dari hulu sampai hilir.
Ekspansif bersama PertaminaDedikasi, konsistensi serta inovasi KUPU Sutera membuat mereka diganjar penghargaan. Di tahun 2023, mereka mendapatkan penghargaan sebagai IKM Hijau kategori Produk Kreatif Ramah Lingkungan dari Gubernur Jawa Timur. Penghargaan tersebut, diakui Luh Gde, menjadi pemantik untuk terus konsisten dalam menghadirkan produk bisnis yang modern sekaligus ramah lingkungan.
“Kita harus memikirkan bagaimana cara kita bertanggung jawab kepada lingkungan tanpa harus merusak lingkungan,” tambah dia.
Hal itu pula yang membuat PT Pertamina (Persero) akhirnya melirik KUPU Sutera menjadi Mitra Binaan. Bergabung sebagai Mitra Binaan Pertamina pada 2026, sebut Luh Gde Indrawati, membuka kesempatan bagi KUPU Sutera untuk memperkuat pengembangan bisnis dan memperkenalkan produknya ke pasar yang lebih luas.
Selain memperoleh pelatihan branding, usaha yang mengolah sutra alam menjadi produk fesyen dan dekorasi rumah ini juga memanfaatkan kesempatan mengikuti pameran untuk lebih banyak berinteraksi dengan calon konsumennya.
“Buat kami itu penting karena produk KUPU Sutera membutuhkan edukasi ke konsumen yang lebih panjang dan menyeluruh,” jelasnya.
Kini, setelah hampir 10 tahun mengembangkan KUPU Sutera, Luh Gde Indrawati mengakui, tantangan besar bisnisnya adalah terus mengedukasi konsumennya terkait dengan keunggulan serat sutera yang belum terlalu umum di dunia fesyen.
“Harapannya kita bisa mengenalkan sutera semakin luas, bukan hanya di daerah tetapi juga seluruh Indonesia sehingga lebih banyak yang bisa mengenal dan menggunakan serat alam ini,” katanya.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan produk-produk yang ramah lingkungan tetap dapat tumbuh besar.
"Produk KUPU Sutera menunjukkan bahwa inovasi berbasis kearifan lokal dapat menjadi solusi bagi tantangan lingkungan sekaligus menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat. Dengan kolaborasi yang tepat, produk lokal berkelanjutan memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar nasional maupun global," kata Baron.






Komentar (0)