jpnn.com, BENER MERIAH - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) bersama pemerintah daerah meninjau tiga titik jembatan di kawasan Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Jumat, (16/10).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan pemulihan akses transportasi yang turut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat pascabencana.
BACA JUGA: Perkuat Industri Penjaminan, Jamkrindo Pacu Penguatan Bisnis & Optimalisasi Portofolio
Ketua Tim Satgas PRR Wilayah Aceh, Imran memimpin peninjauan ke kawasan yang berjarak cukup jauh dari pusat Kabupaten Bener Meriah.
Rombongan melihat kondisi infrastruktur penghubung yang rusak dan mendengarkan langsung kebutuhan warga.
BACA JUGA: BTN Targetkan Bangun 200 Ribu Unit Rumah Rendah Emisi Pada 2030
Salah satu titik yang telah mendapat kepastian anggaran adalah Jembatan Lame.
Adapun penanganan dua titik jembatan lainnya masih diupayakan melalui koordinasi lintas pemerintahan. Percepatan pemulihan akses dinilai penting untuk menghubungkan kembali permukiman dengan lahan pertanian dan mendukung mobilitas warga.
BACA JUGA: Disney+ dan ESPN Tayangkan Siaran Langsung NBA Action
Ada tiga titik yang menjadi perhatian berada di kawasan Gerpa, Payung, dan Lame.
Ketiganya dibutuhkan untuk menunjang pergerakan warga, terutama yang bergantung pada lahan pertanian dan perkebunan.
Mukim Samarkilang, Iskandar mengatakan kerusakan jembatan menyulitkan masyarakat menjangkau lahan pertanian dan mengangkut hasil panen. Sejumlah kampung yang membutuhkan akses tersebut antara lain Gerpa, Kerlang, Goneng, Geruti Jaya, Tempen Baru, dan Payung.
“Yang sangat dibutuhkan itu dua jembatan, satu di antara Gerpa dan satu di antara Kampung Lame dan Payung. Itu sangat dibutuhkan karena sebagai penunjang ekonomi masyarakat,” ujar Iskandar.
Menurut Iskandar, sekitar 80 persen persawahan warga berada di seberang sungai. Sebelum bencana, jembatan menjadi jalur penting untuk mencapai lahan sekaligus membawa hasil panen ke pusat perdagangan.
Kerusakan akibat bencana tidak hanya memutus akses transportasi, tetapi juga berdampak pada lahan pertanian dan jaringan irigasi. Sebagian sawah tertimbun material, sementara kerusakan saluran pengairan membuat sejumlah warga beralih menanam padi darat sambil menunggu pemulihan.
Dampak tersebut turut dirasakan sektor wisata lokal.
Selain jembatan, warga menyampaikan kebutuhan pemulihan layanan air bersih. Sumber air yang sebelumnya digunakan mengalami kerusakan, sedangkan sumber alternatif berjarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman.
Iskandar mengatakan kebutuhan air bersih tersebut menyangkut pelayanan dasar bagi sekitar 500 kepala keluarga atau diperkirakan 2.650 jiwa di kawasan Samarkilang.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada





Komentar (0)