Modal BCA Masih Jumbo, Peluang Bagi Dividen Tetap Terbuka

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memastikan kondisi permodalan perseroan masih kuat di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai dua digit sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Direktur BCA Vera Eve Lim mengungkapkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perseroan mencapai 27,1% pada September 2026.

Angka tersebut berada jauh di atas kebutuhan minimum permodalan BCA yang disebut berada di kisaran 14,5%.

"Sebenarnya permodalan BCA berada pada level yang sangat baik. Pada posisi September, CAR BCA berada di 27,1%," ujar Vera dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal III 2026 secara daring, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, posisi CAR tersebut memberikan ruang yang masih cukup besar bagi BCA untuk mendukung pertumbuhan bisnis, termasuk ekspansi penyaluran kredit.

"Kalau kita tahu bahwa kebutuhan minimum CAR BCA sekitar 14,5%, maka ruang untuk mendukung pertumbuhan melalui permodalan BCA masih sangat baik," jelasnya.

Vera memperkirakan rasio kecukupan modal BCA hingga akhir 2026 tidak akan mengalami perubahan signifikan.

Perseroan memproyeksikan CAR berada di kisaran 27,4% pada penghujung tahun.

"Proyeksi kami pada akhir tahun, CAR tidak jauh berbeda, yakni sekitar 27,4%," katanya.

Vera juga menyinggung kebijakan pembagian dividen secara kuartalan yang mulai diterapkan BCA pada tahun ini.

Menurutnya, pembagian dividen tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam pengelolaan permodalan perseroan, meskipun CAR tetap berada di sekitar 27%.

Di sisi lain, BCA turut merespons kebijakan pelonggaran giro wajib minimum (GWM) sebesar dua poin persentase oleh Bank Indonesia.

Vera menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan bank sentral yang dinilai mendukung pertumbuhan industri perbankan nasional.

"Kami berterima kasih kepada Bank Indonesia yang selalu mendukung pertumbuhan industri perbankan," ungkapnya.

Menurut Vera, pelonggaran GWM tersebut telah memberikan dampak terhadap BCA. Berdasarkan perhitungan terakhir yang disampaikan dalam konferensi pers, manfaat pelonggaran yang diterima perseroan berada di kisaran satu poin persentase.

"Pelonggaran GWM sebesar 2% sudah sampai ke BCA, di mana dari perhitungan terakhir kami mendapatkan pelonggaran sekitar 1%," jelasnya.

Meski demikian, Vera tidak merinci lebih lanjut nilai nominal tambahan likuiditas yang diperoleh BCA dari kebijakan tersebut.

Kondisi permodalan dan likuiditas yang terjaga menjadi faktor pendukung ekspansi pembiayaan BCA sepanjang 2026.

Baca Juga: Laba BCA Tembus Rp45,2 Triliun, Tumbuh 4,2% hingga September 2026

Baca Juga: Kredit BCA Naik 12,6%, Tembus Rp1.063 Triliun per September 2026

Hingga September, total kredit perseroan tumbuh 12,6% secara tahunan menjadi sekitar Rp1.006 triliun.

BCA juga mencatat dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8% menjadi sekitar Rp1.301 triliun, didukung pertumbuhan giro dan tabungan sebesar 10,4%.

Dengan posisi CAR yang tetap tinggi, BCA memiliki ruang permodalan untuk melanjutkan ekspansi kredit sambil menjaga prinsip kehati-hatian dan ketahanan likuiditas.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cerita Purbaya Dicap Pelit Istri Gegara Gak Ganti Mobil Puluhan Tahun
• 14 jam lalu
0
thumb
Kotak Infak Masjid di Bantul Dibobol Berkali-kali, Pelaku Ditangkap
• 8 jam lalu
0
thumb
KSPSI Imbau Demo Mahasiswa Besok Berlangsung Damai
• 3 jam lalu
0
thumb
OJK Ungkap 1.199 Pinjol Ilegal hingga September 2026, Ini Modusnya
• 15 jam lalu
0
thumb
Prudential Indonesia Bukukan Premi Asuransi Dwiguna Rp1,1 Triliun per Semester I-2026
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.