Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama sejumlah mitra menggelar pelatihan untuk pelatih atau Training of Trainers (ToT) guna meningkatkan edukasi dan mencegah penyalahgunaan obat-obatan tertentu (OOT) di kalangan remaja yang berpotensi memicu tawuran, perkelahian, hingga konflik antarkelompok.
Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Selasa (27/10/2026), menjelaskan bahwa penyalahgunaan obat-obatan tertentu menjadi persoalan serius karena dapat berdampak terhadap kesehatan, perilaku sosial, dan masa depan generasi muda.
Menurut Taruna, obat-obatan tertentu seperti tramadol hanya boleh digunakan sesuai indikasi medis dan tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah obat tersebut kerap disalahgunakan untuk mendapatkan efek euforia yang menyerupai efek penggunaan narkoba.
"Tapi, kalau obat-obat tertentu ini disalahgunakan juga bisa dahsyat, bisa satu generasi, bahkan beberapa generasi akan hilang, dan itu dibuktikan dengan berbagai macam kejadian, kenakalan, perkelahian, tawuran, sampai perang antara geng, antara anak-anak SMA dan sebagainya," kata Taruna Ikrar.
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, BPOM menggandeng pemerhati anak Seto Mulyadi atau Kak Seto, Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta, serta Dinas Kesehatan Jakarta dalam kegiatan edukasi dan pencegahan.
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pendidik dan anak-anak, mengenai bahaya penyalahgunaan obat serta pentingnya penggunaan obat sesuai aturan medis.
BPOM Perkuat Edukasi Bahaya Obat dan Keamanan PanganKegiatan ToT yang diselenggarakan BPOM tidak hanya berfokus pada pencegahan penyalahgunaan obat-obatan tertentu, tetapi juga mencakup advokasi dan edukasi mengenai keamanan pangan.
BPOM menilai pemahaman tentang penggunaan obat yang tepat dan konsumsi pangan aman menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak secara optimal.
Dalam aspek keamanan pangan, BPOM turut mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan bahan tambahan pangan seperti pengawet, pewarna, dan pemanis agar tidak membahayakan kesehatan.
Edukasi tersebut diharapkan dapat membantu pendidik menyampaikan informasi yang benar kepada anak-anak mengenai risiko penggunaan obat tanpa indikasi medis dan pentingnya memilih makanan yang aman dikonsumsi.
BPOM juga mengaitkan kegiatan ini dengan upaya mempersiapkan generasi muda yang sehat, berkualitas, dan mampu mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Kak Seto Ingatkan Bahaya Mendidik Anak dengan KekerasanDalam kesempatan yang sama, pemerhati anak Seto Mulyadi atau Kak Seto menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang positif, penuh kasih sayang, dan tidak menggunakan kekerasan.
Kak Seto mengibaratkan obat-obatan seperti pisau yang dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat, tetapi juga berpotensi membahayakan jika disalahgunakan.
Menurutnya, pola pendidikan yang mengandalkan kekerasan justru dapat memicu pemberontakan pada anak dan meningkatkan risiko munculnya perilaku negatif, termasuk penyalahgunaan obat-obatan tertentu.
"Jadi, kita harus melindungi anak-anak kita untuk tetap sehat dan terus menuju ke Indonesia Emas tahun 2045, dan kita juga bisa mencegah segala bentuk kekerasan. Cara mendidik yang penuh kekerasan justru akan membuat anak berontak dan akan makin menjadi menyalahgunakan obat-obatan tadi," kata Kak Seto.
Ia berharap para pendidik yang mengikuti kegiatan ToT dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada anak-anak melalui metode pembelajaran yang ramah anak.
Metode yang disarankan antara lain menggunakan dongeng, cerita, pantun, dan lagu untuk memperkenalkan informasi mengenai bahaya penyalahgunaan obat serta pentingnya mengonsumsi pangan yang aman.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu anak memahami pesan edukasi dengan lebih mudah sekaligus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan tanpa menimbulkan rasa takut.
Kak Seto juga menekankan bahwa kegiatan edukasi harus mendukung pemenuhan empat hak dasar anak, yakni hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak memperoleh perlindungan dari kekerasan, serta hak untuk didengar pendapatnya.
Pemenuhan hak-hak tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap anak mendapatkan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan fisik maupun psikologisnya.
Komnas Perlindungan Anak Tekankan Pentingnya Kasih Sayang KeluargaKetua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta Cornelia Agatha turut menyoroti pentingnya pencegahan sebagai langkah utama dalam melindungi anak dari risiko penyalahgunaan obat dan perilaku negatif.
Cornelia menilai perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan peran negara, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian, pendidikan, serta perlindungan.
"Kalau anak di rumah tangki cintanya cukup, anak tidak perlu lagi mencari validasi di luar dengan melakukan tawuran, perundungan, kejahatan, bahkan mungkin terjebak menjadi korban, kekerasan seksual dan sebagainya," ujar Cornelia Agatha.
Ia menilai pemenuhan kebutuhan emosional anak dalam keluarga dapat menjadi salah satu faktor perlindungan agar anak tidak mencari pengakuan melalui perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Cornelia juga menekankan pentingnya menanamkan nilai empati dan kepedulian untuk membangun kesadaran bersama mengenai perlindungan anak.
Menurutnya, seluruh pihak perlu menunjukkan konsistensi dalam melindungi anak tanpa membeda-bedakan, sebagaimana memberikan perlindungan kepada anak sendiri.
Kolaborasi BPOM dan Mitra Dukung Generasi Emas 2045Melalui penyelenggaraan ToT, BPOM bersama para mitra berharap tenaga pendidik dapat menjadi penyampai informasi yang efektif mengenai bahaya penyalahgunaan obat-obatan tertentu dan pentingnya keamanan pangan.
Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara pemerintah, lembaga perlindungan anak, tenaga pendidik, keluarga, dan masyarakat dalam mencegah kenakalan remaja serta berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.
Penguatan edukasi dinilai menjadi salah satu langkah pencegahan agar anak-anak memiliki pemahaman yang memadai mengenai risiko penyalahgunaan obat sejak usia dini.
Selain itu, keterlibatan keluarga diharapkan dapat memperkuat perlindungan anak melalui komunikasi yang baik, perhatian terhadap kebutuhan emosional, serta penerapan pola pendidikan tanpa kekerasan.
BPOM dan para mitra berupaya membangun lingkungan yang lebih aman, sehat, dan ramah anak melalui peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan peran keluarga, serta edukasi yang berkelanjutan.
Upaya tersebut diarahkan untuk melindungi generasi muda dari penyalahgunaan obat dan berbagai perilaku berisiko sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.





Komentar (0)