Hening. Tanpa suara kerumunan. Itulah suasana di sejumlah pasar tekstil di Jakarta. Bukan berarti tak ada pembeli, tetapi proses transaksi kini kerap berlangsung di tempat lain: di dalam jaringan internet.
Dahulu, setiap helai pakaian bisa diperoleh dengan mendatangi pusat penjualannya. Kini, caranya jauh lebih mudah. Cukup menggerakkan jempol, satu atau dua ketukan, lalu ”ting”, notifikasi pesanan pakaian pun masuk.
Namun, gerakan jemari itu perlahan menggerus sebagian geliat pasar tekstil. Dua di antaranya adalah Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, dan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Akhiruddin (58) dan Irin (54) telah berjualan pakaian di Pasar Cipulir sejak dekade 1990-an. Saat ditemui pada Senin (26/10/2026), keduanya tampak duduk menunggu ”penglaris”.
Kondisi semacam itu mulai mereka rasakan sejak pandemi Covid-19. Tahun-tahun setelahnya berjalan lambat. Mereka semakin sulit mendapatkan pemasukan.
Sepanjang hari, pengunjung memang masih berlalu-lalang. Ada yang membeli, tetapi banyak pula yang sekadar melihat-lihat lalu pergi. Tak jarang, Akhiruddin dan Irin pulang tanpa membawa hasil penjualan.
Bahkan, pada suatu waktu, pendapatan hari itu tak cukup untuk membayar parkir. Mereka terpaksa merogoh uang dari sisa penjualan sebelumnya atau mengambil dari tabungan.
”Ibaratnya dulu Rp 300.000 atau Rp 400.000 dari keresek, pembelian jumlah besar, itu mudah didapat. Sekarang istilahnya mau bayar parkir saja enggak ada uang,” kata Irin.
Harapan mereka bahkan kerap terpatahkan saat hari raya. Dalam bayangan keduanya, momentum Lebaran biasanya mampu memantik pembelian dalam jumlah besar. Namun, kini dampaknya tak lagi signifikan.
Biasanya, pembeli pada masa hari raya datang dari luar kota. Kini, pasar lebih banyak diisi pengunjung dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. ”Kalau sekarang mah, mendapat barang bisa. Menjualnya yang susah,” tutur Akhiruddin.
Kesulitan para pemilik toko pakaian itu tidak mereka rasakan sendirian. Dampaknya menjalar hingga porter barang dan pedagang asongan.
Kisah itu terlihat dari raut wajah Misnoto (60), porter barang di Pasar Cipulir yang telah bekerja sejak 25 tahun lalu. Tatapannya menerawang melihat pergerakan pengunjung sambil duduk di tangga penghubung antarlantai pasar.
Sehari-hari, ia bekerja sejak pukul 06.00 WIB hingga pasar tutup. Lama waktu kerjanya mengikuti geliat aktivitas pasar. Namun, sejak pasar semakin sepi, kini ia hanya bekerja sekitar setengah hari.
Penghasilannya bergantung pada beberapa ruko langganan. Namun, para pelanggan tersebut juga tidak selalu menggunakan jasanya.
Untuk memenuhi kebutuhan harian, ia kerap mengandalkan satu atau dua angkutan barang dari pembeli. Setidaknya, Rp 20.000-Rp 30.000 bisa ia bawa pulang untuk makan.
“Lah ini nganggur terus setiap hari,” kata Misnoto.
Kisah serupa terlihat di lantai lain. Dadang (51), pedagang asongan, baru saja melayani seorang pelanggan yang sempat bertanya mengenai uang yang dicurigainya palsu.
Pelanggan itu bingung apakah kondisi lembar uang yang kusut dan kusam merupakan tanda kepalsuan. ”Iya kali, ya,” jawab Dadang.
Dadang bercerita, sebanyak apa pun ia berkeliling, pendapatannya tak kunjung bertambah signifikan. Penghasilannya kini turun sekitar 50 persen dibandingkan saat pasar masih ramai.
Menurut dia, kondisi tersebut merupakan efek berantai dari sepinya pengunjung. Ketika pembeli berkurang, pedagang pakaian terdampak. Dampaknya kemudian menjalar ke porter barang hingga pedagang asongan.
Kondisi serupa terlihat di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di lantai tiga Blok A, misalnya, sebagian toko tampak tutup. Sejumlah lembar tagihan sewa bahkan tertempel di muka gerai.
Namun, di antara pertokoan yang tutup itu, Fahmi (25) masih mampu mempertahankan toko pakaian keluarga yang telah berdiri selama puluhan tahun.
Tokonya tidak memiliki nama mencolok atau meja kasir. Hanya sebuah bilik yang dipenuhi tumpukan barang pesanan. Pilihan itu diambil karena pola penjualan tokonya telah bergeser ke pasar daring.
Melalui cara tersebut, penghasilannya kini relatif stabil. Berbagai tagihan sewa dan tekanan penjualan dihadapi dengan mengubah cara berdagang. ”Mau gimana lagi, kalau mau survive harus berubah sistemnya,” kata Fahmi.
Perubahan yang dilakukan Fahmi menggambarkan meningkatnya pemanfaatan perdagangan elektronik di Indonesia.
Berdasarkan Survei E-Commerce 2025 Badan Pusat Statistik yang diolah Kompas Data, pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik balik perubahan pola perdagangan. Pada 2024, jumlah usaha yang melakukan perdagangan melalui platform e-dagang mencapai 4,4 juta unit. Angka tersebut meningkat sekitar 86 persen dibandingkan dengan 2020.
Pada 2020, jumlah usaha e-dagang tercatat sekitar 2,36 juta unit. Angka tersebut meningkat menjadi 2,87 juta unit pada 2021, sekitar 3 juta unit pada 2022, dan 3,82 juta unit pada 2023.
Selain itu, sekitar 42 persen pelaku usaha telah memanfaatkan penjualan melalui jaringan internet, sedangkan sisanya belum menggunakan platform e-dagang. Tren tersebut terus berkembang mengikuti perubahan kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi.
Peralihan ke perdagangan daring menjadi salah satu bentuk efisiensi bagi pedagang untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus mengurangi ketergantungan pada ruang fisik.
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini menilai, telah terjadi pergeseran atau transformasi dari pasar tradisional menuju pasar digital.
Menurut Eisha, salah satu faktor yang melatarbelakangi transformasi tersebut adalah perkembangan teknologi. Transaksi antara pembeli dan pedagang, misalnya, kini dapat dilakukan secara daring sehingga lebih efisien dari sisi waktu dan biaya dibandingkan dengan transaksi konvensional.
Selain itu, Eisha menyoroti tiga faktor yang turut menyebabkan pasar menjadi sepi. Pertama, perubahan cara bertransaksi. Perubahan ini semakin terasa sejak pandemi Covid-19 yang mengubah banyak aktivitas ekonomi dan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.
Kedua, lemahnya daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan domestik menurun. Pada saat yang sama, konsumen juga cenderung mencari alternatif produk dengan harga yang lebih terjangkau.
Ketiga, meningkatnya biaya produksi dalam negeri. Kondisi tersebut dipengaruhi antara lain oleh biaya energi, nilai tukar, serta ketergantungan terhadap bahan baku impor. Tekanan biaya itu dapat menggerus keuntungan usaha atau mendorong kenaikan harga jual sehingga produk dalam negeri harus bersaing semakin ketat dengan produk impor sejenis.
Di sisi lain, kondisi global juga menunjukkan ketidakstabilan. Perlambatan ekonomi dunia, hambatan tarif akibat perang dagang, serta melemahnya permintaan global turut berdampak pada kinerja ekspor produk tekstil dan pakaian Indonesia.
”Pelemahan daya beli yang juga belum pulih sejak Covid-19 menjadi faktor yang menyebabkan permintaan domestik turun. Kalaupun ada permintaan terhadap produk ini, maka konsumen akan beralih ke produk dengan harga yang murah,” kata Eisha.
Melihat kondisi tersebut, Eisha menyarankan pemerintah mencermati berbagai potensi yang masih dapat didorong atau dikembangkan. Salah satunya adalah mengembangkan pasar tekstil dengan memanfaatkan momentum hari raya.
Pengembangan tersebut dapat dikaitkan dengan mobilitas masyarakat dan wisatawan yang meningkat pada masa liburan atau hari raya. Pasar tekstil, menurut dia, dapat dikembangkan menjadi ruang belanja yang lebih ramah dan nyaman bagi pengunjung maupun wisatawan.
Efek turunannya diharapkan dapat mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah, khususnya di bidang pakaian dan tekstil. Secara tidak langsung, geliat pasar juga dapat menopang sektor lain, seperti kuliner dan pariwisata.
”Perlu melihat potensi yang bisa didorong. Ada sebagian masyarakat yang memang masih nyaman secara langsung di toko atau pasar, juga menjadi kelebihan atau keunikan sendiri,” kata Eisha.






Komentar (0)