Kalah Berkali-kali Sebelum Menang: Pelajaran dari Lula dan Prabowo

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Pada hari ulang tahun (HUT) ke-81 Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko mengajak publik membaca paradoks dua pemimpin yang sama-sama kalah berkali-kali sebelum menang.

Lula dan Presiden Prabowo Subianto, menurutnya, tidak pernah berpindah dari agenda yang mereka perjuangkan, baik saat kalah maupun saat menang.

BACA JUGA: Menjelang Seabad Sumpah Pemuda: Tantangan Presiden Prabowo Memberantas Oligarki dan Merajut Keadilan Sosial

Pemilu Presiden Brasil 2026 berlangsung sangat ketat. Lula sempat tertinggal dari Flávio Bolsonaro di putaran pertama 4 Oktober (45,16% berbanding 47,03%).

Dia lalu berbalik menang di putaran kedua 25 Oktober dengan 51,79% suara, kemenangan dari posisi kedua yang pertama dalam sejarah Brasil.

BACA JUGA: BEM SI Jabar Turun Lagi ke Jalan, Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran

Budiman, yang pernah bertemu langsung dengan Lula saat berkunjung ke São Paulo pada 2011, tak lama setelah Lula mengakhiri periode kedua pemerintahannya, menyambut kemenangan itu sebagai buah dari kesetiaan Lula pada agenda melawan lapar.

Flávio menolak mengakui hasil itu dan akan meminta pembatalan, sementara partainya, PL, sudah mengakui kemenangan Lula yang ditetapkan TSE.

BACA JUGA: Azis Gerindra Tegaskan Prabowo Tak Punya Kewenangan Memberhentikan Wapres

Kedua pemimpin memiliki kedekatan personal. Ulang tahun mereka hanya terpaut sepuluh hari, Prabowo pada 17 Oktober dan Lula pada 27 Oktober, dan keduanya merayakannya bersama di Jakarta pada 23 Oktober 2025, saat Lula berkunjung ke Indonesia.

Kala itu Prabowo menyebut keduanya memiliki angka keberuntungan yang sama, yakni delapan.

Rekam jejak keduanya serupa. Lula kalah dalam pemilihan presiden 1989, 1994, dan 1998, bahkan sempat dipenjara selama 580 hari sebelum vonisnya dibatalkan Mahkamah Agung Brasil pada 2021.

Ia kemudian menang pada 2002, 2006, 2022, dan kembali menang pada 25 Oktober 2026 setelah tertinggal di putaran pertama. Prabowo kalah dalam konvensi Partai Golkar 2004, sebagai calon wakil presiden 2009, serta sebagai calon presiden 2014 dan 2019, sebelum menang dalam satu putaran pada Pemilu 2024 dengan 58,6 persen suara.

Benang merahnya, kata Budiman, adalah agenda yang tidak berubah.

Lula berbicara tentang kelaparan dan nasib buruh sejak 1980-an; Prabowo berbicara tentang kemandirian pangan dan kedaulatan atas kekayaan negara sejak lebih dari satu dekade lalu.

Yang berubah hanyalah cara memperjuangkannya, yang makin matang dari satu kekalahan ke kekalahan berikutnya.

Keduanya juga memilih rekonsiliasi ketimbang dendam: Prabowo bergabung ke dalam kabinet pemerintahan yang mengalahkannya, sementara Lula merangkul mantan rivalnya pada pemilu 2006 menjadi wakil presidennya.

Budiman menitipkan pesan khusus bagi generasi muda: kekalahan bukan akhir dari perjuangan, melainkan tempat belajar.

“Pemimpin besar bukan yang tidak pernah kalah, tetapi yang tidak pernah meninggalkan rakyat yang ia perjuangkan, menang atau kalah,” ujarnya. “Lula dan Prabowo sama-sama membuktikan: kekalahan adalah sekolah, bukan kuburan.”(fri/jnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Alexander Volkanovski Ngotot Tantang Justin Gaethje, Siap Pensiun Usai Rebut Gelar Kelas Ringan UFC
• 23 jam lalu
0
thumb
Bukan Transparansi atau Likuiditas, Ini Catatan MSCI untuk Pasar Modal Indonesia
• 10 jam lalu
0
thumb
Hari Kedua Operasi Patuh Jaya 2026, Hadiah Helm Dibagikan ke Pengendara Motor Beratribut Lengkap di Fatmawati
• 11 jam lalu
0
thumb
Saat Buto Ijo dan Ratu Pantai Selatan Ketemu di CFD Depok
• 4 jam lalu
0
thumb
Syarat Maluku Utara Swasembada Protein: Berhenti Bergantung pada Kapal
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.