JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengimbau seluruh jemaah umrah Indonesia untuk mengutamakan penerbangan langsung (direct flight) menuju Arab Saudi. Imbauan ini disampaikan demi menjamin keselamatan jemaah mengingat konflik di kawasan Timur Tengah yang masih berlangsung.
Dia menuturkan bahwa selain lebih aman di tengah situasi konflik Timur Tengah, imbauan ini juga diharapkan mampu memperkuat industri penerbangan nasional dengan meningkatkan penggunaan maskapai Indonesia.
Anzar mengatakan bahwa hingga Senin (26/10/2026), perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, masih tergolong kondusif untuk penyelenggaraan ibadah umrah. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memantau perkembangan situasi konflik.
“Terkait kondisi eskalasi Timur Tengah, Saudi baik-baik saja dalam konteks peribadatan umrah. Kemenlu juga sama, baik-baik saja. Sampai detik ini kegiatan umrah berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Anzar dikutip dari keterangan resminya, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga:KM Yukai Tenggelam usia Hantam Karang di Labuan Bajo, 17 Wisatawan DievakuasiDia juga mengimbau jemaah dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk mengutamakan penerbangan langsung menuju Jeddah atau Madinah daripada harus transit melalui negara lain.
“Kami sebagai pihak yang mengelola haji dan umrah mengimbau jemaah memilih maskapai direct, bukan penerbangan transit. Lebih aman bisa direct ke Jeddah atau Madinah. Jadi kami sarankan itu,” katanya.
Menindaklanjuti imbauan tersebut, Kemenhaj telah mengumpulkan asosiasi PPIU agar pelaku usaha perjalanan dapat mempertimbangkan aspek keamanan sekaligus dampak ekonomi dari pilihan rute penerbangan.
“Kami kumpulkan asosiasi PPIU untuk menjadi perhatian bagi pelaku bisnis travel. Kami minta kepada asosiasi jangan dulu memilih penerbangan transit seperti ke Malaysia atau Singapura,” tuturnya.
Dia menjelaskan, penggunaan penerbangan transit melalui Malaysia dan Singapura oleh jemaah umrah Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 70 ribu orang. Jumlah tersebut menjadi potensi bagi penguatan industri penerbangan nasional apabila perjalanan jemaah dapat diarahkan menggunakan maskapai Indonesia.
Baca Juga:Jelang Sidang Putusan Sela, Relawan Gibran Berharap MK Tolak Permohonan Denny Indrayana dkk“Jemaah yang transit di Malaysia dan Singapura cukup besar, 70 ribuan. Jika itu diarahkan ke penerbangan nasional, juga membantu ekonomi nasional kita. Kita harus dorong dua maskapai nasional kita, yaitu Lion dan Garuda,” katanya.
Menurutnya, Garuda Indonesia dan Lion Air diharapkan mampu memperkuat posisi di pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional melalui peningkatan kualitas pelayanan dan harga yang kompetitif.
“Garuda dan Lion harus melakukan perbaikan layanan mereka. Mendorong mereka agar menguasai pasar dalam negeri, harus kompetitif bersaing di luar negeri,” jelasnya.
Sementara itu, untuk mendorong peningkatan layanan, Kemenhaj juga menghadirkan jajaran pimpinan Garuda Indonesia, Lion Air, dan Angkasa Pura dalam membahas pelayanan penerbangan umrah, termasuk perbaikan layanan di terminal haji dan umrah.
“Garuda dan Lion harus meningkatkan layanan dan harga harus kompetitif. Makanya kami hadirkan dirut Garuda, Lion, dan Angkasa Pura,” katanya.
Baca Juga:4 Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan 4 Senjata Api kepada Pangkoops TNI HabemaIa juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Kerajaan Arab Saudi atas kerja sama dalam penyelenggaraan ibadah umrah. Menurutnya, pemerintah Indonesia ingin memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
“Kami juga berterima kasih kepada pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Kita ingin pastikan jemaah yang berangkat pulang aman,” tandasnya.
#nasional





Komentar (0)