MALANG, KOMPAS-Hujan yang datang beberapa hari terakhir turut memadamkan semua titik api kebakaran hutan dan lahan di Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur. Namun pemantauan intensif tetap dilakukan karena awal musim hujan diprediksi baru akan datang pada bulan Desember.
Hutan dan lahan di Arjuno-Welirang, di dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, perbatasan Mojokerto, Pasuruan, Malang, dan Kota Batu, terbakar sejak beberapa hari lalu.
Pada 16 Oktober 2026, api bahkan mulai terdeteksi di kawasan Gunung Ringgit, Prigen, Pasuruan. Pada 19 Oktober 2026, jumlah titik api mencapai 291 dan kebakaran menjalar ke wilayah Malang.
Di wilayah Mojokerto, titik yang terbakar ada di Gunung Kukusan, Putuk Kencur, Putuk Duro, Putuk Sembung, dan Bukit Cendono.
Adapun di Pasuruan karhutla melanda Putuk Bulak, Guo Gambir, Blok Tungwulung, Blok Anjat, dan Gunung Ringgit. Sedangkan di Malang ada di Bukit Lincing dan Budugasu. Api juga dilaporkan menjalar ke wilayah Bumiaji di Kota Batu.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 25 Oktober 2026, luas kawasan yang terbakar di wilayah itu mencapai 1.090 hektar.
“Alhamdulillah (sekarang) sudah padam,” ujar Kepala Tahura R Soerjo, Agustiningtyas Marini, Selasa (27/10/2026).
Meski telah padam, menurut Agustiningtyas, pihaknya memastikan patroli dan pengawasan kawasan tetap dilakukan hingga awal musim hujan benar-benar datang.
Sebelumnya, dalam rapat koordinasi karhutla di Kota Batu, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi mengatakan, akan menambah armada operasi udara guna memperkuat penanganan di Jatim. Armada itu berupa satu helikopter dari Kalimantan Selatan dan satu Cesna Caravan dari Kalimantan Barat.
Langkah tersebut diambil untuk mempercepat pemadaman karhutla di Jatim yang dinilai kian meluas di sejumlah pegunungan, salah satunya Arjuno. Pemadaman melalui jalur darat dianggap kurang efektif karena titik api berada di area yang sulit dijangkau.
Pada Sabtu (24/10/2026), BNPB kemudian memulai operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menyemai 1.000 kilogram (kg) natrium klorida (NaCl) di wilayah udara Probolinggo dan Pasuruan. Penyemaian menggunakan pesawat Cesna Caravan yang mengudara dari Bandara Juanda di Sidoarjo.
Kepala Bidang Kedarutan dan Logistik di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Satrio Nurseno, menyampaikan, sejak 24-27 Oktober, ada empat sorti OMC yang menaburkan 4.000 kg NaCl.
Pelaksanaan OMC di Jatim mempertimbangkan sejumlah faktor. Selain potensi pertumbuhan awan hujan, juga faktor keamanan, salah satunya akibat persebaran abu vulkanik Gunung Semeru. Berdasarkan pantauan BPBD Jatim potensi hujan ringan terdapat di sebagian besar wilayah selatan dan barat.
Sementara itu, berdasarkan data peta sebaran titik panas di laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 27 Oktober pukul 00.00-15.00 WIB, menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit Polar (NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA) di Jatim, bahkan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta, nihil titik api. Hanya satu titik api dengan tingkat kepercayaan sedang di Banten.
Ditemui secara terpisah, prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim, Nur Faris Prih Waryanto, menjelaskan, hujan yang turun beberapa hari terakhir di Jatim tidak bisa dipisahkan dari dinamika atmosfer, yakni pengaruh Madden-Julian Oscillation dan Gelombang Rossby yang diperkuat oleh OMC.
OMC yang diadakan untuk pemadaman karhutla bisa dilakukan jika keberadaan bahan baku berupa awan hujan di langit mencukupi.
“Awan-awan yang akan disemai ada, dan OMC menambah itu. Karena saat ini dinamika atmosfer dan (kondisi) lautannya ada, mendukung, maka bisa disemai,” katanya.
Hujan, menurut Faris, turun tidak hanya di Jatim saja, tetapi juga daerah lain di Jawa. BMKG sendiri memiliki beberapa kriteria untuk menentukan awal musim hujan, yakni akumulasi curah hujan dalam 10 hari terakhir (dasarian) minimal 50 milimeter (mm) dan diikuti dua dasarian berikutnya secara berturut-turut.
Sejauh ini, berdasarkan pantauan BMKG curah hujan masih relatif kecil. “Tadinya 2 sekian mm, lalu 4 mm, dan kemarin, Senin (26/10/2026) 10 mm. Apakah ini akan bertahan lama? sampai 29 Oktober masih. Awal November sepertinya mulai menurun namun mesti dipantau setiap saat perkembangannya,” katanya.






Komentar (0)