Hujan Mulai Turun di Kalimantan, tetapi Daya Rusak Karhutla Belum Usai

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kendati hujan sudah mulai turun di beberapa daerah di Kalimantan, dampak kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah. Kabut asap menghantui warga, sementara hutan yang hangus terbakar menghilangkan ruang hidup satwa dilindungi.

Pada Selasa (27/10/2026), kabut asap masih menyelimuti langit Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Situs IQAir.com menunjukkan, kualitas udara kota masih tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan polutan utama PM2.5 pada pukul 12.14 Wita.

Hujan intensitas ringan sempat turun sebentar di beberapa kawasan Balikpapan dalam beberapa hari terakhir. Namun, kabut asap masih menyelimuti pemukiman warga.

“Terutama pagi hari dan malam hari, kabut asap tebal. Kadang di dalam rumah pun tercium bau asap pembakaran,” kata Mardiansyah (34), warga Kecamatan Balikpapan Utara.

Ia berharap, hujan juga turun rutin di lokasi karhutla. Hal itu, kata dia, akan efektif mengurangi kabut asap yang melanda Kota Balikpapan setidaknya sejak dua sampai tiga bulan terakhir.

Asap di Kaltim, termasuk Balikpapan, diduga berasal dari akumulasi karhutla yang terjadi di Kaltim, ditambah asap kiriman dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kompas, 19/9/2026).

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hujan pun turun pada 27 Oktober 2026 di beberapa wilayah. Kendati demikian, dampak karhutla belum usai. Beberapa warga masih menderita gangguan pernapasan.

“Saya batuk-batuk untuk kesekian kalinya. Makin parah saat kabut asap jadi oranye dan kuning beberapa hari lalu,” kata Yaser (29), pengemudi ojek daring di Palangka Raya.

Orangutan “pindah rumah”

Daya rusak karhutla tak hanya menghantam kesehatan manusia, tetapi juga merenggut ruang hidup satwa dilindungi, yakni orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Pada Sabtu (24/10/2026), dua individu orangutan bernama Adil dan Gigih dievakuasi dari lokasi yang terbakar di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menuju habitat baru.

Proses pemindahan (translokasi) kedua orangutan jantan ini dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), serta mitra pemerintah lain.

Adil dan Gigih semula dievakuasi tim gabungan dari area High Conservation Value (HCV) milik perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara. Api menghanguskan area tersebut sehingga pakan alami sirna. Pohon tempat berlindung pun hangus.

Adil ditemukan bertahan di salah satu pohon kelapa sawit tidak jauh dari titik kebakaran. Setelah berhasil ditenangkan dengan pembiusan, tim medis langsung melakukan pemeriksaan fisik.

Secara umum kondisi kesehatan Adil terbilang stabil. Namun, petugas menemukan luka kecil berbentuk bulat di bagian paha kirinya. “(Luka tersebut) diduga berkaitan dengan proyektil senapan angin,” kata dokter hewan sekaligus CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez.

Sementara itu, Gigih ditemukan berada di tajuk pohon area HCV pada ketinggian sekitar 20 meter di tengah kabut asap dan karhutla yang melanda habitatnya. Saat berhasil diturunkan, Gigih berada dalam kondisi tubuh kurus serta mengalami dehidrasi berat akibat kehilangan sumber air dan pakan.

Tim medis memberikan penanganan medis kepada keduanya, termasuk penambahan cairan infus hingga kondisinya benar-benar stabil. Setelah mendapat perawatan dan dinyatakan siap hidup di hutan.

Tim gabungan melakukan translokasi ke area konsesi perusahaan lain yang aman dari karhutla di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. 

Sebelum dijadikan lokasi penerimaan, tim ekologi (biodiversity) telah melakukan serangkaian survei kelayakan habitat. Hasil penilaian menunjukkan bahwa ekosistem gambut yang dikelola perusahaan di sana masih memiliki ketersediaan pakan yang memadai dan relatif aman dari jangkauan titik api karhutla.

Pemindahan Adil dan Gigih menambah daftar orangutan yang dipindahkan ke sana. Sejak awal Agustus 2026, tiga individu orangutan jantan lainnya telah lebih dulu dipindahkan ke lokasi yang sama, sehingga total kini ada lima orangutan yang mendiami kawasan tersebut.

55 Orangutan

Penyelamatan Adil dan Gigih menegaskan situasi darurat ekologis yang sedang terjadi di Kalbar. Catatan tim gabungan BKSDA Kalbar dan YIARI menunjukkan, sepanjang 6 Agustus hingga 23 Oktober 2026, sebanyak 55 individu orangutan telah dievakuasi dari berbagai titik di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Sebanyak 32 individu di antaranya ditemukan di dalam maupun sekitar area konsesi perkebunan kelapa sawit satu perusahaan. Data ini mengindikasikan tingginya kerentanan fragmen hutan tersisa di sekitar area perkebunan saat karhutla melanda.

“Namun, pekerjaan kita belum selesai. Tantangan terbesarnya adalah memastikan mereka bisa terus hidup bebas di alam, di hutan yang sejak dahulu menjadi rumah mereka. Kita juga harus memikirkan bagaimana agar situasi seperti ini tidak terus berulang," ujar Karmele.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutakhirkan data karhutla pada 25 Oktober 2026. Luas lahan yang masih dalam penanganan seluas 3.392 hektar. Karhutla terluas terjadi di Kalteng seluas 2.458 hektar, sedangkan di Kalbar 884 hektar, dan Kalsel 52 hektar.

“Berbagai strategi penanganan terus diupayakan pemerintah pusat dan daerah yang dibantu para relawan, di antaranya operasi modifikasi cuaca dengan dry ice,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Upaya modifikasi cuaca itu diharapkan memantik hujan di sejumlah area terbakar di Kalimantan. Sebab, mulai akhir Oktober 2026 ini, mulai muncul bibit awan hujan. Modifikasi cuaca bisa memperbesar potensi terjadinya hujan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kampung Ambon Digerebek Empat Kali Dalam Sebulan, 7 Orang Ditangkap
• 16 jam lalu
0
thumb
Komnas HAM desak perlindungan pekerja gig diperluas, tidak hanya ojol
• 15 jam lalu
0
thumb
Ahli Sebut Setoran Biaya Haji termasuk Keuangan Negara
• 20 jam lalu
0
thumb
Tak Hanya Penggalangan Dana, Ferry Irwandi Siap Sambangi Lokasi Karhutla Langsung
• 22 jam lalu
0
thumb
7 Tahun Koma Usai Dianiaya Saat Lerai Pesilat, Kompol Aditia Wafat
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.