Suhu udara Jakarta mencapai 34-36 derajat celsius pada Oktober 2026. Kemarau, fenomena El Nino, dan minimnya ruang hijau membuat panas semakin terasa. Kondisi ini mengganggu aktivitas, kesehatan, hingga kenyamanan hunian warga. Berbagai siasat dilakukan untuk menghadapi cuaca panas, tetapi penanganannya juga membutuhkan perbaikan tata ruang dan kebijakan perkotaan.
1. Mengapa suhu udara di Jakarta semakin panas?
2. Mengapa Oktober menjadi bulan yang sangat panas?
3. Apa dampak cuaca panas terhadap kesehatan warga?
4. Bagaimana warga mengantisipasi cuaca panas?
5. Apa yang harus dilakukan pemerintah mengatasi panas perkotaan?
Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan, kemarau dan berkurangnya tutupan awan menjadi faktor utama peningkatan suhu Jakarta. Minimnya hujan membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
Kondisi tersebut diperkuat El Nino yang mengurangi pembentukan awan hujan. Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut menekan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Struktur perkotaan juga memperparah panas melalui fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. Aspal, beton, dan bangunan menyerap panas matahari, kemudian melepaskannya kembali secara perlahan.
Menurut Guswanto, perluasan kawasan terbangun dan berkurangnya vegetasi turut meningkatkan suhu perkotaan. BMKG menegaskan, suhu tinggi di Jakarta bukan gelombang panas, seperti yang terjadi di negara subtropis.
Data BMKG dari Stasiun Meteorologi Kemayoran menunjukkan Oktober berulang kali menjadi salah satu bulan terpanas di Jakarta. Pada Oktober 2023, suhu rata-rata mencapai 30,2 derajat celsius dengan suhu maksimum 36,6 derajat celsius.
Pada Oktober 2024, suhu rata-rata tercatat 30,07 derajat celsius, sedangkan Oktober 2025 mencapai 29,69 derajat celsius. Posisi semu matahari yang bergerak ke selatan ekuator turut meningkatkan paparan radiasi pada periode tersebut.
Kondisi Oktober 2026 diperparah El Nino sangat kuat. Pemantauan BMKG pada awal Oktober mencatat anomali suhu muka laut wilayah Nino 3.4 sebesar positif 3,33 derajat celsius.
Fenomena IOD positif juga mengurangi peluang terbentuknya awan dan hujan. Akibatnya, permukaan tanah semakin kering dan panas lebih mudah terakumulasi, terutama di kawasan perkotaan yang dipenuhi bangunan beton serta jalan beraspal.
Dokter dan praktisi kesehatan masyarakat Ngabila Salama menjelaskan, paparan panas dapat memicu dehidrasi, kram otot, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga serangan panas (heatstroke). Keluhannya berupa pusing, lemas, dan haus berlebihan.
Risiko tersebut terutama dihadapi pekerja luar ruangan. Mohammad Farid (42), pengemudi ojek daring di Jakarta, mengaku kerap mengalami biang keringat dan menghindari bekerja pada pukul 13.00-15.00 WIB.
Dampak panas juga terasa di dalam hunian. Penelitian Beyond Housing Types menemukan 81,19 persen responden di Semarang mengalami gangguan istirahat dan tidur akibat panas. Angkanya mencapai 44,95 persen di Jakarta dan 32,20 persen di Surabaya.
Ngabila mengingatkan, suhu tinggi dapat mengurangi konsentrasi dan produktivitas, bahkan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Serangan panas yang disertai gangguan kesadaran atau kejang membutuhkan pertolongan darurat.
Penelitian Beyond Housing Types menunjukkan warga perkotaan melakukan berbagai penyesuaian sederhana untuk menghadapi panas. Mereka mengenakan pakaian tipis atau longgar, memperbanyak minum air, dan menggunakan kipas angin.
Sebagian warga memasang kanopi, membuka jendela, membuat ventilasi silang, hingga menanam pohon dan tanaman rambat. Namun, Indra Yuda dari Arkom Indonesia menilai langkah tersebut masih merupakan strategi bertahan yang terbatas.
Di Jakarta, Alifah Dharaura (24), pekerja kantoran di Menteng, menggunakan payung, masker, kacamata, dan tabir surya. Ia juga berusaha menyesuaikan diri sebelum memasuki ruangan berpendingin udara setelah beraktivitas di luar.
Ngabila Salama menyarankan warga rutin minum air, menggunakan pakaian yang menyerap keringat, dan mengurangi aktivitas berat saat panas mencapai puncaknya. Pemberi kerja juga perlu menyediakan air minum serta tempat istirahat yang sejuk.
Penanganan panas perkotaan tidak cukup mengandalkan penyesuaian perilaku warga. Indra Yuda dari Arkom Indonesia menekankan perlunya penguatan kebijakan perumahan, tata ruang, lingkungan hidup, kebencanaan, dan kesehatan.
Menurut Indra, hunian harus dirancang sesuai kondisi iklim melalui ventilasi alami, pemilihan material, penghijauan, dan penyediaan ruang terbuka bersama. Perencanaan bangunan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan kelompok rentan.
Kepala Bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup Bappeda Jakarta Cipta Aditya mengatakan, Pemprov Jakarta berupaya mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan, termasuk melalui RPJMD.
Selain memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan kualitas hunian, pengendalian polusi udara juga diperlukan. BMKG menegaskan, operasi modifikasi cuaca hanya menjadi langkah pendukung sehingga pengendalian emisi kendaraan dan industri tetap penting.






Komentar (0)