Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki peran besar dalam pasokan gas alam Singapura. Berdasarkan data impor Singapura yang tersedia di World Bank WITS, Negeri Singa menerima sekitar 3,36 juta ton gas alam dari Indonesia sepanjang 2025, dengan nilai gabungan sekitar US$1,73 miliar.
Pasokan tersebut terdiri dari 3,30 juta ton gas alam berbentuk gas dan sekitar 64,2 ribu ton gas alam cair atau LNG. Jumlah itu menempatkan Indonesia sebagai pemasok terbesar berdasarkan gabungan berat kedua kategori tersebut.
Di balik angka nasional itu terdapat sejumlah blok migas dan perusahaan, termasuk PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) serta Pertamina Hulu Energi melalui kepemilikannya di blok pemasok gas.
Indonesia, Qatar, Malaysia, dan Australia Dominasi PasokanSingapura mengimpor sekitar 11,13 juta ton gas alam berbentuk gas dan LNG sepanjang 2025. Indonesia menyumbang sekitar 30,22% dari total berat impor, disusul Qatar, Malaysia, dan Australia.
Keempat negara tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 91,5% dari total berat impor gas alam Singapura.
Komposisi pasokannya berbeda. Indonesia dan Malaysia mendominasi kategori gas berbentuk gas, sedangkan Qatar dan Australia menjadi pemasok LNG terbesar.
Persentase pada tabel dihitung berdasarkan berat, sehingga berbeda dari pangsa energi maupun kontribusi terhadap pembangkitan listrik. Angka tersebut juga merupakan realisasi perdagangan 2025, bukan total ekspor sepanjang 2026.
Dari Sumatra dan Natuna Menuju SingapuraPasokan gas Indonesia berasal dari sejumlah blok migas. Dokumen Medco mengidentifikasi kelompok pemasok Sumatra dari Corridor dan Jabung, serta kelompok Natuna Barat yang mencakup South Natuna Sea Block B, Natuna Sea Block A, dan Kakap.
Dua aset yang terkait langsung dengan MEDC adalah Corridor dan South Natuna Sea Block B. Hubungan pasokannya dapat dilihat pada peta berikut.
Untuk South Natuna Sea Block B, dokumen mencatat porsi Block B sebesar 90 BBTU per hari dalam kontrak lama dengan SembGas Singapore. Terdapat pula kontrak Juni 2023 dengan parameter 40-80 BBTU per hari. Satu BBTU berarti satu miliar British thermal unit.
Kedua angka Natuna berasal dari kontrak berbeda. Penjumlahannya belum membuktikan realisasi pengiriman secara bersamaan. Data tersebut juga belum cukup untuk menetapkan total ekspor aktual MEDC ke Singapura.
Medco dan PHE Sama-Sama Memiliki CorridorPeran sebagai operator perlu dibedakan dari kepemilikan seluruh produksi. Medco mengoperasikan Corridor dan Natuna B bersama mitra yang memiliki hak partisipasi masing-masing.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa Medco dan PHE sama-sama memiliki kepentingan di Corridor. Seluruh volume gas blok tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai milik MEDC.
Kepemilikan Medco Daya Natuna di Natuna B juga dicatat terpisah dari porsi emiten MEDC. Kesamaan nama tidak menjadi dasar untuk menjumlahkan kedua kepemilikan tersebut.
Pendapatan MEDC Naik, Laba MelonjakPada semester I-2026, Medco mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi, tambahan kepemilikan Corridor, serta kinerja Forel dan Terubuk di Natuna B mendukung hasil semester pertama perusahaan.
Pertumbuhan laba juga ditopang investasi pada Amman Mineral. Kontribusinya terhadap laba bersih Medco mencapai US$104,2 juta, berbalik dari kontribusi negatif US$31,1 juta pada semester I-2025.
Hubungan bisnis dengan pembeli gas Singapura terlihat dalam pendapatan dari GSPL sebesar US$152,6 juta, meningkat dari US$65,1 juta pada semester I-2025.
Berdasarkan perhitungan dari angka laporan, satu pelanggan tersebut menyumbang sekitar 10,8% pendapatan konsolidasian Medco. Nilainya belum mewakili seluruh penjualan Medco ke Singapura.
Total Aset Medco Tembus US$9 MiliarPer 30 Juni 2026, total aset Medco mencapai US$9,033 miliar, meningkat sekitar 8% dibandingkan US$8,363 miliar pada akhir 2025.
Angka tersebut mencakup keseluruhan kelompok usaha Medco, termasuk kegiatan dan investasi di luar penjualan gas ke Singapura. Utang konsolidasian merupakan bagian dari liabilitas, sehingga kedua pos tersebut tidak dijumlahkan kembali.
Pemangkasan Pasokan Belum Dirinci per PerusahaanPada 25 Oktober 2026, pemerintah Singapura menyatakan pengurangan pasokan Indonesia mencapai 17 BBTU per hari selama 18 hari, setara kurang dari 2% kebutuhan gas harian sektor pembangkitnya.
Pengumuman tersebut belum merinci volume pengurangan masing-masing pemasok. Angka kurang dari 2% merujuk pada besarnya pengurangan pasokan, bukan seluruh kontribusi Indonesia atau MEDC.
Dengan demikian, seluruh pemangkasan belum dapat dibebankan kepada Medco. Dampaknya terhadap pendapatan dan laba perusahaan masih bergantung pada volume yang terdampak, penjualan pengganti, serta penyelesaian kewajiban kontrak.
Laporan semester I-2026 belum mencerminkan perkembangan Oktober, karena periode pelaporannya berakhir pada Juni.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)





Komentar (0)