Serbia, VIVA – Pemimpin Serbia, Aleksandar Vučić, mengakui kekalahannya dalam pemilu yang menjadi titik balik besar bagi politik negara tersebut. Ia harus menghadapi gerakan yang dipimpin mahasiswa, yang selama dua tahun terakhir menggelar aksi protes menentang pemerintahannya yang dinilai semakin otoriter.
Vučić mengacu pada hasil sementara yang menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih mendukung kubu mahasiswa. Jika hasil tersebut terkonfirmasi, gerakan mahasiswa berpeluang menguasai mayoritas kursi di parlemen Serbia yang memiliki 250 kursi.
"Kami masih belum memiliki hasil akhir. Berdasarkan sampel hasil yang ada, jelas bahwa kami kalah dalam pemilihan ini. Daftar Mahasiswa menang. Mereka akan memperoleh 135 hingga 140 kursi, sedangkan kami akan mendapatkan 105 kursi," kata Vučić kepada para pendukungnya di markas partainya di Beograd dikutip dari laman The Guardian, Selasa (27/10/2026).
Hasil sampel representatif dari lembaga survei CeSID-IPSPS menunjukkan bahwa daftar calon yang diusung Daftar Mahasiswa diperkirakan memperoleh 138 kursi. Sementara itu, Partai Progresif Serbia (SNS) yang berhaluan kanan dan dipimpin Vučić diperkirakan meraih 104 kursi. Menurut lembaga survei tersebut, sisa kursi kemungkinan akan dibagi di antara partai-partai yang mewakili kelompok minoritas etnis.
Begitu kabar berakhirnya 12 tahun kekuasaan Vučić menyebar, perayaan pecah di jalan-jalan Beograd dan sejumlah kota lainnya. Warga lainnya bersalaman, melakukan tos, dan berpelukan dengan petugas polisi di jalanan. Sementara itu, suara klakson bersahut-sahutan dari mobil-mobil yang melintas.
Di markas Daftar Mahasiswa, para pendukung meneriakkan 'Menang, menang!' sambil bertepuk tangan, menangis, dan saling berpelukan.
"Serbia tercinta, malam ini suara rakyat didengar. Malam ini kita merayakan kemenangan, besok kita membangun masa depan,"kata Radomir Saičić, seorang profesor di Universitas Beograd, saat berbicara mewakili mahasiswa di markas mereka.
Pemandangan penuh sukacita itu muncul beberapa jam setelah jumlah pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara pada Minggu mencapai rekor tertinggi. Di berbagai wilayah, antrean panjang mengular hingga ke luar tempat pemungutan suara. Sejumlah lokasi bahkan melaporkan waktu tunggu hingga dua jam.






Komentar (0)