Tinggalkan Dolar AS, Transaksi LCT RI Diproyeksi Tembus US$55 M

cnbcindonesia.com
13 jam lalu
Cover Berita
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) mencapai US$55 miliar hingga akhir 2026. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat sekitar US$25 miliar.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, peningkatan transaksi LCT tersebut terutama ditopang oleh kerja sama dengan China yang menjadi salah satu mitra utama Indonesia.

"Dan saat ini transaksinya sudah mencapai sekitar, perkiraan akhir tahun ini US$55 miliar, padahal tahun lalu itu baru sekitar US$25 miliar, mainly adalah dari China, itu sangat besar," ujar Destry di Danantara TIIF26 di Fairmont Hotel, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).


Baca: Mantan Gubernur Bank Sentral Ditahan Kejaksaan, Diduga Korupsi Rp14 T

Menurut Destry, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekspor, impor, dan investasi merupakan salah satu upaya BI untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Diversifikasi mata uang dalam transaksi internasional tersebut juga diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.

"Dengan adanya diversifikasi dari penggunaan mata uang untuk transaksi ekspor, impor ataupun investasi tentu nantinya ini akan mengurangi penggunaan juga dolar AS sehingga juga nilai tukar kita juga akan bisa lebih balance," jelasnya.

Saat ini, BI telah menjalin kerja sama LCT dengan sekitar enam hingga tujuh negara. Bank sentral juga terus memperluas kerja sama tersebut melalui pendekatan bilateral dengan sejumlah mitra dagang Indonesia.

Baca: BI Tahan Suku Bunga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS

Destry membeberkan Singapura sudah menyatakan minat untuk bergabung dalam kerja sama LCT. Sementara itu, India berminat menjalin kerja sama LCT sekaligus memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara.

Menurut Destry, sejumlah bank sentral negara lain juga mulai menghubungi BI untuk menjajaki peluang kerja sama serupa.

"Singapura mereka mau gabung LCT, QRIS sudah. India dia mau gabung QRIS dan juga LCT. Jadi ini masih terus berlangsung beberapa negara bahkan bank sentralnya approach ke kami," ungkap Destry.

Adapun, 7 negara yang telah menjalin kerja sama LCT dengan Indonesia a.l Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, UEA dan Singapura. 


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: BI Buka Suara Soal Efek Isu Global ke Pelemahan Rupiah

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polisi Jerat Suami Siri Pembunuh Ibu dan Anak di Madiun Pasal Pembunuhan Berencana
• 1 jam lalu
0
thumb
Dalam 3 Bulan, Polri-BNN Sikat Sindikat Internasional Gagalkan 10,5 Ton Narkoba
• 6 jam lalu
0
thumb
Mulai Pulih, United Tractors (UNTR) Cetak Laba Bersih Rp7,9 Triliun hingga September 2026
• 8 jam lalu
0
thumb
Pimpinan KPK Usul Perampasan Harta Pejabat yang Tidak Masuk dalam LHKPN
• 3 menit lalu
0
thumb
Pilu Dini Warga Asal Bogor Dibakar dan Digiling Suami Siri, Anak Juga Dibunuh
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.