MAJALENGKA -- Pemerintah Kabupaten Majalengka terus memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan sarana dan prasarana irigasi pertanian. Salah satunya melalui bantuan Irigasi Pompanisasi (Irpom) dan Irigasi Perpipaan (Irpip) dengan total anggaran lebih dari Rp 13 miliar.
Hal tersebut disampaikan Bupati Majalengka, Eman Suherman, saat menghadiri kegiatan Persiapan Penerimaan Bantuan Irigasi Pompanisasi dan Irigasi Perpipaan, di Aula Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Senin (26/10/2026). Eman mengatakan, bantuan irigasi merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap petani. Hal itu terutama bagi yang mengelola lahan tadah hujan dan menghadapi keterbatasan pasokan air saat musim kemarau.
Baca Juga
Gerakan Pangan Murah Diserbu Warga Majalengka
Penyerapan Pengadaan Barang dan Jasa Majalengka Baru 25 Persen, OPD Diminta Percepat Realisasi
Dapat Bantuan Pusat, 179 Sekolah di Majalengka Masuk Program Revitalisasi
Ia menjelaskan, alokasi bantuan irigasi untuk Kabupaten Majalengka mencapai lebih dari Rp 13 miliar yang tersebar di sekitar 80 titik. Bantuan tersebut mencakup berbagai sektor pertanian, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan tebu.
Adapun alokasi bantuan teknis untuk irigasi pompanisasi mencapai Rp 155,7 juta per unit. Sedangkan irigasi perpipaan sebesar Rp 97 juta per unit.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Eman berharap, bantuan tersebut dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP), dari yang sebelumnya berada pada angka IP 1 atau 1,7 menuju IP 3. Dengan demikian, petani berpeluang melakukan penanaman hingga tiga kali dalam setahun.
“Langkah ini penting agar target Indeks Pertanaman kita bisa meningkat dari IP 1 atau 1,7 menuju IP 3. Jangan sampai petani kesulitan air saat musim kemarau,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan kelompok tani penerima bantuan agar mengelola dan merawat sarana irigasi dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, fasilitas yang diberikan pemerintah harus dipandang sebagai aset bersama yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Saya ingatkan agar kelompok tani mengelola dan menjaga bantuan ini dengan rasa memiliki (sense of ownership), bukan sekadar mencari keuntungan, agar nilai manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan,” tukas Eman.
Selain melalui bantuan irigasi, upaya menjaga ketersediaan air pertanian juga dilakukan melalui pembangunan sodetan bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Eman pun mengapresiasi hasil penanganan kekeringan di sejumlah wilayah yang selama ini dikenal rentan mengalami kekurangan air, khususnya Kecamatan Kertajati dan Jatitujuh. Melalui upaya tersebut, luas panen di wilayah yang biasanya hanya sekitar 500 hektare disebut meningkat menjadi 2.000 hektare.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menyediakan infrastruktur pendukung pertanian. Terutama untuk menghadapi tantangan perubahan musim dan keterbatasan sumber air.
Sementara itu, Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, mengatakan pihaknya berkomitmen memastikan proses penyaluran, pelaksanaan teknis, hingga pengelolaan bantuan berjalan sesuai ketentuan. Ia menjelaskan, lokasi penerima bantuan telah melalui proses verifikasi dan kajian teknis berdasarkan kondisi geografis serta kebutuhan air di masing-masing wilayah. Bantuan diprioritaskan untuk kawasan pertanian yang membutuhkan dukungan pasokan air, dan memiliki potensi sumber air permukaan maupun air tanah.
“Bantuan Irpom dan Irpip ini dialokasikan pada lokasi-lokasi yang telah melalui proses verifikasi dan kajian teknis geografis secara objektif,” katanya. n lilis sri handayani
Komentar (0)