Ketika Kehidupan Modern Bergerak Lebih Cepat daripada Kemampuan Tubuh Anda

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Kebutuhan untuk terus terburu-buru memiliki istilah tersendiri: “hurry sickness” atau sindrom terburu-buru.

Sheridan Genrich

Anda mungkin merasa tidak membutuhkan waktu istirahat tambahan atau menganggap tubuh yang kelelahan sebagai harga yang harus dibayar demi menyelesaikan pekerjaan. Namun, bahkan pada malam yang tenang, pikiran Anda sudah berpacu menyusun daftar tugas untuk esok hari.

Perasaan terus-menerus bahwa waktu tidak pernah cukup dikenal dalam penelitian sebagai hurry sickness. Kondisi ini bukan diagnosis medis resmi. Istilah tersebut menggambarkan pola perilaku yang ditandai dengan kebiasaan terburu-buru, ketidaksabaran, mengerjakan banyak hal sekaligus, dan rasa terdesak yang disertai kecemasan. Ini merupakan tekanan batin untuk bergerak lebih cepat, melakukan lebih banyak hal, dan menghindari bahkan jeda singkat tanpa kegiatan.

Dari luar, orang yang mengalami hurry sickness mungkin terlihat sangat cakap dan produktif. Namun, tubuh mereka sebenarnya terus berada dalam kondisi stres tingkat rendah.

Memahami bagaimana sindrom terburu-buru terbentuk dan dampaknya terhadap tubuh dari waktu ke waktu dapat membantu seseorang menemukan cara praktis untuk mencegahnya atau memulihkan diri setelah pola tersebut telanjur terbentuk.

Memahami Sindrom Terburu-buru

Hurry sickness terjadi ketika perasaan dikejar waktu berubah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Alih-alih hanya merasakan tekanan saat menghadapi tenggat waktu atau keadaan darurat sesekali, seseorang mulai memperlakukan kegiatan biasa—seperti membalas pesan, bepergian ke tempat kerja, memasak makan malam, atau menunggu orang lain selesai berbicara—seolah-olah semuanya harus segera dilakukan.

Tuntutan nyata dapat memicu pola ini, termasuk jam kerja yang panjang, tanggung jawab merawat anggota keluarga, tekanan keuangan, dan terlalu banyak kewajiban. Namun, budaya yang mengukur nilai seseorang berdasarkan kesibukannya juga dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Hal serupa terjadi pada penggunaan ponsel dan platform digital yang menimbulkan harapan bahwa seseorang harus selalu bisa dihubungi, mengetahui berbagai informasi, dan siap merespons kapan saja.

Persaingan menambah tekanan lainnya. Jose Yong, peneliti senior yang memimpin sebuah tinjauan penelitian baru dalam jurnal Behavioral Sciences, bersama rekan-rekannya berpendapat bahwa lingkungan modern dapat memperkuat perasaan bahwa orang lain sedang menilai kita, mengungguli kita, atau meninggalkan kita.

Naluri tersebut dahulu membantu manusia beradaptasi dalam kelompok-kelompok kecil. Namun, kini naluri itu terus terpicu oleh arus tanpa henti dari unggahan media sosial yang menampilkan kehidupan yang telah dikurasi, pencapaian, dan berbagai penanda status.

“Persaingan bukanlah hal baru, tetapi kehidupan modern dapat membuatnya terasa terus-menerus,” kata Yong kepada The Epoch Times.

Dampaknya terhadap Tubuh

Menurut Yong, tubuh manusia dirancang untuk menghadapi stres dalam waktu singkat, kemudian memulihkan diri. Namun, kehidupan modern sering kali tidak memberikan cukup waktu untuk pemulihan. Email, tenggat waktu, tekanan keuangan, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat dipersepsikan sebagai ancaman yang terus berlangsung sehingga respons stres tetap aktif.

Dalam jangka pendek, rasa terdesak tersebut bisa terasa bermanfaat. Otak mendeteksi tekanan dan melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol untuk mendorong seseorang bertindak. Pada saat yang sama, detak jantung dan tekanan darah meningkat, otot menegang, pernapasan menjadi lebih dangkal, dan perhatian menyempit pada tugas berikutnya.

Respons ini sesuai untuk menghadapi satu keadaan darurat, tetapi tidak cocok untuk kehidupan ketika tuntutan seolah tidak pernah berhenti.

“Masalahnya bukan karena stres itu ada, melainkan karena stres tidak lagi berakhir ketika bahaya sudah berlalu,” ujar Yong.

Seiring waktu, tekanan waktu yang kronis membuat sistem saraf lebih cenderung berada dalam keadaan siaga daripada memasuki fase pemulihan. Seseorang bisa menjadi lebih reaktif terhadap keterlambatan kecil, semakin sering mengerjakan beberapa hal sekaligus, serta semakin sulit berkonsentrasi secara mendalam atau mengambil keputusan dengan pertimbangan matang.

Seperti Apa Kondisi Tubuh yang Terus Dipacu?

Salah satu aspek stres kronis yang paling menyesatkan adalah bahwa kondisi tersebut bisa terasa normal. Seseorang mungkin tidak menganggap dirinya cemas atau kewalahan, tetapi tetap merasa lelah dan kesulitan untuk bersantai.

Tidur bisa menjadi lebih ringan atau sering terputus sehingga seseorang tetap merasa kehabisan tenaga meskipun sudah menghabiskan waktu semalaman di tempat tidur. Tidur sering menjadi salah satu hal pertama yang terganggu, kemudian berdampak pada suasana hati, ingatan, nafsu makan, dan kemampuan mengendalikan emosi.

Ketegangan otot, perubahan pencernaan, mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, serta kebiasaan berulang kali memeriksa ponsel atau email juga dapat menjadi petunjuk bahwa sistem saraf terus bekerja dalam kondisi berlebihan.

Tanda-tanda tersebut muncul secara perlahan dan mudah dianggap sebagai akibat jadwal yang padat atau tidur malam yang buruk.

Hal ini mungkin juga menjelaskan mengapa istirahat mulai terasa seperti kegagalan, bukan kebutuhan. Dalam budaya yang menghargai kecepatan dan respons tanpa henti, kecemasan, ketegangan, kelelahan, dan kewaspadaan terus-menerus dapat menjadi begitu akrab sehingga terasa bukan hanya normal, melainkan juga sesuatu yang diharapkan.

“Ketika stres kronis menjadi kondisi dasar, orang akhirnya bisa merasa baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang mengalami stres,” kata Yong.

Apa yang Berubah?

Sejumlah aspek kehidupan modern membuat tubuh semakin sulit kembali ke kondisi normal. Cahaya buatan dan layar menunda waktu istirahat serta membuat otak tetap terstimulasi ketika seharusnya mulai bersiap untuk tidur. Sementara itu, duduk berjam-jam di meja kerja mengurangi aktivitas fisik alami yang dahulu membuat tubuh lelah dan membantu mempersiapkannya untuk tidur.

Kehidupan sosial juga telah bergeser ke dunia daring. Hal ini dapat membuat orang tetap terhubung, tetapi belum tentu memenuhi kebutuhan emosional mereka. Waktu luang singkat yang dahulu mungkin digunakan untuk beristirahat kini segera terisi dengan menggulir layar, membaca pesan, atau menyelesaikan berbagai urusan.

Tanpa jeda-jeda kecil yang tidak diisi kegiatan tertentu, tubuh kehilangan isyarat alaminya untuk memperlambat aktivitas. Akibatnya, tubuh tetap berada dalam keadaan siaga tingkat rendah, alih-alih bergantian antara aktivitas dan istirahat sebagaimana dirancang secara biologis.

“Perhatian adalah sumber daya biologis yang terbatas, dan platform modern bersaing untuk merebut setiap waktu luang,” kata Yong.

Ia juga menyoroti stimulasi buatan sebagai bagian dari masalah. Perangkat hiburan, makanan ultraolahan, serta zat kimia buatan tertentu dapat bertindak sebagai rangsangan “supernormal” yang melatih otak untuk mengharapkan tingkat stimulasi lebih tinggi daripada yang ditawarkan kehidupan biasa.

Seiring waktu, hal tersebut dapat membuat bentuk istirahat alami—seperti berjalan-jalan di luar ruangan, menikmati malam yang tenang, atau menghabiskan waktu di pantai—terasa hambar atau bahkan menimbulkan kegelisahan.

Jika tidak ditangani, kombinasi antara respons stres yang terus aktif tanpa kesempatan untuk meredakannya dan lingkungan yang berulang kali mengganggu proses pemulihan akan menciptakan rutinitas sehari-hari yang hampir tidak memberi tubuh kesempatan untuk kembali ke kondisi normal. Dampaknya dapat meluas dari gangguan tidur dan suasana hati hingga fungsi kekebalan tubuh dan kesehatan jantung.

Cara Mencegah atau Memulihkan Diri dari Sindrom Terburu-buru

Kabar baiknya, tubuh merespons pemulihan sebagaimana tubuh merespons tekanan. Hurry sickness bukanlah kondisi permanen, tetapi pemulihannya biasanya membutuhkan lebih dari sekadar liburan singkat atau satu pekan kerja yang lebih santai.

Perubahan kecil yang dilakukan berulang kali dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—bukan hanya diterapkan ketika seseorang sudah mencapai batas kemampuannya—dapat membantu mengeluarkan sistem saraf dari kondisi stres kronis.

1. Prioritaskan Tidur

Yong menekankan bahwa tidur harus diperlakukan sebagai prioritas, bukan sesuatu yang dilakukan hanya jika masih ada waktu.

“Tidur adalah saat otak dan tubuh mendapat kesempatan untuk memulihkan diri,” katanya.

Saat tidur, tubuh memperbaiki diri, menyesuaikan kembali berbagai fungsi, dan memulihkan kondisi setelah menghadapi tuntutan sepanjang hari. Menetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten, disertai periode menenangkan diri tanpa layar sebelum tidur, dapat memberi sinyal kepada otak bahwa hari telah berakhir.

Dalam sebuah penelitian, orang dewasa yang melaporkan tidur lima jam atau kurang mengalami lebih banyak hari dengan kondisi kesehatan mental dan fisik yang buruk serta memiliki prevalensi depresi lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur selama enam hingga delapan jam.

Kurang tidur secara teratur juga dapat membuat stres terasa lebih berat sekaligus mengganggu suasana hati, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Hal ini membantu menjelaskan mengapa sebagian besar orang dewasa disarankan untuk tidur sekitar tujuh jam setiap malam.

2. Sengaja Sisihkan Waktu untuk Pemulihan

“Pemulihan bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan; pemulihan merupakan bagian dari cara tubuh dirancang untuk berfungsi,” ujar Yong.

Alih-alih beristirahat hanya setelah mencapai titik kelelahan, seseorang dapat menjadwalkan jeda singkat sepanjang hari. Misalnya, menarik napas perlahan beberapa kali sebelum membuka email, berjalan kaki sebentar di antara rapat, atau menikmati lima menit dalam keheningan tanpa ponsel.

Momen-momen tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi dapat memutus siklus kebiasaan memperlakukan setiap tugas seolah-olah mendesak.

3. Lebih Banyak Bergerak, Bukan Berolahraga Lebih Keras

Tubuh memperoleh manfaat dari gerakan sehari-hari yang dilakukan secara rutin untuk memutus periode duduk terlalu lama, bukan hanya dari olahraga terstruktur.

Lebih sering berjalan kaki, berdiri, dan menghabiskan waktu di luar ruangan dapat membantu mengimbangi kurangnya gerak akibat pekerjaan modern dan penggunaan layar. Melakukan peregangan, berkebun, atau memilih rute yang lebih panjang saat berjalan mengelilingi lingkungan tempat tinggal juga dapat memberikan manfaat serupa.

Penelitian juga menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam dapat mengurangi tingkat stres yang dirasakan dan memperbaiki sejumlah indikator fisiologis stres.

4. Tetapkan Batasan

Menyediakan waktu ketika Anda tidak dapat dihubungi, tidak tersedia untuk merespons, atau tidak diharapkan mengerjakan banyak hal sekaligus dapat memberi kesempatan kepada pikiran dan tubuh untuk menjadi lebih tenang.

Contoh sederhana penerapan batasan adalah memberi diri sendiri waktu untuk tidak langsung membalas pesan dan berfokus pada satu hal dalam satu waktu. Anda bisa berjalan kaki selama 10 menit tanpa membawa ponsel atau menetapkan waktu tertentu setiap malam untuk berhenti memeriksa ponsel.

Tujuannya bukan menjauh sepenuhnya dari kehidupan modern, melainkan menyediakan cukup ruang agar pikiran dan tubuh dapat kembali merasa tenang, seimbang, dan aman.

5. Jaga Hubungan Sosial

Hubungan sosial juga dapat menjadi faktor pelindung. Rasa terdesak yang berlangsung terus-menerus sering kali membuat kehidupan seseorang menyempit menjadi sekadar tugas dan kewajiban. Namun, berbicara dengan teman yang dipercaya, makan bersama, atau menghabiskan waktu dalam komunitas dapat melawan keterasingan yang cenderung ditimbulkan oleh stres.

Praktik relaksasi—seperti bernapas perlahan, meditasi, relaksasi otot progresif, atau mandi air hangat—juga dapat membantu mengurangi ketegangan fisik dan memulihkan perasaan mampu mengendalikan diri.

Ketahui Kapan Anda Membutuhkan Bantuan

Bagi orang yang terus-menerus merasa cemas atau depresi, mengalami kesulitan tidur, atau tidak mampu memperlambat aktivitas meskipun telah melakukan berbagai perubahan, bantuan profesional dapat bermanfaat.

Terapis atau tenaga klinis berkualifikasi lainnya dapat membantu mengidentifikasi tekanan dan pola pikir yang membuat respons stres tetap aktif, sekaligus mengembangkan strategi yang sesuai dengan keadaan masing-masing orang.

Dalam cakupan yang lebih luas, Yong dan rekan-rekannya menyarankan agar tempat kerja, kota, dan ruang daring dirancang untuk melindungi perhatian manusia, bukan terus-menerus menuntutnya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain mengurangi notifikasi, membatasi banjir informasi, menyediakan jadwal yang lebih fleksibel, serta memperbanyak ruang hijau dan kesempatan untuk membangun hubungan sosial.

Mereka juga mencatat bahwa ukuran sebuah kota bukanlah satu-satunya persoalan. Yang lebih penting adalah apakah suatu tempat terasa sesak, tidak aman, atau sulit dijelajahi.

“Kita perlu merancang intervensi yang selaras dengan sifat alami manusia, bukan justru bertentangan dengannya,” kata Yong.

Pelajaran yang lebih luas sebenarnya sederhana: tubuh mampu menghadapi stres, tetapi juga membutuhkan pemulihan. Ketika kehidupan berubah menjadi perlombaan tanpa henti, pertanyaan yang sebenarnya bukanlah apakah seseorang masih mampu terus berjalan, melainkan berapa lama tubuh dapat terus dipacu sebelum mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pihak Ruben Onsu Persilakan Sarwendah Lunasi Utang Bank Rp12,6 M: Dia Akan Mendapatkan Rumah
• 6 jam lalu
0
thumb
Operasi Patuh Jaya Digelar 2 Pekan: Tindak Lawan Arah hingga Edukasi ke Sekolah
• 16 jam lalu
0
thumb
Jevtoski: Kami Punya Peluang Kalahkan Bhayangkara FC
• 16 jam lalu
0
thumb
Menkomdigi: 45 Persen Anak di Indonesia Pernah Alami Cyberbullying
• 7 jam lalu
0
thumb
Bahlil Jamin Indonesia tak Langgar Kontrak Ekspor Gas ke Singapura
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.