Jakarta, tvOnenws.com - Psikolog di bidang kognitif dan perkembangan, Doktor Okina Fitriani menyoroti fenomena tren konten video melalui jasa TikToker polisi anak 84 yang diperankan oleh konten kreator Ibnu Agung.
Pasalnya, sejumlah video konten polisi anak 84 saat bersama para ibu-ibu, termasuk artis Nathalie Holscher hingga selebgram Pratiwi Noviyanthi alias Teh Novi viral di media sosial. Dengan tujuan mendidik, mereka dibantu oleh sang konten kreator agar anak mudah diatur.
Namun, Okina cukup menyayangkan tren konten tersebut dijadikan video yang disebar di ruang publik. Sebab, jejak digital berpotensi dilihat oleh anak saat sudah dewasa.
"Bagaimana saat mereka dewasa melihat videonya lagi? Bayangkan beberapa belas tahun kemudian anak tersebut menemukan rekaman dirinya yang kecil. Ia melihat wajahnya yang panik, mendengar suaranya memohon, dan mengetahui bahwa peristiwa yang ia alami sebagai ancaman nyata sesungguhnya merupakan rekayasa," ujar Okina kepada tvOnenews.com, Minggu (25/10/2026).
Dilihat dari setiap unggahan video TikTok @polisianak84, tak sedikit para orang tua khususnya ibu-ibu meminta bantuan jasa agar TikToker polisi anak 84 itu menegur dan menasihati anak mereka yang sulit diatur.
Jika tidak mengikuti nasihatnya, konten kreator tersebut dinilai memberikan ucapan bernada ancaman dan akan menangkapnya. Situasi ini membuat anak potensi berekspresi menangis, panik, serta ketakutan.
Ia mencontohkan, anak Nathalie dari komedin Sule, Adzam tampak menangis dan ketakutan setelah diimbau oleh sang konten kreator. Selain itu, video memperlihatkan Teh Novi melaporkan Adek Tabo akibat sering memukul teman juga mencuri perhatian warganet.
Alih-alih edukasi, reaksi ekspresi anak justru mendorong warganet tertawa. Okina mengkhawatirkan dampak yang akan terjadi jika konten video tersebut dilihat buah hati mereka saat sudah dewasa.
"Apa yang akan dia rasakan? Jawabannya tidak tunggal. Sebagian orang mungkin bisa menertawakan kembali pengalamannya apabila ortunya segera memperbaiki diri sehingga komunikasi yang hangat terbangun kemudian. Sebagian lainnya mungkin merasa malu, kecewa, marah, atau mempertanyakan mengapa ketakutannya tidak ditanggapi dengan perlindungan," jelasnya.
Merujuk dari penemuan Ouvrein dan Verswijvel (2019), dalam penelitian kelompok terarah, bahwa remaja dapat mengalami frustrasi dan rasa malu terhadap unggahan orang tua yang berbenturan dengan cara mereka ingin menampilkan diri. Bagi anak, video yang diunggah orang tuanya dapat menjadi bagian dari identitas digital yang tidak pernah ia pilih.





Komentar (0)