Kebakaran Hutan Bisa Picu Bencana Susulan, Memadamkan Api Saja Tak Cukup

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Kebakaran hutan dan lahan berpotensi menyebabkan bencana baru ketika memasuki musim hujan. Di area yang terbakar hebat, sifat fisik tanah bisa ikut berubah hingga mengurangi kemampuannya menyerap air. Ketika hujan lebat, risiko yang ditimbulkan: erosi, banjir bandang, maupun aliran lumpur ke wilayah lebih rendah.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatra Utara Onrizal mengatakan saat kondisi baik, tajuk pohon, lapisan serasah, perakaran, dan struktur tanah hutan saling bekerja sama untuk mengatur aliran air. Sebagian air tertahan vegetasi, sebagian meresap ke dalam tanah, sebagian mengalir ke sungai.

“Ketika kebakaran menghanguskan vegetasi dan lapisan serasah, tanah menjadi lebih terbuka terhadap pukulan air hujan,” kata Onrizal kepada Katadata, Senin (26/10).

Karena itu, di lokasi yang mengalami kebakaran berat, kondisi tanah bisa ikut berubah sehingga kemampuannya menyerap air jadi berkurang. Risikonya bisa meningkat ketika terjadi di kawasan pegunungan atau daerah hulu sungai.

Onrizal melanjutkan, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi di lokasi tersebut, maka air berpotensi lebih cepat mengalir di permukaan, membawa abu bekas kebakaran, tanah, beserta material lainnya menuju sungai.

“Di kawasan berlereng curam, kondisi ini dapat meningkatkan risiko erosi, banjir bandang, maupun aliran lumpur dan material lainnya ke wilayah lebih rendah,” ujar dia. 

Namun, tidak semua area hutan yang terbakar akan mengalami banjir maupun longsor. Dampaknya tergantung pada luas dan tingkat parahnya kebakaran, kondisi tanah, kemiringan lereng, tutupan vegetasi tersisa, juga intensitas hujan.

Penanganan Kebakaran Tidak Berhenti Saat Api Padam

Menurut Onrizal, penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak boleh berhenti ketika api sudah padam. Area terbakar yang berada di wilayah hulu dan lereng curam perlu dicek untuk diketahui berapa besar kerusakannya dan ditelisik potensi ancamannya untuk wilayah hilir.

“Lokasi yang memiliki risiko tinggi harus mendapat perhatian lebih awal. Pemantauan kondisi lereng dan aliran sungai, kesiapan sistem peringatan dini, serta langkah pengendalian erosi perlu dilakukan sebelum hujan lebat datang,” ucapnya.

Dia juga memberi catatan bahwa pemulihan vegetasi harus dilakukan dengan hati-hati. “Tidak semua lahan yang terbakar harus langsung ditanami,” ujar dia. Pasalnya, di beberapa ekosistem, alam masih memiliki kemampuan untuk beregenerasi secara alami.

Upaya pemulihan harus memperhatikan kondisi ekosistem dan peluang keberhasilan pemulihan, tidak melulu berpatok pada banyaknya bibit yang ditanam. Pemulihan juga perlu mempertimbangkan satwa-satwa liar yang hidup di kawasan tersebut. 

“Bagi satwa, kebakaran berarti hilangnya tempat berlindung, sumber pakan, dan jalur pergerakan yang selama ini mereka gunakan,” kata Onrizal.

Dia lalu menegaskan, kebakaran bukan hanya perihal luas hutan yang terbakar. Tapi, ada fungsi ekologis yang terganggu, habitat yang rusak, keanekaragaman hayati yang terancam, serta kemungkinan bencana bagi masyarakat sekitarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Waka KPK usulkan kewenangan rampas aset pejabat tak tercantum di LHKPN
• 23 jam lalu
0
thumb
Real Madrid Terancam Kehilangan Kekuatan Jelang El Clásico, Courtois Absen akibat Flu
• 22 jam lalu
0
thumb
Persik Kediri Siapkan Kejutan untuk Hadapi Persija Jakarta, Marcos Reina Punya Strategi Khusus
• 13 jam lalu
0
thumb
Max Verstappen Kritik Pengelola Sirkuit COTA Terkait Lintasan Bergelombang
• 5 jam lalu
0
thumb
Kasus Montir Ditagih Pajak McLaren: Samsat Duga Data Dicatut, Mobil dari Bekasi
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.