Grid.ID — Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) merilis novel berprestasi internasional karya penulis asal Hong Kong, Lau Yee-Wa, berjudul Kelu yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari judul asli 失語 (Kanton: sat jyu, atau Mandarin: shīyǔ), judul dalam bahasa Inggris “Tongueless” yang resmi mulai dapat dibeli pada 24 Oktober 2026.
Menandai peluncuran novel tersebut, Lau Yee-Wa hadir langsung di Indonesia untuk menyapa para pembaca melalui rangkaian diskusi publik di Auditorium 1 FIB UI pada 22 Oktober 2026 dan Creative Space Gramedia Jalma Melawai pada 24 Oktober 2026.
Kegiatan ini digelar untuk mengulas secara mendalam isu sastra, bahasa, dan identitas budaya yang diangkat dalam novelnya melalui sesi bedah buku, serta dialog interaktif bersama akademisi dan penerjemah.
Rangkaian acara diawali dengan diskusi bertajuk "Bedah Buku Kelu: Sastra, Bahasa, dan Isu Sosial Hong Kong" yang diselenggarakan pada Kamis, 22 Oktober 2026 di Auditorium 1, Gedung 1, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Acara ini menghadirkan akademisi FIB UI Dr. Rahadjeng Pulungsari, M.Hum. sebagai pemantik diskusi serta Dr. Minah Febriani Budianto, S.Hum., M.A. sebagai moderator.
Sesi ini mengupas bagaimana karya sastra merepresentasikan ketegangan sosial, kebijakan pendidikan, dan realitas perubahan masyarakat di Hong Kong melalui kisah para tokohnya.
Selanjutnya, acara kedua bertajuk "Bahasa dan Identitas sebagai Persekusi" digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Creative Space, Gramedia Jalma Melawai, Jakarta. Diskusi ini menghadirkan Lau Yee-Wa bersama penerjemah novel Kelu ke dalam bahasa Indonesia, Naomi Midori, serta dipandu oleh Patricia Wulandari sebagai moderator. Sesi ini menelusuri bagaimana bahasa dapat menjadi alat penyeragaman sekaligus sumber tekanan bagi pihak-pihak yang identitasnya terpinggirkan di tengah tuntutan institusional.
Novel Kelu mengangkat kisah dua guru bahasa di kelas Mandarin, Wai dan Ling, yang harus menghadapi perubahan kebijakan bahasa pengantar sekolah dari bahasa Kanton ke bahasa Mandarin. Perubahan ini memicu konflik mendalam terkait identitas diri sebagai orang Hong Kong, hirarki bahasa, hingga tekanan psikologis di lingkungan kerja.
Selain perihal bahasa dan identitas manusia Hong Kong, Kelu juga memotret bagaimana ekonomi dan pergerakan sosial-politik di masyarakat Hong Kong. Ketegangan sosial dan persoalan standar bahasa ini tecermin kuat dalam salah satu kutipan novel Kelu:
“Kamu pikir belajar bahasa cuma soal bisa bicara beberapa kalimat saja? Zaman sudah beda.” Ibunya menyeringai. “Memangnya memalukan kalau hanya tahu beberapa kalimat saja?" "Kalau bicara tidak sesuai standar saja disebut cacat, maka sebagian besar orang Hong Kong cacat.”
Lau Yee-Wa merupakan penulis dan guru penulisan kreatif untuk anak berkebutuhan khusus (ADHD) lulusan Chinese University of Hong Kong. Cerpennya yang berjudul “The Shark” berhasil meraih Hong Kong Champion Award for Creative Writing in Chinese (2016). Novel debutnya, Kelu (Tongueless), meraih berbagai penghargaan internasional bergengsi, di antaranya English PEN Award 2024 dan Chommanard International Women’s Literary Award 2025.
Melalui rangkaian kegiatan dan penerbitan novel ini, Penerbit KPG berharap dapat membuka ruang dialog kritis bagi akademisi, pencinta sastra, dan masyarakat luas mengenai peran penting bahasa dalam membentuk identitas serta merespons dinamika sosial-budaya kontemporer. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)