Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan prevalensi stunting di wilayahnya ditargetkan turun dari sekitar 14 persen menjadi 11,2 persen hingga akhir 2030.
"Berdasarkan data tahun 2023 dan 2024, angka stunting di Jakarta Selatan menunjukkan tren penurunan. Namun, kita tetap harus bekerja keras untuk mencapai target jangka panjang," kata Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Jakarta Selatan Rizky Hamid di Jakarta, Senin.
Rizky memaparkan tren penanganan stunting di wilayahnya menunjukkan perkembangan positif.
Koordinasi dengan seluruh perangkat daerah diharapkan mampu mewujudkan anak-anak bebas stunting.
Selain memperkuat koordinasi antar instansi, Pemkot juga berupaya meningkatkan efektivitas program penanganan stunting di seluruh wilayah Jakarta Selatan.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan intervensi, evaluasi program, serta peningkatan edukasi gizi dan pola asuh keluarga.
"Semoga upaya kita bersama ini dapat mengentaskan stunting nantinya, sesuai dengan target yang telah ditetapkan bersama," katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanudin Ibrahim mengatakan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi terpadu karena permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja.
Firmanudin menjelaskan faktor penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga pola asuh dan praktik pengasuhan anak di masyarakat.
Permasalahan stunting, kata dia, bukan hanya bersumber dari faktor ekonomi semata, melainkan juga pola asuh di masyarakat.
"Berdasarkan hasil pemetaan, kasus di Jakarta Selatan sering kali dipicu oleh tingginya tingkat kepercayaan keluarga kepada pihak pengasuh dalam merawat anak," katanya.
Ia menambahkan edukasi mengenai gizi dan pola asuh perlu diperkuat dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat. Untuk itu, pihaknya akan mendorong keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menyampaikan pesan edukasi.
Firmanudin menyebut Kecamatan Jagakarsa saat ini tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan sehingga memerlukan perhatian serta intervensi yang lebih optimal.
"Penanganan stunting memerlukan keterlibatan aktif secara berjenjang, hingga pengurus lingkungan. Saat ini, Kecamatan Jagakarsa tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting yang paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan," ucapnya.
Baca juga: Gubernur DKI targetkan angka stunting bisa turun hingga 14 persen
Baca juga: Cegah stunting, Pemkab Kepulauan Seribu edukasi calon pengantin
Baca juga: Pemkot Jaksel perkuat pencegahan stunting lewat kelas calon pengantin
"Berdasarkan data tahun 2023 dan 2024, angka stunting di Jakarta Selatan menunjukkan tren penurunan. Namun, kita tetap harus bekerja keras untuk mencapai target jangka panjang," kata Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Jakarta Selatan Rizky Hamid di Jakarta, Senin.
Rizky memaparkan tren penanganan stunting di wilayahnya menunjukkan perkembangan positif.
Koordinasi dengan seluruh perangkat daerah diharapkan mampu mewujudkan anak-anak bebas stunting.
Selain memperkuat koordinasi antar instansi, Pemkot juga berupaya meningkatkan efektivitas program penanganan stunting di seluruh wilayah Jakarta Selatan.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan intervensi, evaluasi program, serta peningkatan edukasi gizi dan pola asuh keluarga.
"Semoga upaya kita bersama ini dapat mengentaskan stunting nantinya, sesuai dengan target yang telah ditetapkan bersama," katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanudin Ibrahim mengatakan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi terpadu karena permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja.
Firmanudin menjelaskan faktor penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga pola asuh dan praktik pengasuhan anak di masyarakat.
Permasalahan stunting, kata dia, bukan hanya bersumber dari faktor ekonomi semata, melainkan juga pola asuh di masyarakat.
"Berdasarkan hasil pemetaan, kasus di Jakarta Selatan sering kali dipicu oleh tingginya tingkat kepercayaan keluarga kepada pihak pengasuh dalam merawat anak," katanya.
Ia menambahkan edukasi mengenai gizi dan pola asuh perlu diperkuat dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat. Untuk itu, pihaknya akan mendorong keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menyampaikan pesan edukasi.
Firmanudin menyebut Kecamatan Jagakarsa saat ini tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan sehingga memerlukan perhatian serta intervensi yang lebih optimal.
"Penanganan stunting memerlukan keterlibatan aktif secara berjenjang, hingga pengurus lingkungan. Saat ini, Kecamatan Jagakarsa tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting yang paling luas dan terpadat di Jakarta Selatan," ucapnya.
Baca juga: Gubernur DKI targetkan angka stunting bisa turun hingga 14 persen
Baca juga: Cegah stunting, Pemkab Kepulauan Seribu edukasi calon pengantin
Baca juga: Pemkot Jaksel perkuat pencegahan stunting lewat kelas calon pengantin






Komentar (0)