JAKARTA, DISWAY.ID - Salah satu langkah yang disoroti adalah rencana mengecualikan saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat integritas pasar modal di tengah sorotan terhadap penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI)
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menuturkan bahwa nantinya, BEI juga akan turut memberikan ruang bagi pihak-pihak terkait untuk menetapkan metodologi yang dirasa perlu dilakukan penyesuaian, dalam mengantisipasi kondisi pasar yang semakin berkembang dan dinamis.
BACA JUGA:Kementerian ESDM Kerahkan Pengawal Energi 2026 untuk 3.679 SPBU
"Pasar kita punya karakteristik sendiri. Oleh karena itu, kami melihat bahwa mekanisme pengawasan yang ini akan jadi efektif," jelas Jeffrey kepada awak media di kantor BEI, Jakarta, pada Senin, 26 Oktober 2026.
Dalam hal ini, Jeffrey menambahkan, langkah ini diambil untuk mengantisipasi atau mencegah pihak bursa atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk tidak melakukan suspensi atas perdagangan saham, melainkan terhadap rekening tertentu yang terindikasi melakukan tindakan pelanggaran.
"Kami harapkan di awal November ini sudah bisa dikerahkan," ucap Jeffrey.
Ditemui dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi turut menuturkan bahwa dalam upayanya untuk menegakkan aturan di pasar modal Indonesia, OJK turut berencana untuk membawa kasus pelanggaran pasar modal ke pengadilan.
BACA JUGA:TKA 2026 SMA Resmi Dimulai, Mendikdasmen Imbau Siswa Jujur dan Gembira Mengerjakannya
Dalam pernyataannya, dirinya menilai bahwa langkah ini diharapkan dapat memberikan efek jera dari para pelaku pelanggaran, serta memperkuat integritas dan mekanisme pasar.
"Tentu di fase awal reformasi ini, yang kita lakukan memang membangun fondasi, atau basis level kecukupan transparansi. Ini juga yang sebetulnya kami tangkap sebagai konsep awal dan utama," jelas Hasan.
"Di kesempatan berikutnya tentu tantangan terbesar adalah semakin mendorong peningkatan pendalaman pasar," tambahnya.
Sementara itu di tengah sorotan terhadap penilaian MSCI, fundamental perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia menunjukkan perkembangan positif.
Dalam hal ini, pendapatan perusahaan tercatat tumbuh 15,9 persen, disertai pertumbuhan laba bersih per Triwulan II.
BACA JUGA:Pasca Pelantikan, PBNU Siapkan Munas-Konbes-Rakernas sebagai Quick Win
- 1
- 2
- »






Komentar (0)