Washington (ANTARA) - Kedutaan Besar Amerika Serikat di Arab Saudi merilis peringatan akan meningkatnya ancaman keamanan dari kelompok Houthi di Yaman, menyusul dibukanya kembali sebagian bandara utama di Ibu Kota Riyadh setelah serangkaian serangan rudal dan drone.
Dalam peringatan keamanan yang diperbarui, Minggu (25/10), misi diplomatik AS menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri telah memerintahkan pegawai pemerintah non-esensial beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi terhitung sejak 23 Oktober, dengan alasan peningkatan risiko keselamatan.
"Kelompok Houthi yang didukung Iran telah terlibat dalam aksi permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban jiwa di antara warga sipil serta gangguan perjalanan yang parah," demikian pernyataan Kedubes AS.
Kelompok Houthi—yang telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan berbagai wilayah lainnya sejak 2014—kembali melancarkan pertempuran melawan pasukan pemerintah yang didukung Saudi pada Juli lalu seiring runtuhnya gencatan senjata tahun 2022.
Selain sektor penerbangan, kelompok tersebut juga menargetkan fasilitas-fasilitas energi milik Saudi.
"Aksi permusuhan ini berpotensi meningkat dengan cepat melampaui wilayah langsung tersebut," kata pihak kedutaan.
Perintah evakuasi atau keberangkatan bagi pegawai AS pertama kali diumumkan secara publik pada Rabu (21/10).
Pihak kedutaan menyebutkan bahwa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Minggu (25/10) kembali dibuka sebagian untuk melayani penerbangan domestik serta sejumlah penerbangan internasional yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan Saudi.
Meskipun demikian, kedutaan memperingatkan warga negara AS akan potensi serangan lanjutan, penutupan wilayah udara, serta pembatalan penerbangan, sekaligus mendesak agar mereka meningkatkan kewaspadaan yang ekstrem saat menggunakan bandara-bandara di Saudi.
Saat ini, personel pemerintah AS diwajibkan untuk mengantongi izin khusus apabila ingin menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi.
Di lain pihak, kelompok Houthi telah memperbarui ancaman mereka terhadap bandara Riyadh, dengan menegaskan bahwa fasilitas tersebut tetap menjadi sasaran militer meskipun telah kembali dibuka sebagian.
Bandara tersebut sebelumnya sempat menangguhkan operasional menyusul serangan Houthi pada 10 Oktober yang menewaskan 13 jiwa dan melukai ratusan orang lainnya.
Sementara itu, Arab Saudi kembali mencegat rudal dan drone tambahan pada Minggu, seiring dengan berlanjutnya pertempuran melawan kelompok Houthi.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Bandara Riyadh dibuka sebagian pascaserangan Houthi
Baca juga: Dewan Teluk kecam serangan Houthi karena melanggar kesucian Mekkah
Dalam peringatan keamanan yang diperbarui, Minggu (25/10), misi diplomatik AS menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri telah memerintahkan pegawai pemerintah non-esensial beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi terhitung sejak 23 Oktober, dengan alasan peningkatan risiko keselamatan.
"Kelompok Houthi yang didukung Iran telah terlibat dalam aksi permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban jiwa di antara warga sipil serta gangguan perjalanan yang parah," demikian pernyataan Kedubes AS.
Kelompok Houthi—yang telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan berbagai wilayah lainnya sejak 2014—kembali melancarkan pertempuran melawan pasukan pemerintah yang didukung Saudi pada Juli lalu seiring runtuhnya gencatan senjata tahun 2022.
Selain sektor penerbangan, kelompok tersebut juga menargetkan fasilitas-fasilitas energi milik Saudi.
"Aksi permusuhan ini berpotensi meningkat dengan cepat melampaui wilayah langsung tersebut," kata pihak kedutaan.
Perintah evakuasi atau keberangkatan bagi pegawai AS pertama kali diumumkan secara publik pada Rabu (21/10).
Pihak kedutaan menyebutkan bahwa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Minggu (25/10) kembali dibuka sebagian untuk melayani penerbangan domestik serta sejumlah penerbangan internasional yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan Saudi.
Meskipun demikian, kedutaan memperingatkan warga negara AS akan potensi serangan lanjutan, penutupan wilayah udara, serta pembatalan penerbangan, sekaligus mendesak agar mereka meningkatkan kewaspadaan yang ekstrem saat menggunakan bandara-bandara di Saudi.
Saat ini, personel pemerintah AS diwajibkan untuk mengantongi izin khusus apabila ingin menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi.
Di lain pihak, kelompok Houthi telah memperbarui ancaman mereka terhadap bandara Riyadh, dengan menegaskan bahwa fasilitas tersebut tetap menjadi sasaran militer meskipun telah kembali dibuka sebagian.
Bandara tersebut sebelumnya sempat menangguhkan operasional menyusul serangan Houthi pada 10 Oktober yang menewaskan 13 jiwa dan melukai ratusan orang lainnya.
Sementara itu, Arab Saudi kembali mencegat rudal dan drone tambahan pada Minggu, seiring dengan berlanjutnya pertempuran melawan kelompok Houthi.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Bandara Riyadh dibuka sebagian pascaserangan Houthi
Baca juga: Dewan Teluk kecam serangan Houthi karena melanggar kesucian Mekkah






Komentar (0)