Lembaga Konservasi Lembah Hijau di Kota Bandar Lampung, Lampung, menjadi salah satu pusat konservasi eksitu yang telah berhasil mengembangbiakkan berbagai jenis satwa dilindungi. Di balik keberhasilan itu, ada komitmen kuat dari pendiri, dukungan tim dokter hewan, serta peran para penjaga satwa yang sebagian besar merupakan anak-anak muda atau Gen Z.
”Puspa, Muli,” ujar Agung Irawan (26) berteriak dari balik pagar kandang saat memanggil dua anak harimau Sumatera yang dirawat di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Jumat (23/10/2026).
Dua anak harimau yang mengenali suara Agung berjalan perlahan dari dalam kandang kecil. Dua harimau betina yang berusia delapan bulan itu lantas berteduh di bawah pohon, berupaya menghindar dari terik matahari.
Agung sudah bekerja di Lembaga Konservasi Lembah Hijau sejak tahun 2017. Selama enam tahun, Agung bertugas sebagai penjaga satwa di kandang burung.
Sejak dua tahun terakhir, Agung diberi tanggung jawab yang lebih besar, yaitu merawat lima harimau yang ada di lembaga konservasi tersebut. Tugas itu dia terima dengan penuh tanggung jawab.
Setiap pagi, Agung membersihkan kandang harimau serta mengecek kondisi satwa itu dari balik kandang atau kamera pemantau. Selama musim kemarau, Agung harus sering-sering menengok kondisi harimau di kandang. Dia harus memastikan kebutuhan air minum harimau tersedia setiap saat agar satwa dilindungi itu tidak kehausan.
Apalagi, terik matahari begitu menyengat selama kemarau. Harimau tentu membutuhkan lebih banyak air minum. ”Air minum diisi ulang tiga kali setiap hari, kebutuhan air minum sekitar 25 liter untuk setiap ekor harimau,” ucap Agung.
Menjelang sore, Agung mulai menyiapkan pakan untuk satwa. Setiap harimau mendapat pakan berbeda-beda, bergantung pada ukuran bobotnya. ”Satu ekor harimau mendapat jatah pakan sekitar tujuh kilogram berupa daging ayam atau sapi. Kesehatan harimau juga dipantau oleh tim dokter hewan. Selain pakan, satwa juga mendapat suplemen tambahan untuk menjaga daya tahan tubuhnya,” katanya.
Agung menceritakan, dia mendaftar sebagai penjaga satwa sejak lulus dari sekolah menengah atas. Meski awalnya hanya coba-coba, Agung ternyata betah dan masih setia bekerja sebagai penjaga satwa sampai hari ini.
Selama sembilan tahun bekerja di sana, Agung mengatakan tidak pernah mengalami insiden kecelakaan kerja. Sebagai penjaga satwa, Agung juga patuh terhadap prosedur operasional standar saat bekerja karena memahami risiko dari pekerjaannya.
Selama merawat harimau, misalnya, Agung menghindari interaksi langsung dengan harimau, terutama dengan induk harimau. Aktivitas mulai dari memberi makanan hingga minuman dilakukan dari luar pagar kandang.
Adapun pemantauan aktivitas harimau dilakukan melalui kamera pemantau selama 24 jam. Aktivitas pemeriksaan kesehatan harimau juga dilakukan dengan pendampingan tim dokter hewan.
M Dava Alfarizi (25) juga mencoba menapaki jalan sebagai penjaga satwa di Lembaga Konservasi Lembah Hijau sejak tahun 2023. Pekerjaan itu dia ambil setelah beberapa bulan menganggur.
Dava sebenarnya lulusan SMK jurusan perhotelan. Sebelum bekerja sebagai penjaga satwa, Dava pernah magang di beberapa hotel di Bandar Lampung. Setelah kontrak kerjanya habis, Dava akhirnya mendapat informasi lowongan pekerjaan sebagai penjaga satwa di LK Lembah Hijau.
Sebelum ditugaskan menjaga kandang primata, Dava mendapat pelatihan selama tiga hari. Para penjaga satwa dilatih cara memberi makan satwa, membersihkan kandang, serta mengenali tanda-tanda satwa yang sedang sakit.
Dava mengungkapkan, dia pernah terkena cakaran siamang saat hendak memberi makan. ”Waktu itu saya lengah jadi terkena cakar di bagian tangan. Untung tidak parah, hanya luka lecet dan langsung berobat,” ujarnya.
Sebagai penjaga satwa, Dava menyadari bahwa diserang satwa merupakan risiko terbesar saat sedang bekerja di dalam kandang. Karena itu, Dava dan para penjaga satwa lainnya dituntut siaga setiap saat.
Saat ini, dia mengaku sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai jenis primata, seperti lutung, owa, dan siamang. Setiap pagi, Dava akan memberi makan satwa-satwa itu dengan berbagai jenis buah-buahan, seperti pepaya dan pisang. Primata juga biasanya mendapat asupan makanan sayuran dan daun-daunan yang bisa dicari di sekitar kandang lembaga konservasi tersebut.
”Awalnya, saya memang belum terbiasa, tapi sampai sekarang saya mulai betah bekerja di sini,” ucapnya.
Adapun Jamudin (25), anak muda yang menjadi penjaga burung, mengatakan, dia senang menjalani pekerjaannya. Selain bisa mengenal berbagai jenis burung dilindungi, Jamudin juga sering kali melayani pengunjung, terutama anak-anak, yang ingin berfoto bersama berbagai koleksi burung yang ada di sana. Kesempatan itu juga dia gunakan untuk mengenalkan keanekaragaman burung yang ada di Indonesia.
Manajer Taman Satwa Lembah Hijau Rasyid Ibransyah mengatakan, pengelola lembaga konservasi memang menghadapi tantangan yang cukup berat dalam menjaga satwa selama musim kemarau. Cuaca terik yang sudah berlangsung berbulan-bulan membuat tanaman di sekitar kandang satwa rawan mengering. Karena itu, petugas harus sering-sering membasahi rumput dengan air agar lingkungan yang menjadi tempat tinggal satwa tetap hijau.
Kandang satwa di Lembah Hijau memang dirancang seperti habitat asli satwa di alam. Saat Kompas berkunjung pada Jumat (23/10/2026) siang, suasana menuju area kandang dipenuhi tanaman dan pohon-pohon besar.
Rimbun berbagai jenis pohon, seperti merbau, tangkil, durian, dan rambutan, membuat suasana terasa sejuk dan segar. Bunyi tonggeret terdengar seakan berada di tengah hutan. Suara berbagai jenis satwa, seperti siamang dan burung terdengar nyaring memecah kesunyian di taman satwa itu.
Area kandang dibuat terbuka dengan pohon-pohon besar seperti kondisi di alam. Untuk melindungi agar satwa tidak keluar kandang, pengelola membuat kanal atau siring yang cukup besar. Selain itu, dibuat juga pagar pembatas antara kandang dan area pengunjung.
Kandang yang dibuat terbuka itu membuat pengunjung dapat melihat berbagai satwa dengan mudah. Satwa-satwa itu juga merasa seperti berada di alam bebas.
Rasyid menambahkan, kebutuhan minum satwa meningkat selama kemarau. Karena itu, petugas satwa harus rutin mengecek ketersediaan air minum di kandang agar dan memastikan satwa tidak kehausan. Demikian juga dengan pengelolaan makanan untuk satwa. Jika diabaikan, satwa juga berisiko mati akibat dehidrasi.
”Selama musim kemarau ini, kami harus perbanyak buah-buahan yang mengandung air, seperti semangka dan pepaya. Vitamin juga diberikan rutin setiap beberapa pekan,” ucapnya.
Menurut Rasyid, pasokan makanan untuk satwa di Lembah Hijau didapat dari kebun pakan yang dikelola secara mandiri. Selain itu, pengelola juga membeli buah-buahan dan sayuran dari petani yang ada di lembaga konservasi tersebut.
Sejak berdiri pada 2007 dan mendapat izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai taman satwa/lembaga konservasi pada 2010, LK Lembah Hijau telah berhasil membiakkan berbagai satwa langka secara eksitu. Satwa dilindungi, seperti gajah, harimau, beruang madu, siamang, dan kakatua, lahir di kebun binatang tersebut.
Keberhasilan program pembiakan di Taman Satwa Lembah Hijau tahun lalu ditandai dengan kelahiran dua bayi beruang madu pada 4 April 2023. Bayi beruang madu itu merupakan hasil perkawinan dua indukan yang berasal dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melalui Seksi Konservasi Wilayah III Lampung.
Pada 7 Juli 2022, seekor bayi gajah sumatera berjenis kelamin jantan juga lahir di kebun binatang itu. Kelahiran bayi gajah ini merupakan yang pertama di Sumatera, yang lahir di lembaga konservasi eksitu.
Pada 14 Februari 2026, dua bayi harimau Sumatera lahir di Lembah Hijau. Kelahiran dua anak harimau itu istimewa karena lahir dari pasangan induk Sinta dan Kiai Batua.
Keduanya merupakan harimau korban jerat pemburu liar yang dievakuasi ke lembaga konservasi tersebut. Sinta merupakan harimau yang dievakuasi dari wilayah Bengkulu pada Desember 2024. Dia kehilangan separuh kaki kanan bagian belakang akibat terkena jerat.
Pada 5 Juni 2026, seekor bayi gajah sumatera kembali lahir di Taman Satwa Lembah Hijau. Kelahiran bayi gajah ini memperkuat keberhasilan konservasi eksitu atau di luar habitat aslinya.
Saat ini, terdapat sekitar 700 satwa yang dirawat di kebun binatang itu. Dari 77 jenis satwa yang ada, 49 jenis adalah satwa dilindungi, sementara 28 jenis satwa lainnya tidak dilindungi.
Komisaris Utama Taman Wisata dan Taman Satwa Lembah Hijau M Irwan Nasution menuturkan, keberhasilan pembiakan di lembaga konservasi itu berkat kerja sama dan dukungan semua pihak. keberhasilan konservasi itu memberi harapan bagi upaya pelestarian harimau yang termasuk dalam daftar satwa terancam punah di Indonesia.
Menurut dia, kelahiran anak harimau ini menjadi bukti bahwa kondisi induk yang cacat permanen tidak mengganggu upaya pengembangbiakan secara eksitu. Kelahiran anak harimau secara eksitu ini juga menjadi pertama kali di Lampung.
”Kehadiran kedua anak harimau tersebut memiliki makna istimewa karena lahir dari pasangan induk yang sama-sama penyintas jerat dan mengalami cacat permanen. Kelahiran anak harimau ini juga menjadi penyemangat bagi semua pihak untuk terus memperkuat upaya konservasi satwa yang terancam punah,” kata Irwan.
Lembaga Konservasi Lembah Hijau berkomitmen untuk terus menjalankan program konservasi secara lebih optimal serta mendukung upaya pemerintah dalam pelestarian satwa secara eksitu. Di balik keberhasilan itu, ada komitmen kuat dari pendiri, dukungan tim dokter hewan, serta peran para penjaga satwa yang sebagian besar merupakan anak-anak muda.






Komentar (0)