Jakarta, VIVA – Membalas email spam yang mencurigakan ternyata bisa menjadi langkah awal bagi penipu untuk membidik korban berikutnya. Tanpa disadari, balasan sederhana dapat mengonfirmasi bahwa alamat email masih aktif, sehingga berpotensi menjadi sasaran pesan spam dan penipuan lanjutan. Risikonya bisa lebih besar jika penerima mengeklik tautan atau membuka lampiran yang ternyata mengandung perangkat lunak berbahaya.
Masalahnya, email penipuan tidak selalu terlihat mencurigakan. Pelaku bisa menyamarkan pesan seolah-olah berasal dari perusahaan resmi, bank, atau layanan pengiriman paket. Jika terkecoh, pengguna berisiko menyerahkan kata sandi, informasi kartu kredit, hingga data pribadi kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dikutip dari Reader’s Digest, dampak berinteraksi dengan email spam bergantung pada jenis pesan dan tindakan penerima. Karena itu, mengenali tanda-tanda penipuan dan mengetahui tindakan yang perlu dihindari menjadi langkah penting untuk melindungi akun, perangkat, serta informasi pribadi.
Jason Hong, profesor di CyLab Security and Privacy Institute, Carnegie Mellon University, menjelaskan bahwa konsekuensi berinteraksi dengan email spam dapat berbeda-beda. Namun, membalas pesan yang tidak diinginkan saja sudah bisa memberikan informasi kepada pengirim bahwa alamat email tersebut masih digunakan.
Fabian Wosar, Chief Revenue Officer di Emsisoft, menjelaskan bahwa konfirmasi tersebut dapat membuat alamat email masuk ke daftar sasaran kampanye spam atau penipuan berikutnya. Pelaku tidak harus langsung mengirim balasan untuk memanfaatkan informasi itu.
Klik Tautan Email Spam Bisa Berujung Pencurian Data
Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah phishing, yaitu upaya menipu pengguna agar menyerahkan informasi sensitif melalui pesan atau situs palsu.
Tautan dalam email spam bisa mengarahkan penerima ke halaman yang meniru tampilan situs resmi. Nama perusahaan, logo, hingga desain halaman dapat dibuat sedemikian rupa agar korban tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengakses situs tiruan.
Jamie Cambell, pakar keamanan siber sekaligus pendiri gobestvpn.com, menjelaskan bahwa situs palsu tersebut dapat digunakan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang dimasukkan pengguna.
Data yang berisiko dicuri meliputi nama pengguna, kata sandi, informasi pribadi, detail kartu kredit, hingga nomor transaksi. Informasi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk melakukan penipuan atau mengakses akun korban.






Komentar (0)