Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sejak Rabu (21/10) malam. Ratusan relawan dari Masyarakat Peduli Api (MPA), Kelompok Tani Hutan (KTH), hingga Paguyuban Silihwangi Majakuning berjibaku menerjang medan ekstrem demi memadamkan kobaran api.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arip, mengungkapkan api sempat berpotensi meluas ke Gunung Dulang. Jika tak segera disekat, titik api dikhawatirkan merambat hingga Puncak Ciremai serta masuk ke Zona Klimba dan Zona Inti yang sangat sulit dipadamkan.
"Maka kita berinisiatif membagi dua tim pada Kamis pagi. Tim pertama bertahan di Arca dipimpin Pak Olan, dan tim BSB saya pimpin sendiri bersama tim Pak Dodo dan kawan-kawan dari Padabeunghar serta Bantaragung," ujar Nandar, dikutip Minggu (25/10).
Melihat ancaman yang makin besar, jumlah personel gabungan terus bertambah hingga mencapai sekitar 150 relawan dari berbagai elemen KTH pada Kamis pagi.
Mereka berinisiatif mendirikan pos pemantauan di BSB untuk merancang strategi penyekatan api di titik tertinggi Gunung Dulang.
Tembus Tebing dan LembahStrategi khusus pun diterapkan mengingat tidak semua relawan bisa menembus jalur ekstrem Gunung Dulang. Sebanyak 10 relawan terpilih yang memiliki fisik prima dan pengalaman mendaki diturunkan secara khusus untuk memimpin penyekatan di garis terdepan.
Nandar menjelaskan, proses pemadaman di area tersebut sama sekali tidak bisa mengandalkan mesin penyemprot atau jet shooter karena keterbatasan akses air dan medan yang terjal.
"Lokasinya rata-rata jauh dari titik air dan jalur kendaraan roda empat. Ke area Gunung Sundul tidak bisa bawa jet shooter karena beban berat dan harus melewati tebing serta lembah," kata Nandar.
Para relawan akhirnya menerapkan metode manual dengan membuat ilaran atau sekatan bakar, lalu memukul titik api (gepuk api) secara langsung saat kondisi memungkinkan.
Berkat kegigihan tim, area Gunung Dulang di sekitar BSB berhasil dikendalikan pada Jumat (23/10) pagi.
Taktik Pemadaman Malam HariMeski area BSB sempat kondusif, kobaran api justru bergeser dan membesar di wilayah Gunung Sundul, Karangdinding, dan Arca pada Jumat sore.
Menghadapi situasi darurat ini, para relawan mengambil keputusan berani untuk melancarkan aksi pemadaman pada malam hari.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil manis. Tim yang bergerak dari Bantar Agung dan Benghar berhasil membersihkan titik api di Gunung Jugul pada pukul 23.00 WIB. Sementara itu, tim Kidang Ncono dan Sapu Jagad sebanyak 32 orang yang bertolak ke Karangdinding sukses memadamkan api sepenuhnya pada pukul 01.00 WIB dini hari.
"Alhamdulillah, api di jam 2 pagi sudah tidak terlihat berdasarkan pantauan visual saya. Saya langsung melapor ke Pak Kalak BPBD dan Pak Kabal TNGC lewat pesan WhatsApp bahwa situasi sudah aman," tutur Nandar.
Keberhasilan memadamkan karhutla Ciremai ini merupakan buah dari sinergi lintas sektoral, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Balai TNGC, hingga puluhan KTH dan organisasi pencinta alam. Lebih dari 300 anggota paguyuban dikerahkan dan rela menginap selama tiga hari tiga malam di tengah hutan.
Kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) pada Kamis (22/10) di lokasi juga membawa angin segar bagi para petugas dan relawan di lapangan.
Menurut Nandar, perhatian dari Gubernur sebagai pimpinan daerah memberikan suntikan moral yang sangat berarti bagi anggota yang bertaruh nyawa di garis depan.
"Ini memberi motivasi untuk anggota agar lebih semangat menjaga hutannya. Pimpinannya saja sudah sangat peduli, tentu anak-anaknya harus jauh lebih peduli lagi," ungkapnya.
Minta APH Tindak Tegas PelakuTerkait pemicu kebakaran, Nandar meyakini ada unsur kelalaian maupun kesengajaan manusia (human error) di balik tragedi ini.
Mengacu pada berbagai literatur ilmiah yang dibacanya, persentase kebakaran yang dipicu oleh faktor murni alam sangatlah kecil.
Nandar mendukung penuh Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mengusut tuntas peristiwa ini secara transparan guna memberikan efek jera kepada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Penyebab dari faktor alam itu persentasenya kecil sekali, 99 persen disebabkan oleh kelalaian atau kesengajaan manusia. Ini merupakan perbuatan keji karena merusak alam, merusak ciptaan Allah, serta merusak sumber oksigen dan air bagi masyarakat," tegas Nandar.
Ia berharap peristiwa ini menjadi kebakaran terakhir yang menerjang kawasan Gunung Ciremai dan mengajak seluruh pihak untuk terus merawat warisan alam tersebut.






Komentar (0)